Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Lalu Untuk Apa Tuhan Ciptakan Hati?


"Pergilah yank, raih semua impian kamu. Aku disini hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu. Dan kamu pun tahu,kita sakit dengan semua ini, dan berdusta pada keadaan."


"Udah yah bahas yang lain saja, jangan kita sesali keadaan yang sudah terjadi. Yang penting kita jalani saja semua ini. Kita nggak tau juga kan yank, apa yang Tuhan kehendaki untuk kita, dan kamu lebih paham itu, bukan begitu pak Ustadz Fahrurrozi?Ha-ha."


Suasana pun kembali mencair, setelah pembahasan yang baru kali ini tampak begitu seriusnya.


"Ah kamu bisa aja."


"Aku baru tau kemarin, ternyata nama kamu Fahrurrozi. Jujur, aku bangga sama kamu. Dan benar-benar pria idaman banget. Andai kita disatukan Tuhan, aku mau di kamar pengantin ku ada tulip, sepasang merpati dan konsep preweding dengan suasan desa. Eh kamu bisa juga kan yah? Buat video sinema begitu?! Seru juga kalau di acara pernikahan ada pemutaran film, proses pertemuan sampai Tuhan jodohkan kita.Ha-ha, bermimpilah selagi mimpi itu gratis."


"Insyallah bisa lah aku buat konsep pernikahan seperti apa yang kamu sebut tadi. Ngomong-ngomong aku pulang yah? Sudah malam."


"Yowis, btw kamu bawa mobil?"


" Iya, lagi males aja pakai motor."


"Gayaaaa...ok yah yank, sampai ketemu esok atau lusa...sukses untuk kamu dan pesantrenmu itu."


"Sama-sama yank..sukses juga untuk profesi dan cita-cita yang kamu harapkan. Assalamu'alikum, aku pamit."


"Salom juga yank, hati-hati di jalan."


Onci pun pergi dengan meninggalkan kesedihan dan perasaan cemas, yang entah apa Tuhan ingin kan atas jalan hidupnya.


________________¤¤¤_______________


Dirumah, abah dan umi seperti biasa menikmati malam istirahat berdua, hampir tiga puluh tahun mereka jalanin keseharian seperti itu. Seakan menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan, seolah sehabis Isya itu, abah siapkan waktu untuk umi.


Sekali pun abah sibuk, umi selalu diikut sertakan. Kecuali jika umi benar-benar malas ke luar rumah, atau merasa letih seharian mengurusi yayasan. Sebab umilah sebagai bendahara umum di yayasan.


Hebatnya umi, walau ia letih tetapi sadar dengan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu. Tidak lantaran letih, dijadikan alasan untuk tidak melayani suami dengan baik. Kecuali kalau umi benar-benar dalam kondisi kurang sehat.


Islam tidak melarang istri berkarir, hanya saja yang terkadang seorang istri sibuk dengan karirnya, tetapi melupakan kodratnya sebagai perempuan seutuhnya, dan ada juga istri yang tidak mampu menahan godaan hingga selingkuh dengan teman sekantor, mitra kerja dan lain sebagainya. Begitu juga, jangan merasa memiliki penghasilan yang lebih besar dari suaminya, menyinggung perasaan suami, bahkan merendahkannya. Itulah yang menjadi alasan dan diharamkan juga wanita menitih karir, dikhawatirkan apa yang tak diharapan itu terjadi.


Dan untuk suami, jika istri kita bekerja janganlah berpangku tangan malas untuk berusaha dan berupaya. Bantulah meringankan tugas istri, mendidik anak, merapihkan rumah dan apa pun yang istri lakukan dalam kesehari-harianya.


Kembali ke cerita Onci, baru saja ia masuk ke dalam rumah. Namun sudah dihadang kedua orang tuanya.


"Ozi, sini abah mau bicara."


Rupanya ada hal yang ingin abah sampaikan, dan curhat orang tua kepada anaknya, begitu juga anak ke orang tuanya.


"Iya Bah, ada apa?"


"Bagaimana urusan sama harim ente?"


"Alhamdulillah baik Bah."


Onci menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Bahwa ia sedang mengalami masalah yang baru saja ia hadapi.


Kalau abah sudah berkata seperti itu, semakin bingung Onci jalani semua, bagaimana pun juga, merekalah yang sudah membesarkanku. Dhea hanyalah gadis yang baru saja ia kenal, tetapi meninggalkan jejak cerita yang akan sulit dihapus seumur hidup.


Gadis itu memilih profesinya, rasanya Onci seperti berjuang dan mempertahankanya seorang diri. Nampaknya Dhea sudah memahami bahwa semua tidak bisa ia paksakan. Dhea merasakan letihnya perbedaan, tak terlihat kalau ia benar-benar menginginkanku. Benar apa yang abah katakan, bahwa cinta tak hanya sebatas fisik semata, tetapi jiwa yang melembur jadi satu.


"Iya Bah, Ozi akan denger nasihat abah."


"Lalu kapan abah dan umi kamu bawa untuk mengenal kedua orang tuanya?"


"Mungkin dalam waktu dekat Bah, sekarang Thea lagi sibuk dengan kerjaanya di Malaysia dan Singapur.


"Memangnya dia kerja apa?"


"Eeem, masih kuliah hanya saja sudah semester akhir dan hanya magang kerja aja sih Bah."


"Yasudah, ane tunggu kabar dari ente aja. Dan abah hanya bisa mengarahkan saja. Semua kembali ke ente Zi. Orang tua hanya menginginkan yang baik untuk anaknya."


"Insyallah Ozi akan inget nasihat abah. Maafin Ozi kalau salah dan tak mau dengerin nasehat abah."


"Yaudah istirahat."


"Umi, abah Ozi pamit masuk dulu yah?"


"Nggak mau makan dulu?" tanya umi.


"Tadi sudah makan bareng Dhea mi."


Ia pun meninggalkan abah dan umi, segera masuk kamar. Onci merasakan bukan saja fisik yan letih tetapi beban pikiran.


"Abah cuma mau liat si Ozi nikah dan berdua istrinya ngebesarin sekolahan."


"Iya Bah, semua orang tua juga mau melihat anaknya bahagia. Umi hanya ikutin aja apa yang menjadi keputusan abah dan terbaik untuk Ozi."


"Karena Ozi anak satu-satunya, jadi ane nggak mau lemah ngedidik dia. Sebab tanggung jawab lelaki itu besar mi."


"Umi ngerti banget apa yang abah inginkan untuk Ozi. Semoga aja dia temuin jodohnya yang soleha dan nggak macem-macem."


"Amin." Pandangan abah kosong menatap ke luar jendela.


Di dalam kamar, Onci hanya melamun dan merenung. Lalu tak lama ia masuk ke kamar mandi, dan mengambil air wudhu. Ia tunaikan sholat isya dan sunah witir.


Selepas sholat dan selesai dzikir, lalu ia mengakhirnya dengan doa.


"Ya Allah, sungguh Engkaulah yang maha tahu baik dan buruknya guratan takdir anak manusia. Tak lagi tempat yang pantas untukku berkeluh kesah, kecuali di atas sajadah dan berharap kepada Mu. Berikanlah ketetapan takdir yang baik untukku. Amin."


Bersambung >>>>