
"Mas siapanya pasien?" Tanya dokter
"Saudara dari suaminya Dok."
"Kemungkinan besok Mba Nabila boleh pulang, dan setiap minggu bisa berobat jalan."
"Oh siap dok, terimakasih informasinya."
"Dan untuk masalah administrasi silahkan ke loket admin yah? Nanti ada perawat yang arahkan Mas-nya, sekalian ini ada beberapa obat yang harus diambil." Dokter memberikan selembar kertas resep, Ale sedikit bingung kemana ia menebus obat-obatnya.
"Mas, ikuti saya yah?" Ucap Perawat.
Ale mengikut arahan sang perawat, sambil membawa selembar kertas di tangannya.
"Silahkan mas bisa ambil obatnya di sana."
Ale berusaha menghubungi Ozi, tetapi tidak juga diangkat.
"Gilaaaa, kemana sih nih orang, istrinya yang sakit, gw yang repot." Ale terlihat kesal, berkali-kali menghubungi Ozi tak juga diangkat, Ale berada di belakang orang yang ikut antri juga. Kini giliran dirinya, untuk mengambil obat-obat yang mesti ditebusnya.
"Ini obatnya mas, semua total untuk obat Enam Ratus Dua Puluh Lima Ribu." Ucap kasir apotik klinik.
"Mampus, gw nggak bawa uang cash lagi." Ucapanya.
"Bagaimana Mas? Total semuanya Enam Ratus Dua Puluh Lima Ribu."
"Mmmm....bisa debit nggak Mba?"
"Bisa,..."
Ale memberikan kartu ATM nya, sambil menunggu transaksi, ia mencoba menghubungi Ozi kembali.
"Kacaaaaaaaau nih orang, malah handphone nya dimatiin."
Selagi kesal melihat tingkah Ozi, Ale terkejut ketika kasir apotik memberikan kartu ATM-nya.
"Ini kartunya Mas..."
"Iiii...iya Mba, makasih yah?"
"Sama-sama."
Ale langsung menuju kamar Nabila, dan memberikan obat yang baru saja ia tebus.
"Bil, ini obatnya yah? Kemungkinan elo besok bisa pulang." Memang seperti itu gaya Ale ketika komunikasi dengan lawan jenis, ia terlihat kaku dan kasar.
"Kak Ozinya dimana Bang Ale?"
"Lagi cari uang untuk besok bawa lo balik."
"Ya Allah, kasian banget...Biayanya mahal ya Bang?"
"Eggggh....lumayan Bil." Jawab Ale gugup.
"Semoga Allah mudahkan urusan Kak Ozi, dan dilancarkan rezekinya."
"Amin Bil...Gw nunggu di luar lagi ya? Takut Ozi nyariin.."
"Iya Bang, terimakasih ya udah mau bantuin Bang Ozi dan Nabila."
"Sama-sama cuy."
Ale segera meninggalkan ruangan Nabila, ia menyembunyikan kekesalannya, dan aib Ozi yang Nabila tidak ketahui.
"Goblooook itu orang, punya istri bae kaya gitu, masih aja deketin si Dhea, udah tau calon istri orang." Makin kesal Ale ketika mengingat kejadian beberapa malam lalu, ketika Ozi ketahuan Ale memiliki hubungan lain dengan Dhea.
_________________________________ oOo _________________________________
Ozi akhirnya bertemu Dhea ditempat yang mereka pernah singgahi, dan entah apa yang mereka lakukan di kamar hotel. Ozi merasa risih dengan suara handphone nya saat ia liat di LCD muncul nama Ale.
"Ada apa siih?" Ale langsung menkan tombol di sisi handphone dan mematikannya.
"Siapa yank?" Tanya Dhea.
"Biasa si Ale."
"Ada apa?"
"Nggak tahu mau apa, aku belum jawab teleponnya, lagi nanggung begini kan..."
"Yaudah sabar, mungkin ada yang mau dibicarakan dan penting."
"Nanti aja, biar nanti aku temui dia."
"Oh yaudah, naggung juga kaaaaan..." Canda Dhea sambil memeluk Ozi.
Disaat tengah asik dengan Ozi, suara handphone Dhea berbunyi,"sssst, kamu diem dulu, Jo telepon aku."
"Iya..."
Dhea mengangkat telepon dari Jonathan, " Iya Bee, ada apa?"
"Kamu dimana?'
"Aku lagi disuruh Mamah anter makanan ke tante Nani."
"Oooh, kirain lagi dimana."
"Aku Video Call kamu kok nggak diangkat?"
"Yaudah ati-ati, jangan pergi jauh-jauh. Inget yah, pernikahan kita tinggal menghitung hari aja."
"Iya Bee...nggak jauh-jauh kok. Kamu juga semoga usahanya lancar, dan pernikahan kita juga lancar."
