
Mungkin saja, dengan tantangan yang diberikan Nabila menjadi bentuk sebuah perjuangan bagi Arul untuk bisa meminangnya, dan bukanlah sebuah sayembara untuk bisa mendapatkan hati Nabila.
Entah ada makna apa di balik ke tiga surat yang Nabila pinta untuk pengusaha muda itu hafalkan. Nabila tidak lagi silau dengan jenjang profesi yang Arul miliki, jabatan, akademik, mungkin saja harta. Nabila akan merasa bangga ketika jika memang siapa pun ia, jika ingin mengenalnya lebih jauh, harus bisa menuntaskan ketiga surat itu.
Jika saja Ustadz Burhan masih ingin berjuang mendapatkan hati Nabila, mungkin syarat itu juga yang mesti dipenuhi. Dan ada pertimbangan lain juga, karena Ustadz Burhan sudah termasuk keluarga besar Yayasan.
"Bil, aku mau besuk Ozi, apa ada yang mau kamu titipkan?" Tanya Ustadz Burhan.
"Sebentar Stadz." Nabila menuju sebuah lemari besi tempat ia menyimpan segala berkas dan arsip penting.
"Titip ini ya Stadz untuk Kak Ozi, terimakasih."
Ustadz Burhan tidak tahu apa isi di dalam kemasan yang begitu bagus. Yang ia tahu hanya menyampaikan amanah Nabila. Sesampainya di lembaga pemasyarakatan, dan bawaannya itu diperiksa petugas, barulah Ustadz Burhan tahu, ternyata seperangkat kebutuhan solat untuk Fahrurrozi.
"Assalamu'alikum..." Ustadz Burhan mengucapkan salam.
"Wa'alikum salam." Jawab Ozi yang terlihat lebih tegar dan segar.
"Sehat Zi?"
"Alhamdulillah Stadz, ente bagaimana sehat?"
"Sehat, Alhamdulillah. Oh iya, ini ada titipan dari Nabila." Ustadz Burhan memberikan bingkisan itu kepada Ozi.
"Apa yah?"
"Dibuka aja..."
Ozi tak sabar membukan sebuah kantung yang tertulis nama sebuah toko dalam aksara Bahasa Arab, berwarna hijau.
"Masyallah,..." Ia senang dengan pemberian Nabila, yakni sebuah gamis Turki dan sajadah serta minyak wangi. Dan ia temukan selembar surat.
Assalamu'alikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Semoga selagi Kakak membuka hadiah yang tak seberapa dan membaca surat ini, semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan, taufik dan rahmat Nya atas Kakak. Amin Ya Rabbal'alamin.
Kak, maaf Nabila tidak bisa menemui Kakak di sana, karena Nabila sekarang sudah mulai memikirkan pengembangan Yayasan yang Abah titipkan kepada Nabila. Semoga dengan hadiah ini tanpa mengurangi ta'dzim Nabila kepada Kakak. Bila berharap Kakak selalu sehat, dan Allah tetapkan di hati Kakak iman dan ihsan.
Alhamdulillah Nabila pun sama, disini dalam keadaan sehat wal'afiayat, begitu juga Abah, walau dia tak bisa menjumpai Kakak, tetapi terlihat dalam pancaran mata dan masih menanyakan keadaan Kakak dari Ustadz Burhan masih memberikan tanda, kalau Abah tetaplah seorang bapak yang merindukan putranya.
Insyallah, Yayasan yang kini Nabila kelola menjadi warisan untuk masyarakat, agama dan bangsa. Doakan semoga Yayasan ini terus berkembang hingga akhirnya melahirkan sebuah peradaban yang baik, Nabila akan terus mendo'akan Kak Ozi semoga terus diberikan kekuatan dalam menghadapi sebuah perjalanan hidup. Yang terpenting teruslah basahi bibir dengan sholawat, dzikir dan doa, serta istighfar, maaf bukan menggurui tapi Nabila tak henti-hentinya akan mengingat Kakak, dan Allah bisa mewafatkan kita dalam keadaan Husnul Khatimah.
Hanya ini saja, sepenggal surat yang bisa Nabila sampaikan, sekali lagi maaf belum bisa menjumpai Kakak, atas nama pribadi Nabila memohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya, mungkin ada sikap Nabila, perkataan Nabila, yang menyinggung perasaan Kakak. Semoga Allah senantias meringankan hati untuk mejadi manusia yang mudah memaafkan.
Salam Santun,
Nabila.
Ozi menghela nafas panjang, dan melipat kembali surat yang Nabila kirimkan untuk nya.
"Stadz, bagaimana perkembangan Yayasan?"
"Alhamdulillah, Nabila membawa perkembangan yang baik, kemarin baru aja selesaikan proses administrasi pembangunan Rumah Sakit, beberapa santri dan murid ada yang terpilih untuk pertukaran pelajar di Mesir, Hadral Maut, Arab Saudi dan Brunei."
