Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Sebatas Simbol


Kini, tak ada lagi impian itu, seakan pandangan tentang masa yang akan datang sudah begitu gelap baginya. Rupanya kedatangan Dhea menjadi pertemuan untuk terakhir kali.


Rasanya semua hampa, ramai pun sudah tak terdengar lagi bingarnya, sepi. Harapan itu pun terkubur rapat-rapat, nampaknya tak ada lagi celah cahaya, dan jalan satu-satunya menerima apa yang menjadi keputusan abah. Jika ini jodoh terbaik yang abah inginkan, semoga saja dengan ta'at dan patuh kepada orang tua, menjadi jalan keberkahan untuknya.


Lupakan ranjang pengantin yang dipenuhi bunga tulip, lupakan sepasang mertapi putih, dan lupakan semua konsep pernikahan yang Dhea ucapkan, semua sudah tak ada lagi harapan. Sampai sekedar mengantarkan Dhea untuk melepas ia pergi saja sudah tak ada kesempatan.


Gelang itu yang merampas ketulusan cinta, dan simbol itu juga yang menanggalkan sucinya cinta. Hanya karena berbeda, melupakan bahwa kita manusia, yang masih memiliki hati dan air mata yang sama.


"Jika ini jawaban dari doa malam-malamku, aku rela. Dan jika seperti ini jalan keridhoan mu Ya Allah, aku ikhlas." Ucap Onci dalam hati.


Kini ia menanti jawaban yang keluar dari mulut Nabila, yang akan menjadi jalan takdir hidupnya. Yah, walau Nabila sendiri memang cantik, dan pernah membuat Onci terpukau tetapi urusan cinta itu masalah hati.


"Bagaimana Nabila? Urusan Haji Romli biar ane yang akan bicarakan." Abah mendesak Nabila.


Nabila pun terus memandang Onci yang tertunduk seakan ia pasrah dan menerima apa yang menjadi keputusan Nabila. Kali ini ia tidak bisa interverensi hasil keputusan gadis putri satu-satunya Haji Romli, yang juga sahabat abah dari kecil.


"Nabila pribadi siap pak haji, tapi?"


"Tapi apa?"


"Apa arti pernikahan jika tak sama-sama cinta."


Maksud Nabila, ia harus meyakinkan Onci untuk merasakan cinta yang sama.


"Kalau masalah cinta, akan indah saat pernikahan Nabila dan cinta akan tumbuh dengan sendirinya." Ucap umi.


"Ozi bagaimana menurut ente?"


"Ozi terima keputusan abah, dan asal abah Ridho dengan semua." Ia pun sudah tak dapat berkata, dan tunduk dengan keputusan abah.


"Dan ente sendiri bagaimana Bila?"


"Bismillah Pak Haji, Nabila terima."


"Alhamdulillah, besok ane akan temui orang tua ente."


Dan akhirnya Nabila menerima permintaan abah untuk menjadi istri untuk putra satu-satunya itu, Onci.


Tinggal esok abah akan bicarakan itu semua ke orang tua Nabila. Dan Onci pun sudah pasrah dengan keputusan yang abah pilih, dikarenakan ia sudah kecewa dengan apa yang terjadi.


Abah dan umi tak menyangka kalau gadis yang selama ini mereka sudah mantap keyakinannya untuk menikahi Onci dengan Dhea, ternyata? Dari gelang itu semua terjawab siapa sebenarnya gadis yang sudah mencuri perhatian abah dan umi, gadis yang membuat mereka bangga memiliki calon menantu. Kini, nama Dhea seakan hilang dan bisa jadi mereka sudah tak mau lagi kenal serta melihat gadis yang membuat mereka merasa dibohongin.


_________________πŸ™‹β€β™€DheaπŸ™‹β€β™€______________


Di atas awan, ia hanya menatap dari kejauhan dan meninggalkan tanah air. Semakin tinggi, dan menjauh hanya terlihat bentuk seonggak tanah darat. Ia pergi dengan sejuta harapan, ia pergi meninggalkan orang yang tercinta.


"Selamat tinggal tanah air, aku pergi dan akan rindu untuk pulang." Dibalik jendela kabin pesawat.


"Pertama kita ke Malaysia dulu, nanti disana kita tinggal di apartemen, sebagai basecamp. Kamu siapkan fisik dan jaga kesehatan." Ucap pria yang duduk disampingnya.


"Iya Kak, terimakasih."


