
Bagi seorang istri menunggu suaminya pulang sehabis beraktifitas menjadi kerinduan tersendiri, tapi untuk hari ini pulangnya Ozi menjadi boom waktu bagi Nabila. Setiap mendengar suara deru mobil membawa kegelisahan bagi Nabila.
Ia perhatikan dari depan kamar, Abah dan Umi dengan wajah masam menunggu kedatangan Ozi. Detak jarum jam seakan lambat bergerak, sudah berkali-kali dihubungi Umi, tetapi tak juga diangkat, membuat mereka semakin geram untuk menunggu kedatangan Fahrurrozi alias Ozi.
"Assalamualikum," suara salam Ozi seakan menjadi bertanda babak awal perkara dimulai. Dua pasang mata memandang dingin.
"Wa'alikum salam...sini umi mau ngomong."
Ozi pun menghampiri, "iya mi, ada apa?"
"Darimana? Kenapa Umi nggak tau kalo kamu nggak ke Yayasan?"
"Iya Mi,...Ozi ada urusan tadi, ada sisa kerjaan yang harus diselesaikan."
"Kamu balik lagi ke kerjaan yang nggak jelas itu?"
"Bukan balik lagi sih Mi, tapi selesaikan hutang kerjaan aja."
"Jangan alasan, jawab jujur aja."
"Iya Umi,...Ozi sudah jujur."
"Abah dan umi untuk kesekian kalinya kecewa, kenapa masih saja balik ke pekerjaan yang nggak berguna itu. Apa yang Ozi dapatin dari usaha itu? Mobil? Masih Abah dan Umi berikan, rumah? Walau kamu tinggal di sini, setidaknya kamu tidak harus bayar kontrakan. Bahkan maaf...maaf...sampai bulanan kamu itu dikasih dari yayasan."
"Bukan begitu Mi..."
"Enteeeee di sekolahin tinggi-tinggi, cuma bisanya membatah doang." Abah sudah tak sabar akhirnya angkat bicara.
"Sekarang ente mau apa????! Masih bisa diajak kerjasama apa ente bisa cari tempat lain, dan jangan tinggal di sini kalo emang ente nggak bisa lagi ane arahin...orang laen masih bisa ane arahin, anak sendiri susahnya sampe ke ubun-ubun..."
"Kalo memang itu maunya abah, biar Ozi sama Nabila cari kontrakan aja."
"Kamuuu kalo dibilanginnya malah bertolak belakang dengan Abah dan Umi. Seharusnya itu jadi andelan kita. Yayasan itu di bangun kalo bukan untuk kamu dan Nabila kelola, siapa lagi?"
"Ozi udah dewasa dan nggak bisa diginiin terus."
"Diginiin bagaimana maksud ente? Orang lain susah cari kerjaan, enteeee tinggal enak nya aja kok susah banget diarahinnya...!"
"Ozi sudah berusaha untuk ikutin apa yang abah dan umi inginkan, tapi karena Ozi salah terus, rasanya Ozi nggak bisa aja, daripada nyusahin Abah dan Umi terus, biar Ozi yang memilih pergi dari rumah."
"Ozii bener..bener yaaaah bikin Umi kesel aja, Ozi nggak kasian apa sama Umi, Umi sama Abah nggak tau lagi harus bagaimana?!"
"Mungkin dengan keputusan Ozi keluar dari rumah jadi pilihan yang tepat dan biar Ozi bisa lebih mandiri, Umi dan Abah nggak perlu lagi capek ngurusin Ozi, biar Ozi bawa Nabila ikut Onci juga."
"Enak aja, kalo mau ente aja yang pergi dari rumah, biar Nabila tinggal disini dan lebih bisa kita arahin ketimbang enteee....Kalo ente mau pergi yaa pergi aja, sekalipun si Nabila istri ente, kalo ane mau dia tetep di sini, ente mau apa?!"
"Tinggal Nabila yang milih...mau ikut saya sebagai suaminya atau mau ikut Abah dan Umi."
"Sekali pun ente yang punya haaak, tapi ane dan umi yang menentukan,...Silahkan ente yang keluar dari rumah ini, atau ane dan umi ente yang angkat kaki dari rumah ini?!!"