"Subhanallah, hebat Nabila. Oh iya, kabar Abah bagaimana Stadz?"
"Abah sudah jarang ke Yayasan, dan Haji Romli juga ikut terlibat kelola Yayasan. Hmmm...akhir-akhir ini juga Abah sering sakit-sakitan."
"Insyallah, saya masih terus jaga Abah."
"Nabila sudah dapet pengganti ane Stadz?"
Untuk pertanyaan satu ini, Ustadz Burhan nampak gugup menjelaskannya, karena ia tahu, kalau dirinya menaruh hati kepada Nabila.
"Be...belum, sepengetahuan saya sih Nabila belum memikirkan itu. Dia masih fokus sama Yayasan."
"Masa iya secantik dan sepintar Nabila nggak ada yang mau nikahin dia sih Stadz?!"
"Kalo urusan pribadi Nabila, saya tidak terlalu tahu banyak. Sepenglihatan saya, Nabila masih terus memikirkan Yayasan."
"Semoga saja, ada pria yang beruntung bisa ngedapenin dia, dan lebih baik."
"Amin."
"Salam untuk Nabila dan Abah ya Stadz?"
"Insyallah saya sampaikan."
Ustadz Burhan tak banyak bicara, ia hanya menitipkan apa yang menjadi hak Ozi, dan menyampaikan pesan Nabila.
___________oOo__________
Di ruang keluarga nampak Nabila, Abah dan Haji Romli yang merupakan orang tua Nabila sedang berbincang, mulai dari pembahasan masalah Yayasan, perkembangan proyek, sampai kepada urusan yang menyangkut pribadinya.
"Bila, Abah sudah banyak denger kabar baik bagaimana ente ngelola Yayasan. Dan yang tadi ente cerita, sampai pengembangan Rumah Sakit sudah Bila jalanin semua dengan baik, dengan target penyelesaian yang menurut sepengalaman Abah, paling cepet itu ngerjain bangunan dua sampai tiga lantai itu makan waktu satu, dua tahun, dan Bila mau nyelesain Rumah Sakit hanya enam bulan, apa kekejar?!" Tanya Abah.
"Insyallah Bah, kalau memang semuanya komitmen dan anggaranya memang sudah ada, semua pasti kekejar, yaah, telat-telat delapan bulan Bah. Yang membuat semua lambat itu, kalau investornya memang nggak punya fresh money atau modal yang cukup, itu yang membuat progres berjalan lambat. Kalo Himpunan Pengusaha Muslim, karena sifatnya konsorsium, dan sistem kerja mereka jelas, insyallah untuk membangun gedung 4 lantai itu akan cepat teratasi. Nabila sudah ngecek saldo investasi mereka juga Bah."
"Masyallah, sampe yeeh pemikirian ente ke situ."
"Insyallah semua berjalan lancar, doa dan dukungan dari Abah dan Abi yang akan menyelesaikan ini semua, semoga Allah Ridho."
"Amin."
"Terus, okelah, kalo urusan program Yayasan Bila sudah paham sekarang. Yang jadi pertanyaan kite, berdua. Abah dan Abi ente yang sebentar lagi dijemput malaikat ini, Abah mau tanya sama Bila, apa nggak mau nikah lagi?"
Nabila tertegun dan diam, ia harus merumuskan dan mengatur redaksi setiap kata, rasa bahasa pun menjadi pertimbangan untuk ia tidak asal bicara dalam menghadapi lawan bicaranya, yang tak lain dua lelaki di hadapannya, Abah dan Abi. Terlintas juga di benaknya, wajah Fahrurrozi, Ustadz Burhan dan Mas Arul yang mungkin saja, saat ini ia berjuang menghafal ketiga surat yang ia pinta, kalau masalah Ustadz Burhan, ia tidak utarakan dan bukan untuk konsumsi umum, ia tahu apa dampaknya jika Abah mendengar, kalau Ustadz Burhan pernah mengungkapkan perasaannya.
Bersambung >>>
_______oOo______
Semoga makin semangat ikuti kisah ini yah? Dan ucapan terimakasih untuk para pembaca, dan ikuti terus keseruan ceritanya, bagaimana akhir dari perjalanan cinta dalam Jodoh Pilihan Abah ini.
Terimakasih untuk kamu yang sudah bersedia bergabung di group chat saya, untuk kamu yang juga yang sudah mendonasikan Like, Komen dan Vote serta Give atau hadiah untuk penulis.
Dan dapatkan Give away bagi kamu yang ikuti terus cerita ini sampai akhir. Insyallah penulis akan bagi-bagi hadiah ratusan ribu, t-shirt dan merchendise menarik lainnya.
Salam Hormat,
@emhaalbana