Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Jangan Salahkan Perpisahan


Terkadang untuk memperoleh sebuah pencapaian, sepertinya harus disulam dengan pengorbanan, air mata, kepedihan, dan dirajut dengan waktu.


Nikmatilah proses itu, bagaimana kita tahu arti bahagia, tanpa kita lalui duka. Bagaimana kita tahu rasanya manis tanpa mengecap apa itu pahit, pelangi terlihat indah tatkala melalui hujan dan badai, bukan?


Dhea pun harus merelakan dan menangguhkan kebersamaan dengan orang yang ia kasihi dan cintai, ia tinggalkan semua demi cita-cita, tidak lah mudah untuk menghapus berlahan semua yang pernah dilalui, canda, tawa, suka dan duka. Demi mewujudkan itu semua, termasuk melupakan sejenak Onci, dan ia pasrahkan semua dengan apa yang terjadi. Dalam sebuah hubungan, hanya ada dua kata, ditinggalkan atau meninggalkan, dilupakan atau melupakan, dan mempertahankan atau dipertahankan, itu saja.


Hari ini, menjadi langkah awal untuk seribu langkah ke depan.Hari ini adalah penentuan sikap, dan hadapi kenyataan. Perpisahan mengajarkan kita akan berartinya pertemuan. Thea memikirkan bagaimana cara agar Onci membencinya.


"Yank, aku otw ke rumah kamu."


"Sama siapa?"


"Sendiri lah, serlok yah? Aku lupa jalannya."


"Iya yank, kamu ke sekolah aja yah? Abah dan umi juga disini."


"Ok."


Thea pun tak lupa mengenakan hijab, dan pakaian muslimah nya lengkap. Untungnya ia bisa untuk make up wajahnya, dan cukup maksimal penampilan Dhea hari ini. Ruang staf pun dikejutkan dengan kehadiran Thea yang memukau suasana. Karena untuk masuk ke ruangan ketua yayasan harus melalui dua ruangan, ruang guru di bagian depan, ruang administrasi di bagian tengah dan barulah ruangan ketua yayasan, sekaligus ruangan Onci.


Dhea pun menyambut para tenaga pendidik dengan senyum, termasuk Nabila pun menjadi saksi kehadiran Dhea, begitu juga Ustadz Burhan.


Entah kenapa, Onci memintanya untuk bertemu di sekolah bukan di rumah, Thea pun tak pedulikan itu.


"Assalamu'alikum abah, umi.'


"Wa'alikum salam, sini masuk neng."


"Maaf ganggu, Ozi suruh ketemunya disini mau silaturhami dan sekalian pamit."


Setelah mempersilahkan Dhea duduk, umi dan abah pun bertanya," Loh memangnya mau kemana?"


"Ada kerjaan yang cukup menyita waktu lama, dan keluar negeri mi."


"Luar negerinya?"


"Malaysia, Singapur, Australi, dan kemungkinan ke Taiwan, Jepang dan Hongkong."


"Waah enak yah? Kerja sambil jalan-jalan." Ucap umi.


"Iya umi."


"Ozi, panggil Pak Karta untuk buatkan neng Thea minuman, mau minum apa?"


"Oh nggak usah repot-repot umi."


"Aah nggak apa-apa kok, orang ada tamu."


"Maaf yah neng, abah urus berkas dulu, agak sedikit repot." Ucap abah.


"Oh, nggak apa bah. Dhea yang minta maaf sudah ganggu dateng ke sini."


"Aah Abah nya nanti nggak enak,kalo cuekin eneng. Nantinya dikira nggak hargain tamu dateng."


Mereka pun hanya saling tersenyum dan sedikit banyaknya bercerita seputar kuliah, kerjaan, dan keluarga Dhea. Hampir setengah jam aku mereka berbincang begitu akrabnya, waktu jualah yang memisahkan pertemuan terakhir Dhea untuk pergi meninggalakan tanah air, dan untuk waktu yang cukup lama.


"Kamu berangkat kapan?"


"Mungkin besok pagi-pagi sekali aku sudah mesti di bandara." Ucap Dhea sambil memegang lengan baju.


"Aku antar boleh?"


"Boleh aja, habis subuh jemput aku."


Onci menoleh ke umi, dan mengangguk memberikan isyarat kalau ia boleh mengantarkan Dhea ke bandara.


"Yaudah, aku pamit yah?"


Dhea pun menyalami umi dan abah, Onci pun mengantarkan gadis itu menuju kendaraannya, dengan berat hati ia melepaskan kepergian gadis itu, sampai benar-benar kendaraanya hilang tak lagi terlihat dari pandangannya.


Saat Onci kembali ke dalam ruangan, ia melihat ekspresi wajah abah yang memendam amarah. Begitu juga umi yang ia kenal lembut nampak memerah, dan Onci pun bingung dengan sikap abah dan umi.