Perjalanan dari Jakarta ke Kuala Lumpur membutuhkan waktu dua jam lima belas menit. Dhea menghabiskan waktu, bercerita dengan pria yang berada di sampingnya.


"Kuliah kamu bagaimana?"


"Oh, berarti nggak ganggu akademik kamu dong yah?" tanya pria berkulit putih dan wajah oriental itu.


"Aah nggak kok kak."


"Orang tua juga tau aktifitas kamu kan?"


"Taulah Kak, kalau nggak tau mana mungkin aku bisa berangkat."


"Yaah kali aja diem-diem, terus cowo kamu izinin?" pertanyaan yang mulai masuk ke urusan pribadi, sebagai cara mencari tahu kalau Dhea sudah memiliki pacar atau belum.


"Pacar?Heeem,yang deket sih ada Kak, tapi sudah renggang juga sih."


Nah loh?! Resmi kehadiran Onci hanya sebatas teman dekat, dan itu pun sudah renggang hubungannya. .


Mereka pun terus bercerita pengalaman, masalah pribadi sampai akhirnya waktu dua jam itu membuat mereka akrab, dan landing juga urusan masalah hati.


Sesampainya mereka mendarat di Bandara Udara Kuala Lumpur Malaysia, Bandara yang didesign oleh Kisho Kurokawa, Lokasi bangunan terminal didesain dengan menggunakan konsep Bandar Udara di tengah hutan, hutan di dalam Bandara, yang dikelilingi oleh pohon-pohon penghijauan. Konsep ini dilakukan dengan kerjasama dari Institut Penelitian Hutan Malaysia. Keseluruhan hutan hujan ditransplantasikan dari hutan dan diletakkan di tengah-tengah bangunan satelit bandara ini.


Bandara ini didesain untuk menampung hingga 130 juta penumpang per tahun. Selain karena ukurannya, bandara ini didesain agar kepadatan penumpang menyebar ke seluruh penjuru bangunan, dengan tampilan menarik dan tanda-tanda fasilitas yang disediakan dalam bahasa Melayu, bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, bahasa Jepang dan bahasa Arab. Bahkan fasilitas untuk penyandang cacat pun telah sesuai dengan standar dunia.


"Kita langsung ke apartemen yah?" ucap pria yang membawa kurang lebih lima belas orang penari itu, kami pun mengunakan train dan travel yang mengantarkan rombongan langsung sebuah apartement.


"Ok, kalian istrihat dahulu yaah? Mungkin besok kita mulai latihan beberapa hari sebelum event." Dialah Jonathan, EO yang mengatur semua urusan performance mereka, sampai selesainya roadshow atau tour promo untuk menjadi penari latar artis nasional tersebut.


"Tolong waktu istirahatnya diperhatikan, jaga stamina dengan baik, saya yakin kalian adalah orang yang benar-benar profesional yang kami pilih. Dan jaga momen ini dengan baik, semoga saja kami tidak mau mendengar ada yang manja dan alasan sakit." Jonathan mulai memberikan pembekalan dan breafing kecil untuk persiapan dan rencana mereka selama di negeri Jiran Malaysia.


"Sampai disini ada pertanyaan? Dan tolong masuk ke kamar yang sudah disediakan sesuai dengan urutan yang saya berikan kemarin. Dan tolong dengan kesadarannya, jaga kebersihan kamar kalian, atur jadwal piket nya dan jalankan. Kita istirahat dua jam, lalu makan malam, dan breafing untuk perisapan latihan besok, sampai disini paham yaaah?"


"Iya Kaak." Jawab mereka serentak.


Setelah masuk kamar, Dhea pun mulai menghubungi mamah untuk memberikan kabar bahwa ia sudah sampai. Dan ia pun memberi kabar juga Onci walau sekedar WhatsApp namun tak juga ia membalas.


Bersambung >>>


_________⭐⭐⭐⭐⭐________


Para pembaca yang baik...


Terimakasih atas apresiasinya yang sudah mau singgah di karya kami, dengan meninggalkan komentar, Like πŸ‘, Vote serta memberikan penilaian ⭐⭐⭐⭐⭐ serta menjadikan novel ini, novel favorit yang anda baca, dengan menekan ❀.


Dengan begitu kami akan berpikir keras untuk membuat karya yang menghibur.


Jangan lupa juga untuk singgah di novel-novel kami :


πŸ“’ Satu Cinta, Dua Benua


πŸ“’ Ibu, Izinkan Aku Menjadi Pela*ur


πŸ“’ Petaka Youtuber


See you next, in my created....


Thanks A Lot