
Hari ini, dimana Nabila mulai memasuki tahap pertama menjelang pernikahan. Sesi pemotretan untuk undangan dan penunjang properti acara pernikahannya nanti, sesi foto dan video.
"Tempat pertama kita ambil di pematang sawah, jalan setapak di tengah sawah. Disitu, nanti Onci gandeng Nabila. Dan posisi elo, di bawah,loh jalan di lumpur ya?" Ale mulai mengarahkan untuk take pic pertama.
"Iya, gw paham,tempatnya dimana?"
"Kita ke daerah Bogor aja yah?"
"Ok."
"Nabila paham sampai disini? Wardrobenya sudah gw siapkan dan ada tim make up nanti."
"Paham kak."
"Senyum doong, kan mau menjelang pernikahan, masa nggak senyum sih?!" sindir Ale.
"Iih apa sih Kak, ini Nabila sudah senyum dari pagi."
"Foto ke dua, kita ambil posisi Onci ngangkat ikan besar di empang dan memberikannya ke Nabila. Jangan lupa pasang senyum dan tawa lepas."
Beberapa sesi foto yang memang Nabila dan Onci harus melakukan senyum serta tawa yang lepas. Bukan hal yang mudah bagi Nabila ia harus menggadaikan itu semua, karena tidak mudah baginya berpura-pura senyum, ini gerbang pertama.
Semakin dekat dengan hari suci itu, hari dimana ribuan malaikat akan bertasbih, bermunajat untuk kedua mempelai. Dan hari dimana langit bergetar ketika lisan itu basah dengan ijab dan qabul.
Yah, lisan yang akan mengucapkan janji setia, bukan hanya untuk menjadi pendamping hidup di dunia, bahkan di akhirat kelak. Justru semakin dekat hari pernikahan, menjadi babak baru bagi drama hidup dan cinta Nabila.
Bagi Nabila, ia mencintai Onci dengan sepenuh hati. Ketika lisan berkata cinta, hati pun siap mengabdi, tidak bagi Onci yang mungkin saja lisannya dapat berkata cinta, tetapi adakah nama Nabila di hatinya? Rabb, Engkaulah pemilik hati, mudah bagi Mu membalikan hati manusia.
Yang semula cinta bisa saja berbalik tak cinta, yang awalnya tidak cinta akan berpaling menjadi cinta. Kini Nabila pun pasrah dengan skenario yang akan terjadi dalam hidupnya.
"Ya Allah, ringankan senyuman dan hati ini untuk kau titipkan amanah cinta, amanah menjadi makmum yang baik. Aku tak sekaya Khadijah, secerdas Aisyah dan setabah Fatimah. Harta yang aku miliki hanyalah ketulusan cinta di atas cinta, kecerdasanku untuk menjadi pelayan suamiku, dan ketabahan hati untuk menerima segala kekurangan yang ada, ajarkan aku untuk ikhlas dan menerima ketentuan ini." Ucap Nabila dalam diam.
Mereka pun menuju sebuah lokasi untuk pemotretan, hari ini ia akan tunaikan sebuah ibadah yang ringan tetapi berat untuknya. Yah, walau hanya tersenyum, tidaklah mudah untuk Nabila yang seakan cintanya disandra oleh drama cinta Onci. Semoga menjadi ladang ibadah dan melatih kesabaran seorang Nabila.
"Kita foto pertama dulu yah, nanti menjelang malam kita foto terakhir untuk metamorfosis cinta atau proses terjawabnya jodoh." Jelas Ale tentang makna yang tersirat dalam setiap foto dan video, hari H-nya akan diputar untuk backdroop dan scene dalam acara.
Konsep ini juga yang akan dipakai dalam prewedding Jonathan dan Dhea nantinya. Mereka pun memakai konsep yang sama dengannya.
"Foto yang kita lakukan ini, bukan sembarang pemotretan tetapi memiliki makna dalam setiap frame nya." Jelas Onci.
"Maksudnya?" tanya Nabila.
