
Nabila hanya diam ketika Ozi pergi pamit untuk bertemu orang yang katanya 'dari Kanwil' memang sang suami sebelum menikah sering berurusan dengan yang namanya KANWIL, biasanya untuk mengurus kebijakan, peraturan, dana Hibah dan program lain yang selaras dengan bidang pendidikan, bahkan Ozi sering menginap beberapa hari untuk sekedar penataran, penyuluhan yang berkenaan dengan program pemerintah.
"Aku nggak punya nyali untuk mencari tau kemana suamiku pergi. Ya Allah, mata ini terbatas pandangan, tubuh ini terbatas ruang, langkah kaki ini terhalang dengan kodrat ku sebagai wanita atau seorang istri, kepada engaku aku serahkan pengawasan ini yang serba terbatas, aku yakin Engkaulah sebaik-baiknya keadilan, pandangan Mu tak terbatas seperti makhluknya, kini aku pasrahkan semua kepada Mu, jaga dia, jaga lelaki yang kini menjadi imam ku. Ingatkan ia jika salah, luruskan langkah kakinya, tetapkan imannya, aku hanyalah wanita lemah yang tak berdaya, Laa Haula Wala Quata illa Billah..."
Disela-sela pembicaraan antara Abah dan Umi, ada yang janggal Nabila dengar.
"Ada rapat dari Kanwil, biasanya orang Kanwil telepon Abah dulu, ini kok nggak ya? Agenda rapatnya Abah juga nggak tau Mi..." Celetuk Abah.
"Mungkin dadakan, udahlah Bah, biar Ozi yang urus, kita sudah nggak perlu dan banyak waktu lagi untuk ikut rapat-rapat seperti dulu, sekarang sudah ada Ozi yang urus semua keperluan yayasan, biarlah Ozi yang berhadapan langsung dengan orang-orang pemda."
"Hmmm...yaudah iya Mi..."
Nabila menemukan dua kejanggalan, sebelum menghadap Abah dan Umi, Nabila melihat Ozi sembunyi-sembunyi menerima telepon, dan dia ke ruangan Abah seolah Abah yang menyuruh Ozi menemui Kanwil, tetapi baru saja Nabila mendegar Abah sendiri tidak tahu menahu ada rapat.
"Ya Allaaah...Jaga Suami ku dari godaan yang merusak rumah tangga kami, engkau yang mempertemukan kami, engkau juga tempat kami memohon perlindungan." Lirih suara hati Nabila.
Nabila mencoba mengalihkan pikiran yang negatif, ia berusaha berpikir positif dengan apa yang suaminya lakukan.
__________________ oOo________________
Suara alunan musik terdengar begitu romantis, menemani pertemuan Dhea dan Onci, walau Onci tahu resiko yang akan dihadapinya jika sampai ketauan pasangan masing-masing, setidaknya ada hati yang terluka.
"Bagiaman kabar kamu?" Dhea membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana? Sebentar lagi jadi penganten ya?"
"Aaaah, kamu jangan bahas-bahas itu yah? Kalo kita lagi berdua, nanti Jonathan kupingnya panas kalo kita omongin. Nikmati aja yang ada sekarang, walau kamu sendiri tau, kalo aku butuh waktu untuk menerima Jo, karena kita berbeda aja, jadi itu yang membuat kita nggak akan bisa bersama."
"Iya aku paham, tetapi ini beresiko Dhea, kamu sudah nggak seperti dulu, yang kemana-mana aman-aman aja sendiri, kamu sebentar lagi milik orang, yang aku jaga itu."
"Itu kan kata kamu, biarlah aku yang atur semua, asal kamu ikuti aba-aba, kan aku yang tau keadaanya, kamu tinggal nunggu callingan dari aku aja."
"Yah terserah kamu Dhea, yang jelas aku khawatirkan itu."
"Cinta kita hanya Tuhan yang tau Yank, mana tau kita berjodoh dikesempatan yang lain. Sekarang biarlah seperti ini adanya dan kita nikmati aja." Jemari Dhea memegang erat jemari Onci, menenangkan kegelisahan pria yang kini tak lagi sendiri.
"Semua akan indah pada waktunya." Tutup Dhea menenangkan hati Onci.