Ozi dihadapkan dua pilihan, dan menyimpan kebimbangan yang teramat. Tak bisa dipungkiri kalau dirinya masih membutuhkan kehadiran dan peranan orang tua dalam hidupnya.
"Baaah...sudah cukup." Bisik Umi untuk menenangkan Abah yang tensinya mulai meninggi.
"Biarin aja, biar dia mikir nggak gambang membangun ini semua, dia tinggal enaknya susah amat diarahinnya."
"Biar Abah dan Umi nggak capek hati ati lagi, biar Ozi saja yang pergi dari rumah ini."
"Silahkan aja, asal jangan bawa Nabila keluar dari rumah ini,..."
Ozi meninggalkan Abah dan Umi, ia beranjak ke kamar. Nabila mendengar samar percakapan mereka dari dalam kamar.
_______________oOo______________
Nabila bingung dengan kondisi yang kini dihadapi, ia gelisah mendengar obrolan Abah, Umi dan Ozi. Satu sisi ia sebagai seorang istri, ia juga sudah paham bagaimana karakter Ozi walau beberapa hari ia kenal.
"Ini kesalahan aku, yang terlalu jujur saat Ustadz Burhan, Abah dan Umi tanyakan keberadaan Kak Ozi." Gumam Nabila dalam hati yang berseteru.
"Kalo aku berbohong, pastinya aku akan terus berbohong, sekalinya jujur, jadi begini."
Lamunan Nabila terbias, saat Ozi membuka pintu kamar.
"Kamu mau ikut aku, apa masih tetap disini?"
"Maksud Kakak?"
"Aku mau tinggalkan rumah ini, dan mencari tempat tinggal. Kalo kamu mau ikut, cepet beres-beres pakaian dan barang-barang kamu."
Nabila hanya termenung, dan bimbang untuk mengambil keputusan.
"Ya Allah, aku bingung..."
"Udah cepet, malah bengong." Sentak Ozi.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Nabila spontan mengikuti apa yang menjadi perintah Ozi.
"Iya..iya...."
Nabila mengambil koper besar, mulai menyusun pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan.
"Kita tinggal dimana?"
"Sementara cari kos-kosan aja."
Ozi juga melakukan yang sama, ia merapihkan beberapa pakaian yang ada di lemari, memasukannya ke dalam tas, setelah rampung mereka meninggalkan kamar.
"Hmmmmm....jika memang harus berakhir, biar semua jadi kenangan." Ozi membatin dan menghela nafas panjang, sebelum meninggalkan kamar.
Mereka menelusuri satu persatu anak tangga, hanya Umi yang masih terlihat termenung di meja makan.
"Umi, Ozi pamit, maafin Ozi yang nggak bisa Umi harapin."
"Ozi mau kemana? Ozi tega ninggalin Umi? Mengalahlah, ikuti apa yang Abah inginkan."
"Ini keputusan Ozi, walau nggak mudah Ozi ninggalin rumah ini, semoga Umi sehat selalu." Ozi mencium tangan Umi, dan langkahnya berat meninggalkan Rumah yang puluhan tahun kenangan, cerita semua terangkum di dalam rumah.
"Umi, maaf yah? Nabila pamit, Nabila ikuti apa yang suami Nabila lakukan status Nabila sebagai istri yang harus ta'at dengan perintah suami."
"Pergilah Bila, maafin Umi juga." Dengan mata berkaca-kaca, Umi mengulurkan tangan dan membiarkan dua bibir kecil Nabila menyentuh punggung tangan kanannya Umi, langkah lunglai, meninggalkan rumah yang baru beberapa hari ia huni dan menjadi bagian dari keluarga besar abah dan Umi.
Tak kuasa menahan tangis, Umi lebih memilih menghindar dan tidak ingin menemani kepergian mereka. Bagaimana pun juga naluri seorang ibu tidak bisa berbohong, kalau ia begitu beratnya melepas Ozi yang dari rahimnya lahir, ia rawat puluhan tahun, dalam suka dan duka, bagaimana ia tega melepas anak yang tali pusarnya pernah menyatuh dalam rahim selama sembilan bulan.
Kini hanya dalam hitungan menit saja, dan lantaran emosi sesaat semua pupus, terbias dalam tangisan dan air mata.
"Hati-hati Nak..." Gumam dalam hati.
Bersambung >>>>