"Ozi, ente bohongi abah dan umi rupanya."


Onci dibuat bingung dengan ucapan abah, ia tidak tahu apa yang abah maksud dengan kata-kata 'membohongi kedua orang tuanya.'


"Maksud abah apa? Ozi bohongin abah dan umi apa?"


Suara abah terdengar begitu kerasnya, "Katakan yang jujur, siapa perempuan itu?!!!"


"Perempuan yang mana maksud abah?!"


"Siapa lagi, kalo bukan harim ente itu!"


"Maksud abah, Dhea?"


"Dia gadis yang akan Ozi nikahin bah, dan bukanya abah dan umi setuju?"


"Mulaaaai hari ini, jangan pernah berhubungan dengan perempuan itu lagi!!"


"Kok? Bukankah abah dan umi mau bertemu dengan kedua orang tuanya?!"


"Bataaaaal!!!"


"Kok batal bah?"


Umi pun diam dan sambil memberikan sebuah gelang.


"Ya Allaaah!!! Gelang Dhea." Ucapnya dalam hati menyesali kecerobohan yang terjadi dan terulang kembali.


"Mulai detik ini, jangan pernah berhubungan dengan dia."


"Ta....taaa..tapi bah, umi?!"


"Sudah tidak ada tapi, ini keputusan abah dan umi. Dalam waktu dekat ini, abah mau nikahkan ente sama Nabila, biar ane yang pinta sama Haji Romli! Umi, panggil Nabilanya."


Umi pun diam dan menuruti perintah abah, ia pun segera meminta Nabila untuk menemuinya.


Selang beberapa menit Nabila pun datang, dengan begitu cemas ia melihat wajah Pak Haji Syahrul memerah, dan menyimpan amarah.


"Assalamu'alikum, iya ada apa Kiayi?"


"Walaikum salam, Nabila duduk."


Nabila pun bingung yang tiba-tiba saja dipanggil, ia pun melihat Onci yang hanya menundukan kepala.


"Nabila, ane mau tanya ke Nabila. Seandainya, ane minta ente nikah dengan Ozi apa bersedia?"


Nabila pun sock dan terkejut dengan apa yang Pak Haji ucapkan, ia tidak tahu duduk permasalahannya seperti apa.


"Maaf Kiai, bukankan Kak Ozi sudah punya calon yang baru saja keluar dari ruangan ini?"


"Ane batalin, untuk apa punya menantu beda imanya?!"


Nabila semakin tidak mengerti apa yang Kiayi Syahrullah ucapkan.


"Maksud pak Kiayi?" mata Nabila pun teruju dengan sebuah gelang dilengkapi dengan aksesoris salib."


"Dia berbeda iman, dan ane kaga ikhlas nikahin Ozi dengan gadis itu."


"Ta...tapikan Kiayi, Nabila tidak bisa berikan keputusan, Bila harus bicarkan ke babeh dan umi Nabila."


"Kalau Nabila mau, pasti orang tua pun akan terima keputusan Nabila." Ucap umi.


Onci pun hanya bisa diam, tertunduk dan menyesali kebodohan ini semua. Ia tidak mengira bahwa tak akan terulang kejadian beberapa hari lalu, saat Ustadz Burhan melihat gelang salib di lengan Dhea, namun kejadian itu dapat ia atasi. Tapi tidak untuk kejadian saat ini, kejadian yang di luar dugaan.


Bagi Nabila ini kesempatan, dan ia tak akan sia-siakan seakan mendapatkan durian runtuh. Ia pun tak bisa dustai perasaanya, Onci pun tahu jawaban apa yang Nabila akan ucapkan, sebelumnya gadis itu sudah pernah mengutarakan perasaan, dan ketika mendengar kabar seperti ini, apakah Nabila akan mengambilnya?


Bersambung >>>


_____________Hi Readers😘_________


Terimakasih sudah mampir ke karya kecil saya, penulis yang masih terus belajar mengembangkan karya. Jangan lewatakan kisah selanjutnya yaaah?


Oh iya, tinggalkan juga jejak komentar dan karya temen-temen semua yah? Biar aku mampir juga.


Jangan lupa :


πŸ‘‰ Vote


πŸ‘‰ Share


πŸ‘‰ Like, dan


πŸ‘‰ Tanda bintang untuk barometer kami


atas kepuasan temen-temen, serta..


πŸ‘‰ Jangan lupa juga tekan ❀ sebagai bacaan favorit, dan dapat update terus episodenya.


πŸ‘‰ Dan kunjungi kanal literasi kami.


Ada beberapa menu novel yang sudah aku tulis, yaaah walau serba keterbatasan ejaan dll....


Satu Hati Dua Samudra


Petaka Youtuber


Ibu, Izinkan Aku Menjadi Pela*ur