Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Beda Tipis Cilok dengan Cinlok


"Untuk apa saya cemburu? Siapa saya?" Ucap Ustadz Burhan membatin, ketika ia melihat Mas Arul dan Nabila cukup akrab berkelakar sebelum memulai pertemuan. Ustadz Burhan sudah kenal sebelumnya dengan Arul, saat ia memenangkan proyek pembangunan gedung kejuruan, atau Aliyah.


Ia juga tahu, kalau Arul itu belum menikah, mungkin ia worker holic hingga lupa untuk menyempurnakan dirinya sebagai lelaki muslim, apa lagi kalau bukan menikah. Sebelumnya, memang terlintas di pikiran Ustadz muda itu, dan sedikit khawatir, kalau ia kenalkan Nabila dengan Arul, pastinya akan ada istilah cinlok, cinta lokasi.


"Ini baru pertemuan pertama, pasti Arul akan lebih intens dengan Nabila." Masih saja batinnya bergemuru dengan ketakutannya.


"Yah, namanya manusia hanya bisa berencana, selebihnya terserah Allah." Ucapan yang dijadikan senjata pamungkas untuk meredam gejolak batinnya.


Kadang Ustadz Burhan, berpura-pura datang ke rumah Abah, dengan beragam alasan, yang jelas alasan yang paling akurat, yah, ingin bertemu Nabila. Kalau orang sudah di mabuk cinta, melihat batang hidungnya saja sudah senang bukan main.


Hampir setiap malam, Ustadz muda yang juga jomblo itu, datang menemui Abah. Sampai Abah menyinggungnya, karena ia merasa ada alasan lain Ustadz Burhan bertemu Abah. Aneh saja, ketika Abah masih aktif di yayasan justru bisa terhitung jari ia datang ke rumah.


"Han, bener alesan ente mau ketemu ane cuma silaturahmi? Nggak ada maksud lain kan?"


"Be...benerlah Bah, nggak ada maksud apa-apa. Kalau dulu kan masih bisa liat Abah di yayasan setiap hari. Sekarang Abah sudah jarang datang..."


"Yaaa kali aja, ada kacang tanah di balik rempeyek." Sindir Abah.


"Udang di balik batu mungkin yang Abah maksud yah?"


"Yaelaaaah ketimbang cuma beda isi aja pake ente bahas Haaan..."


"Ente kalo mau nyeduh kopi langsung aja ke dapur ya? Soalnya Nabila nggak ada di rumah, lagi ada urusan."


"Laaah kemana Bah?"


"Ada urusan Haaan...ente budek apa ya?!"


"Yaaah kali aja Abah tahu kemananya."


"Haaan, ente kira ane asisten pribadinya, yang harus tahu kemana dia pergi!"


"Maaf Baah..."


"Eh, be..te..we...ane denger rumah sakit sudah ada investornya ya?"


"Betewe apa Bah?"


"Bay The Way, ampun Haaaan Be...Te...We aja ente nggak paham, anak muda kurang gaul kali ya?!"


"Ya Allah, kirain mah Be..Te..We apa...! Nah, Abah tahu ada investor darimana?"


"Haaan, si Bila kan tinggal sama ane, jadi dia cerita laaah..."


"Oh iya, insyallah Bah, ada yang mau ikut inves, dari Pengusaha Muslim, Mas Arul Baaah...Abah kenal kok."


"Si Arul, kontraktor itu?"


"Iya Bah....Arul yang dulu bangun gedung Aliyah."


"Baguslah, mungkin si Bila lagi ketemu dia..."


"Ketemu Aruuul maksudnya Bah?"


"Iyaaa ketemuan sama si Arul.Kenapa jadi elu yang kaget Han? Emangnya kalo dia ketemu si Arul salah? Lagi juga, ane tahu betul Nabila siapa, dan ane percaya dia nggak macem-macem. Lagi juga bukan sama Arulnya aja, sama rekan dia yang lain."


"Aaah nggak gitu juga Bah, tadi kan saya nanya, Nabila kemana, itu Abah tahu dia pergi sama Arul."


"Eh Burhan, bagaimana ane nggak tahu, kan dia izin mau kemana-kemananya, selama itu positif yah ane nggak bisa ngelarang juga kan."


"Yaudah Bah, saya pamit ya? Nggak enak udag malem, nanti ganggu istirahat Abah Haji."


