
Apakah termasuk orang merugi? Jika apa yang kita dapatkan hari ini, sama dengan hari kemarin.
Apakah termasuk orang merugi? Jika apa yang kita lakukan hari ini, sama seperti hari kemarin?
Apakah termasuk orang merugi? Jika hari ini, masih dengan pasangan yang sama?!
Jika hari ini apa yang kita dapatkan, dan lakukan itu sama, bertanda kita termasuk orang yang merugi, karena waktu yang kita miliki, terbuang sia-sia tanpa ada progres dalam hidup.
___________________β€___________________
"Tetapi beruntunglah, mereka yang hari ini, masih mendampingi orang dicintai. Sebab mereka paham, bahwa sesuatu amat berharga ketika ia pergi dan hilang. Jagalah dengan baik apa yang sudah ada dalam genggaman."
__________________β€β€________________
Onci beruntung, pada hari ini masih diberikan kesempatan untuk memiliki orang yang ia sayang, begitu juga Dhea pun beruntung mendapatkan orang yang dengan tulus memilihnya untuk jalanin hidup bersama.
Walau hanya sebatas pacaran saja, setidaknya anugrah terbesar dalam hidup ketika hubungan masih terjalin dengan baik, karena tidaklah mudah untuk menyatukan dua kepala dalam satu ikatan cinta.
Usia Onci dan Dhea cukup terpaut jauh, selisih sebelas tahun lebih muda dengan gadis yang memiliki tinggi tubuh seratus enam puluh sembilan meter itu, dan ideal untuk ukuran tubuhnya wanita Asia.
Dengan selisih usia yang terbilang jauh itu, jika mempertahankan egois masing-masing tidak akan berlanjut sampai saat ini. Salah satu dari mereka harus ada yang saling memahami.
"Siapa juga yang tidak ingin hubungan cintanya bertahan lama, tanpa formalin ya? Pasti semua mengharapkan mendapatkan pasangan hidup yang ia terus menemani kita dalam suka dan duka, kita sepakat yaa? Dibalik pria hebat selalu didampingi oleh wanita hebat bukan?! Ok, satu lagu dari Anji untuk kalian....Kekasih Terhebat." Suara sang vocalis kembali menyanyikan lagu Top 40.
"Lagunya seakan untuk kita yah?" Tanya Dhea manja membuka pemicaraan, selepas meraka menikmati hidangan di cafe Sisil.
"Aku yang beruntung dapat wanita hebat kaya kamu lah Dhea." Keluar juga sisi romantis Onci.
"Yah, sama-sama beruntung aja."
"Aku mau tanya sama kamu, seberapa yakin kamu dengan hubungan ini?" Tanya Onci mencuri kesempatan untuk menjawab rasa penasaran, ia berharap ada waktu yang tepat untuk membahas hal ini. Dan saat itu juga waktu yang diharapkan terjawab.
"Ada yang paling berat dalam hubungan ini, kamu pun tau hal itu amat mendasar yank. Dan kita kekeuh dengan keyakinan masing-masing. Entah siapa yang harus pindah keyakinan? Dan semua itu ada resiko serta konsekwensinya bukan?" Lirih Dhea sambil mengaduk minuman yang ada di hadapnya.
"Yah, aku paham masalah itu! Jika perbedaan dijadikan alasan untuk kita menyatu, lalu untuk apa Tuhan menciptakan hati? Dan aku takut semua apa yang kita jalani, akan sia-sia saja, hingga akhirnya kita kalah dengan keadaan." Kekhawatiran inilah yang Onci takutkan.
"Percayalah yank, kalo memang jodoh kita bisa lalui itu semua." Ucap Dhea menenangkan Onci.
"Kamu belum sembahyang sore hari yah?" Thea mengingatkan Onci untuk solat Ashar.
"Ashar maksud kamu?"
"Oh, sudah ganti namanya yah?"
"Dari zaman Onta makan korma sampe Onta makan roti juga tetep aja sama yaaank..." Onci membalas kelakar Dhea.
"Aku anterin yu? Biar aku tanya Sisil ada dimana tempat sembahyangnya."
"Thanks kamu sudah ingatkan aku."
"Sudah tugas aku sebagai bidadari syurgamu....hahaha..." Lagi-lagi Dhea berkelakar.
Terlihat Sisil begitu sibuknya, menyambut sahabat , orang terdekat dan rekannya yang berdatangan, silih berganti.
'Sil, sorry. Ada tempat sembahyang nggak?"
"Aduh,sorry! Belum kepikiran untuk siapin tempat ibadah. Atau nggak jauh dari sini ada masjid deh," Ucap Sisil sambil menunjukan arah.
