
Apa selamanya pungguk akan merindukan rembulan? Dan merpati selalu bersama untuk bercanda di gemawan dan birunya langit? Gayung tak melulu bersambut, bahagia tak selamanya tak berganti luka, tawa tak selamanya harus terbias air mata. Lalu apakah semesta mendukung dengan kebahagiaan yang Nabila harapkan di hari ini?
Hari dimana ribuan malaikat menari di arasy dan ribuan tangan menengadah ke atas, seraya bermunajat, serta ratusan bahkan ribuan orang berucap sama,'selamat menempuh hidup baru.'
Hidup baru? Iya, hidup baru ketika babak baru dalam skenario sang sutradara semesta goreskan, babak baru disaat lajang berganti berpasangan, babak baru menyempurnakan sunah titah sang baginda nabi. Ratusan tangan berganti mengiringi doa untuk sohibul hajat.
"Saudara Fahrurrozi bin Syahrullah, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Nabila Bilqis binti Romli dengan mas kawin seperangkat alat solat dan emas sebesar dua puluh lima gram, tunai." Ucapan sakral mengawali jabat tangan penghulu dan calon mempelai pria.
"Saya terima nikah dan kawinya Nabila Bilqis binti Romli dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Lantang suara Onci menjawab ayunan tangan sang penghulu.
"Bagaimana? Sah?" tanya pria berkopiah hitam yang duduk berseberangan dengan kedua mempelai pria dan wanita.
"Saaaaaah," hentakan suara saksi serta para undangan yang hadir.
Air mata bahagia pun tumpah mengharu-biru seisi ruangan. Inilah waktu dimana, seorang ayah harus merelakan putri yang ia sayang, ia jaga dan ia didik dilepaskan menjadi si pemilik yang baru, bergantilah amanah dari tangan kekar sang ayah kepada suami. Kini tongkat estafet imam berganti dari sang ayah kepada lelaki yang dalam hitungan hari dan bulan menjadi si pemilik gadis itu.
Doa pun terpanjatkan, lisan para tamu undangan dan ribuan malaikat pun berdoa yang sama, dan inilah hari dimana langit berguncang dengan dzikir dan doa.
Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir.
Artinya: “Semoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.”
Mereka pun bersimpuh di hadapan kedua orang tua, ketika Onci lengkap dengan ayah dan ibu, tidak dengan Nabila yang hanya bersimpuh di hadapan sang ayah, bunda pun telah lebih dahulu bertemu sang Khalik. Ketika Nabila masih membutuhkan sosok sang ibu, justru ia tidak pernah mengenal wajah wanita yang dari rahim sucinya lahir putri cantik, dengan hidung mancung, alis tebal dan bibir tipisnya.
"Selamat ya Nabila, Ozi." Ucapan yang sama pun terus berulang terdengar.
"Aku harap kamu bisa tersenyum, dan jangan menampakan kesedihan." Ucap Onci berbisik kepada gadis yang kini menjadi istrinya, dialah Nabila Fahrurrozi, yang akan mendampingi hidupnya, dan guratan takdir pun kini terukir atasnya, atas mereka.
"Iya." Nabila pun mencoba merekahkan senyuman.
Lagi-lagi ia harus belajar untuk tidak menyeragamkan apa yang terukir di hati dan apa yang terucap di lisan.
"Sabar yah Nabila, Allah siapkan ladang pahala untukmu." Ia mencoba menasehati dirinya.
Setelah menikah nanti, mereka akan tinggal di kediaman yang kini ditempati abah dan umi. Karena memang Onci adalah anak satu-satunya, siapa lagi yang akan mewariskan itu semua kalau bukan Onci.
__________________¤¤¤_______________
Kamar pengantin yang tertata begitu indah, kain berwarna merah marun menjutain di setiap dinding, bunga terta indah dan dua sepasang burung merpati terkurung dalam sangkar emas yang Ale sudah siapkan dan tata dekorasi.