"Misal, ketika kamu jalan di pematang sawah dan aku berjalan di lumpurnya. Itu memiliki makna, kalau suami itu harus mengorbankan kebahagiaannya demi sang istri. Dan yang tadi Ale katakan, kalau nanti aku akan menangkap ikan, lalu aku berikan ke kamu itu maknanya, semoga setelah menikah kelak rezeki kita melimpah. Dan ada lagi sesi foto ketika kita menggiring bebek, itu artinya kita hanya sebagai pengembala untuk anak dan semoga dikaruniakan anak yang banyak. Ada lagi, ketika aku duduk termenung di bawah lampu temaram itu memiliki makna, aku sedang menanti jodoh." Begitu panjangnya Onci menjelaskan setiap sesi fotonya tersebut, walau kenyataanya? tak seindah ekspektasi. Semoga saja sesuai dengan apa yang tersirat dalam konsep foto yang Onci jelaskan.
Acara hari ini akan begitu padatnya, dan mungkin sampai malam.
_________________πββDheaπββ______________
Ada tawa, ada air mata dan drama kehidupan seperti dua sisi mata uang. Sama seperti apa yang Onci sedang lakukan hari itu, berbeda dengan apa yang Dhea rasakan. Gadis itu menyimpan kesedihan, kekhawatiran dan keresahan. Ia termenung, menyimpan tanya siapa gadis yang bersama calon suaminya itu.
Apa yang ia lihat menjadi alasan untuk ia diam-diam menjalin cinta dengan Onci, lelaki yang ia tidak bisa ingkari kalau hatinya masih menyimpan cinta, perasaan yang tidak begitu mudah untuk ia hapus.Dhea tidak sadar kalau di dunia ini tak ada satu pun yang sempurna, justru pernikahan itulah yang menutupi kekurangan. Yah, saat aku dan kamu menjadi kita, dan tak ada istilah aku, kamu dan dia. Ia mengira kalau apa yang dimiliki Onci tidak dimiliki Jonathan, begitu pun kekurangan yang dimiliki Onci tidak dapat ditoleransi.
Ingin rasanya Dhea mempertanyakan," Siapa gadis yang bersama kamu? Dan kenapa kamu tidak terbuka dan tak perlu berbohong?! Jelas-jelas aku lihat kamu dengan dia." Ucap Dhea membatin dan ingin ia utarakan kekesalannya itu, ia pun ragu untuk mempertanyakan dan tangannya sudah gatel ingin segera menghubungi Jonathan.
Akhirnya ia memilih untuk menghubungi Onci, tetapi berkali-kali handphone nya di reject.
"Ini lagi cowok susah dihubungi, aah mungkin lagi ribet dengan urusan sekolahnya." Dhea menyangkal pikiran buruknya. Dhea tidak tahu, kalau hari itu Onci dan Nabila tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya.
"Bikin Bete semua!" ucapnya kesal lantaran tak ada satu pun kekasihnya itu tak ada yang bisa menghapus jenuhnya.
Dan tak lama Onci menghubunginya,"Ada apa yank?"
"Nggak ada apa-apa, lagi kangen aja."
"Kok kangennya sama aku?Kan ada Jonathan?!"
"Bisa nggak, kalau lagi sama aku jangan bahas Jonathan?!"
"Iya...iyaaa, maaf! Gitu aja marah."
"Kamu mancing-mancing aja, mentang-mentang ngeliat dia sama cewek laen?!"
"Oh iya, sudah kamu hubungi Jonathannya lagi?!"
"Maleeees banget aku hubungi dia."
"Eh nggak boleh begitu, bagimana juga dia kan calon imam kamu..Hahaha..."
"Puaaas kamu ketawa."
"Laah kaan memang pilihan kamu bukan?Kamu yang menunjuk ia sebagai calon suamimu, bukankan dia yang kata kamu seiman? Dan dia yang sudah mendapat restu dari kedua orang tua kamu, hanya karena memiliki keyakinan yang sama? Dibandingkan aku yang hanya seorang muslim?!"
"Itu mereka, bukan aku dan sudahlah jangan menambah penyesalanku, aku sudah katakan kalau sampai kapan pun jika tak ada yang mengalah, kita tak akan satu. Bukan saja kedua orang tua kita, tetapi kita berusan dengan negara."
Bersambung >>>