"Aku anter yaah?" Pinta Dhea.
"Nggak usah yank, aku bisa sendiri."
"Sekali-kali aku mau ikut, boleh ya?Lagi juga aku BT juga lah." Begitu manjanya Dhea meminta.
"Yaudah, tapi agak lama yah?"
"Iya nggak apa."
Mereka pun berjalan beriringan menelusuri barisan rumah, karena Cafe-nya Sisil memang di teras rumahnya yang sudah direnovasi.
"Kamu mau nunggu dimana?"Tanya Onci.
Dan Thea menujuk sebuah tempat yang cukup sejuk tak jauh dari bibir pintu masjid.
"Aku tunggu disana aja yah?"
"Ok, jangan nakal kamu."
"Yaaank..." Dhea memanggil Onci, sesegera mungkin ia kembali.
"Ada apa?"
"Cuma mau bilang, jangan lupa sebut namaku dalam doa mu."
"Yaaa ampun, kirain ada apa. Iya lah aku akan selipkan nama mu dalam setiap doaku." Onci melempar senyum kepadanya.
"Terimakasih." Ucapnya lembut.
Selepas itu, mata Dhea terus memandang kekasihnya yang begitu khusyu melakukan ibadah, ia perhatikan setiap gerakannya. Hal baru yang ia lihat, apa maksud dari semua gerakan sholat, menjadi pertanyaan bagi Dhea dan ia pun penasaran dengan isi di dalam bangunan yang begitu suci.
Banyak hal kecil ia perhatikan, mulai dari masuk masjid harus melepas alas kaki, sebelum ibadah harus mensucikan diri.
Tak lama kemudian, Onci datang mengusik lamunan Dhea.
"Heey, malah bengong."
"Ada yang mau aku tanyakan ke kamu."
Mereka pun duduk,di kursi taman dipayungi rindangnya pohon.
"Apa yang kamu mau tanyakan?"
"Bagi kamu ibadah itu apa sih?"
Pertanyaan yang cukup menguras pikiran, dan perlu meramu bahasa karena pola pikir sesorang berbeda, terlebih Dhea berbeda keyakinan dengannya, perlu mencari jawaban yang universal.
"Pertanyaan yang cukup berat, dan aku harus menjawab." Gumam Onci dalam hati.
"Yang kamu maksud itu, solat?"
"Iya, yang baru saja kamu lakukan."
"Dalam Islam, sholat memiliki etimologi serangkaian gerakan spiritual yang diawali dengan niat, ruku, sujud, i'tidal dan diakhiri dengan salam, gerakan yang aku maksud itu apa yang kamu lihat." Jelas Onci
"Hanya itu saja? Nggak ada yang lain?"
"Ibadah bagiku, sebagai bentuk kepasrahan, wujud syukur dengan apa yang Tuhan sudah berikan, sebenarnya kita itu yang membutuhkan Tuhan. Disini kita bahas muslim yah? Dan pastinya di keyakinan yang lain pun sama-sama membutuhkan Tuhan, yang membedakannya adalah disiplin ketauhidan atau aturan pemahaman tentang ketuhanan.Ibadah itu untuk kebaikan kita sendiri, tidak bagi Tuhan. Kalo aku sholat atau ibadah, yaah karena aku memang butuh Allah. Itu saja sih yang aku pahami, dengan segala keterbatasan pengetahuan."
"Cukup puas sih dengan jawaban kamu. Lalu mengapa sebelum sholat yah? Namanya, mengapa harus cuci tangan, wajah dan kaki?!"
"Oh itu namannya Wudhu, pada prinsipnya menjaga kesucian. Untuk ketemu kamu aja aku harus bersih, masa ketemu Tuhan aku asal-asalan....hehe..."
"Yank, boleh aku masuk ke dalam?"
"Oh silahkan, ayo aku temani."
Onci pun menjadi guide tour bagi Dhea, untuk sekedar melapas rasa penasarannya. Onci pun menjelaskan satu persatu apa yang membuat Dhea penasaran.
_____________Hi Readersπ_________
Terimakasih sudah mampir ke karya kecil saya, penulis yang masih terus belajar mengembangkan karya. Oh iya, tinggalkan juga jejak komentar dan karya temen-temen semua yah? Biar aku mampir juga.
Jangan lupa :
π Vote
π Share
π Like, dan
π Tanda bintang untuk barometer kami
atas kepuasan temen-temen, serta..
π Jangan lupa juga tekan β€ sebagai bacaan favorit, dan dapat update terus episodenya.
π Dan kunjungi kanal literasi kami.
Terimakasih
_________________________________________