"Yah aku ikuti apa mau kamu aja."
"Senyum dooong...jangan cemberut."
Mereka menikmati suasana, santapan makan siang dan beberapa piring makanan ringan, buah serta minuman.
Dhea mendekat dan duduk berdampingan dengan Onci, semakin erat dia memeluk lelaki yang tidak bisa ia lepas. Namun Onci menyoba larut dalam suasana, walau hatinya berkata lain, ia sadar kalau dirinya sudah tak sendiri lagi.
"Maafkan aku Nabila." Ucap Onci dalam hati, sambil menghela nafas panjang dan mengingat wajah istrinya yang tak tahu apa-apa.
Selagi menikmati suasana, dan Dhea begitu erat memeluk Onci, dari celah pembatas ruangan ia melihat Jonathan dan beberapa orang duduk satu meja dengannya. Dhea terkejut, dan berusaha menenangkan diri serta ia tak ingin Onci tahu, kalau calon suaminya itu berada di tempat yang sama.
"Eeh habis ini ayank mau kemana? Bagaimana kalo kita nonton atau cari suasana yang beda."
"Loh disini kenapa? Kan aman juga."
"Males aja di ruangan, cari tempat lain yuk...?"
"Aduh aku males kalo pindah-pindah tempat."
"Kalo kita ke hotel bagaimana?"
"Hotel? Kamu nggak salah?"
"Nggak lah, mau miliki kamu seharian ini aja...boleh yah?"
"Kalo hotel beresiko juga Yank, ada tempat lain nggak?"
"Udahlaaah hotel aja yaah..yah? Kali ini aja....piiiis...lagi mau sama kamu."
Perang batin, satu sisi Onci lelaki normal yang ia juga butuh sentuhan wanita yang ia cintai ( juga) disisi lain, Onci sadar kalau dirinya sudah memiliki pasangan hidup, wanita solaha yang benar-benar tulus mencintainya.
"Ayolaaah yaaank....Kapan lagi? Sebelum aku nikah, kamu nggak bisa sebebas ini sama aku."
Batinya semakin tergunjang, bimbang memilih, imannya nampak goyah, ia tahu resiko apa yang akan dihadapi, jika Dhea benar-benar merasakan nyaman dalam pelukannya.
Dhea terus merengek dan merayu Onci untuk menerima ajakannya.
"Bener nih kamu nggak mau? Udah nggak sayang yah? Atau sudah ada wanita lain di hati kamu?"
Detak jantung Onci semakin berdebar, darah mengalir kencang di setiap syaraf, terlebih ucapan Dhea yang menganggap dia sudah tak cinta atau ada wanita lain.
"Huuufh....entah apa yang harus aku lakukan. Menerima atau menolak ajakan Dhea, hati ini tak dapat dipungkiri kalau aku masih sayang dia, tapi...ada Nabila yang hatinya tulus mencintaiku."
"Ayolaaaah Yaaaaank,....pliiis ....pindah tempat yuk...?" Dhea terus merayu, membujuk dengan manja.
"Bukannya aku nggak mau Yank, tapi kamu taukan posisi kita."
Onci tak juga mau menerima tawaranya, Dhea langsung to the point.
"Yakin kamu nggak mau ke hotel?"
"Yakin, aku nyaman disini, dan aman juga kan?"
"Ooooh amaan, coba kamu liat ke arah jarum jam 11, dan apa yang kamu liat?"
Onci mengikuti arahan Nabila, dan mengalihkan pandangannya, tepat ke arah jarum jam pukul 11 dan Onci terkejut.
"Beneeeeer amaaan? Yakin masih mau disini?"
"Kok kamu baru bilang,...."
"Mana aku tau, tiba-tiba Jo ada di tempat ini, dan kamu aku ajak nggak mau..."
"Yaudah cari tempat lain deh..."
Mereka menyelinap dan menutupi wajahnya mencari alternatif jalan keluar agar tidak diketahui Jonathan.
"Aku duluan yah? Nanti kita ketemu di basemant, atau nanti kita aku hubungi kamu."
"oke..."
Onci menunggu Nabila keluar, dan mengikuti arahannya.Kini giliran Onci untuk meninggalkan tempat itu, dan tiba-tiba....
Bersambung.....