"Tuh ente mah gitu, giliran ane bahas si Arul ente minta pamit."


"Aaah bisa aja Abah, nggak ada pikiran itu kok."


"Udah laaaah jangan bohong, ane gini-gini pernah muda juga Haan, jadi tau betul perasaan lelaki kalo udah nyimpen perasaan. Bagi ane itu hal yang wajar dan normal aja, tinggal bagaimana usaha ente deeh....Haha..."


Abah sudah merasakan, ada sesuatu yang Ustadz Burhan sembunyikan.


"Nah kalo itu nya bener, tinggal masih ada yang ente sembunyiin dari ane. Kan Ane udah bilang, kalau ane pernah muda juga."


"Yaudah Bah, saya izin pulang ya?"


"Yaudah, ati-ati, perasaan ane nggak enak. Saran ane, jauhin barang-barang tajam ya?"


"Kenapa memang Baaah?"


"Takut ente pake itu barang untuk yang nggak-nggak....Haha..Ha...Anak muda-anak muda." Abah masih sindir Ustadz Burhan.


"Assalamu'alikum...."


"Wa'laikum salam." Tutup Abah.


Ustadz Burhan pamit dan pergi meninggalkan kediaman Abah, hanya selisih beberapa menit, Nabila kembali ke rumah.


"Assalamu'alaikum..." Suara Nabila mengisi ruang kosong dan kesendirian Abah.


"Wa'alikum salam, eh ente Bila...Baru aja si Burhan pulang dari sini."


"Ngapain Bah?"


"Katanya sih silaturahmi aja, tapi hampir setiap malem ane liat silaturahmi terus."


"Iya Bah...sebelum berangkat, Bila hubungi Ustadz Burhan nggak diangkat-angkat handphonenya. Padahal Nabila mau dia ikut juga."


"Kali aja Hp-nya mati.Bagaimana hasil pertemuannya?"


"Sudah mulai ketahap serius Bah, ada dua orang yang mau gabung untuk investasi di Rumah sakit."


"Baguslah."


"Bah, Nabila bersih-bersih dulu ya?"


"Oh yaudah."


Nabila langsung masuk kamar, seluruh tubuhnya terasa letih, seharian beraktifitas. Sesampainya Ustadz Burhan di rumah, ia lihat di handphonenya, beberapa panggilan dari Nabila yang tak terjawab.


"Masyallah, ane lupa bawa handphone!"


Ia membaca pesan di aplikasi, 'Assalamualikum, Ustadz, malam ini ada pertemuan dengan pihak Mas Arul dan Tim, kalau Ustadz ada waktu kita jalan bareng ketemuan yah? Maaf, acaranya dadakan, dan Bila dapat kabarnya juga dadakan. Wassalam.."


Ia langsung menghubungi Nabila dan meminta maaf, kalau dirinya lupa membawa handphone.


"Assalamu'alikum, Bila, maaf saya lupa bawa handphone, terus bagaimana hasil pertemuannya?"


"Heeem...Wa'alikum Salam, ia nggak apa Ustadz, mereka oke aja sih, dan ada dua investor yang ikut di pengelolaan rumah sakit."


"Alhamdulillah, syukurlah."


"Yowis, aku istirahat dulu ya Stadz?Capek banget."


"Oh iya Bil...Maaf ya..."


"Iya Ustadz nggak apa, jangan dibiasakan ninggalin handphone, sama barang sendiri aja lupa, bagaimana dengan urusan hati ...Hehe..." Canda Nabila.


"Waaah bisa aja kamu Bila."


"Oke Ya, Assalamu'alikum."


"Wa'alikum Salam."


Nabila seakan memberikan angin surga untuknya, atau jangan-jangan Ustadz Burhannya saja yang ke-ge-er-an, dan merasa di atas awan. Setidaknya ucapan Nabila membias rasa cemburunya, untuk sementara waktu, dan ia merasa kalau dirinya lalai, sampai beberapa kali Nabila mencoba menghubunginya.


"Duuh, handphone pake ketinggalan segala, kehilangan moment aja sama Nabila, kalau begini jadinya." Gumam Ustadz Burhan, yang ia nyesal dengan kelalaiannya. Andai saja ia tidak lalai, mungkin Ustadz Burhan bisa berbincang banyak dari hati ke hati.


Bersambung >>>