Tanpa disengaja, sangkar yang sudah disiapkan berwarna gold atau emas. Seakan menggambarkan apa yang mereka rasakan, walau hidup dalam kemewahan seakan dibelenggu keadaan, Onci yang dikekang dengan keputusan dan kebijakan abah yang justru memudarkannya untuk menjadi diri sendiri, termasuk mengekang siapa gadis yang layak untuk menjadi pendamping hidupnya.
Begitu juga dengan Nabila yang ia pun seperti terjebak pada keadaan, ia pun dihadapkan dengan keputusan yang sulit pada saat itu. Kejadian yang memaksanya untuk mengiyakan ucapan Abah Haji yang kini menjadi mertuanya.
Sudahlah, nasi kini menjadi bubur tak ada kata lain dan tak ada pilihan kecuali menikmatinya, walau tak tahu akan seperti apa rasanya bubur itu.
"Nabila, sekarang kamu sudah bukan siapa-siapa lagi, kamu itu istriku dan aku harap kamu bisa mengikuti apa yang menjadi aturan rumah tangga, kamu pun paham aku adalah imam bagimu, aib mu kini menjadi aibku juga, aib ku pun menjadi aibmu juga. Jangan pernah membuka aib mu sendiri dan tolong simpan air mata mu, gantilah dengan senyum seakan rumah tangga kita baik-baik saja, ceritakan kebahagiaan kepada semua orang, dan pandailah bersikap layaknya suami istri di depan umum. Kita juga tahu, kalau pernikahan kita hanya eksperimen dari sebuah skenario yang mungkin saja kamu tidak menghendaki pernikahan ini, atau aku yang sedang belajar untuk mencintaimu.Semoga usia pernikahan ini panjang, dan kita sama-sama bersabar."
"Iya, aku akan coba menerima apa yang sudah Allah gariskan atas takdir hidup manusia, termasuk takdirku sendiri." Jawab Nabila.
Nabila menunggu sang suami mengajaknya terbang ke langit-langit, dan menari di atas selimut seperti pengantin baru pada umumnya, ia pun ingin merasakan sensai malam pertama yang menjadi candaan orang-orang, termasuk mereka yang dekat dengan Nabila.
Namun kini, malam itu tak pernah ia temui. Walau Nabila sudah memberikan isyarat dan bahasa tubuh tetapi Onci belum merespon apa yang ia harapkan.
"Mungkin suamiku letih sedari pagi menyambut tamu undangan, masih ada malam berikutnya yang diharapkan semua bidadari surga disentuh bidadara untuk diajaknya menari." Hibur Nabila dalam hati.
Bukan saja ragam bahasa tubuh yang ia tunjukan, bahkan Nabila sendiri sudah menyiapkan pakaian terbaik untuk malam pertamanya itu, dan kini sudah ia kenakan sehabis mandi dalam keadaan rambut teruari basah. Inilah malam untuk pertama kalinya ia tampakan aurat yang selama hidupnya, yang matahari pun tak pernah melihatnya.
Mahkota berwarna coklat tanpa pewarna rambut. Bahkan ia sudah mempersolek dan memperindah dirinya, tubuhnya pun dibalur wewangian agar singgah sang kumbang pada bunga yang ia berharap madunya dihisap sang kumbang. Nabila pun lalu-lalang di hadapan sang suami, bahkan mencuri pandang agar Onci meresponnya. Tetapi apa yang Nabila dapatkan? Onci begitu asiknya bermain dengan gadget dan merespon pesan instan serta sosial medianya. Bahkan begitu asik saling telepon dan berlama-lama dengan ponselnya itu, entah dengan siapa ia berbagi tawa dan candanya.
Hingga akhirnya, sang bidadari itu terbang dan menari sendiri dengan sayap-sayap patah, dan larut dalam tidurnya. Semoga ia bisa menari di langit-langit indah, walau hanya mimpi.
Bersambung >>>>