"Amin...Love You....Bye."
"Love You Too...Babaaaye..."
Cukup lihai Dhea memainkan peranannya, dan seakan sudah terbiasa ia lakukan.
"Maaf ya Yaank...nggak enak kalo aku nggak angkat nanti dia curiga."
"Iya nggak apa, udah biasa juga kan."
"Kok gitu sih ngomongnya, kamu tau lah posisi aku bagaimana. Kenapa yah? Setiap kali ngomongin Jonathan atau dia telepon kamu bawaanya kesel terus?"
"Wajarlah hati aku bukan dari besi, yang bisa kuat nahan cemburu, kamu juga tahu bagaimana cara Jo merebut kamu dari aku, mau nggak mau aku jalanin hubungan seperti ini sama kamu."
"Pembahasan kita pasti akan mentok dimasalah keyakinan, dari awal juga aku udah cerita, kita sama-sama kuat dan tidak bisa meninggalkan kepercayaan masing-masing kan."
"Iyaaa...iya."
"Udahlah, kalo kita lagi berdua jangan bahas yang lain, nikmatin aja semuanya." Dhea kembali memeluk Ozi dan mencium bibirnya, dan meraka larut dalam suasana jingga di kamar hotel.
______________________________ oOo _________________________________
Ale masih duduk termangu sambil menghisap rokoknya, hari ini ia masih ada satu meeting yang harusnya ia jalankan, tetapi Ale dilema, jika ia tinggalkan Nabila seorang diri khawatir jika apa yang baru saja Ale alami, dipanggil dokterlah, urus ini dan itu, tak ada yang bisa mengurusnya nanti.
"Maaf mas, kaya nya meeting hari ini di-reschedule yah? Saya ada keluarga yang sakit dan harus nemenin dia." Ucap Ale kepada client-nya via handphone.
"Oh iya Mas Ale, nggak apa kok, namanya musibah Mas, kami juga maklum. Oke nggak apa di-reschedule sampai urusan Mas Ale selesai."
"Terimakasih ya Mas..." Tutup Ale.
Ale termenung kembali dan tidak tahu harus berbuat apa untuk hadapi si Ozi, kalau bukan karena kemanusiaan dan hati nurani, mungkin ia lebih baik meeting dengan client yang jelas-jelas uang di depan mata.
"Semoga aja jadi catatan amal kebaikan untuk gw yang pendosa ini." Ucap Ale sambil menghibur diri.
Empat jam lebih Ozi pergi meninggalkan Klinik, tak juga nampak batang-hidungnya, diantara emosi dan amarah yang terpendam, ia berusaha menenangkan pikirannya.
"Woooooooi bengong ajaaaaa!" Suara Ozi mengejutkan Ale.
"Kampreeeet lo, emang nggak punya otak apa ya? Istri lo lagi sakit, maen tinggal-tinggal aja. "
"Aduuuh sabar bro, jangan marah-marah gitu, ini buktinya gw udah balik kan?"
"Mana hasilnya? Nih, nota obat yang gw tebus tadi." Ale memberikan Nota itu, bukti pembayaran obat yang ia sudah tebus.
"Gilaaa mahal amaaat?!"
"Ya Allaaaah, ini orang bagus gw tebusin obatnya, pake ngomong gila segala."
"Yaudah nanti gw transfer."
"Asal loh tau, ini biaya belum seberapa. Besok istri lo udah boleh balik dan keadaanya sudah membaik."
"Seriius loh?"
"Serius lah, nggak ada untungnya juga gw bohong sama elo."
Ozi bingung dan tidak tahu lagi harus mencari uang darimana, " Le, produksi prewedding Dhea kemaren DP udah dibayarkan? Sisanya kapan?"
"Sisanyaaaa, kalo edit foto dan video selesai."
"Kita nggak bisa minta dulu ya Bro?"
"Bisa aja, kan elo deket sama si Dhea bukan?"
"Nggak gitu juga brooo.... lo kan tahu semua juga bagaimana si Jo."
"Yaudah lo tinggal ngomong sama Dhea, supaya Jo bisa cairin uang pelunasannya."
"Heeem....gw coba deh..."
Ozi mulai nampak kebingungan, melihat nota obat yang ditebus Ale aja ia kaget, " ini baru obatnya, bagaimana harus bayar biaya pengobatannya ya?" Gumam Ozi dalam hati, mencari jalan untuk melunasi biaya berobat Nabila.
"Gw balik dulu, mana konci mobil gw?" Tanya Ale.
"Nih, terimakasih ya Bro."
"Hemmm......." Dengan wajah kecewa dan letih, Ale meninggalkan Ozi.
Ale kembali kecewa saat ia menyalakan mobilnya, " si kampreeeeeeeeeeet, bensin gw nggak di isi, sampe habis begini!"
Bersambung >>>