Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Mengguncang Langit


Untuk kesekian kalinya suara tangisan itu pecah di rumah mewah yang penuh dekorasi kaligrafi arab itu, belakangan ini rumah yang sudah didiami Abah puluhan tahun, nampak muram dan penuh duka.


Nabila bersimpuh dalam doa :


Ya Allaaah, sebegininya hidup hamba, jika seperti ini cara Engkau ingin menaiki derajat dalam hidupku, aku ikhlas jalani semua. Sungguh, aku berlindung kepada Mu dari takdir buruk dalam hidup.


Ya Rabb, sebaik-baik tempat aku mengadu, Tuhan yang begitu rapih menutup aib hambanya, maafkan aku Ya Allah, jika duka yang aku alami ini buah dari kelalaian hamba Mu.


Illahi, duhai junjungan hidupku, penyekat air mata ini, Tuhan yang Maha tahu dari apa yang terbaik untuk hamba Nya, berikanlah hamba mu ini, kekuatan untuk menghadapi segala ujian dan teguran dalam hidup.


Rasanya tak pantas jika aku anggap apa yang engkau berikan ini sebagai cobaan dalam hidup, karena tak pantas perak mengaku-ngaku emas, tak pantas apa yang terjadi dalam hidupku, aku anggap ini adalah ujian, hamba hanyalah pendosa, yang pantas menerima teguran, karena ibadahku jauh dari rasa syukur atas nikmat yang Kau berikan, Ya Ilahi.


Wahai Rabb, yang memiliki segala rahasia di langit dan di bumi, yang hamba ini terbatas dari segala penglihatan, terbatas ruang, terbatas indra yang hamba miliki, Engkaulah Tuhan yang Maha Tahu, Tuhan yang mampu mengungkap segala tabir kepalsuan dalam hidup, sungguh aku memohon, meminta pada Mu, bantu hamba Mu ini dalam keterbatasan.


Wahai masalah hidupku ya berat, aku punya Tuhan yang Maha Membebaskan ku dari belenggu hidup. Wahai kesedihan, aku punya Tuhan yang mampu menyekat air mata, dan membilasnya dengan senyum. Duhai himpitan hidup, aku percaya Rabb-ku, akan membantu melepaskan diri ini dari keresahan hati yang terus memburu dan tak bisa aku menjauh dari nya.


Ya Illahi, atas nama hamba yang hanya mampu menebus setiap masalah dengan air mata ini, maafkanlah kesalahan orang-orang yang aku cintai, maafkanlah kelalaian orang-orang yang namanya tertulis di lubuk hati ini, jauh kan kami dari orang-orang yang ingin berniat jahat.


Sungguh hanya Engkaulah pemilik kerajaan bumi dan langit, yang dari Engkaulah tercipta Nabi Ayub yang begitu sabar dengan sakitnya, Dari Mu lah seorang Rasul yang begitu tabah dengan segala ujian dalam hidupnya, Muhammad Al Mustofa, atas kehendak Mu-lah, Fatimah Azzahra begitu tabah menghadapi masa-masa sulitnya, aku tak seberapa hebat dibandingkan mereka, aku tak sekuat mereka, aku tak setenang mereka dalam menghadapi semua duka, luka dan air mata. Berikanlah, pancaran ketabahan seperti mereka.


Kuatkanlah hati, dan langkah ini menghadapi segala teguran, fitnah, dan hati mereka yang menyimpan kebusukan atas diriku. Semoga atas izin Engkau Ya Illahi, hati mereka senantiasa mau memaafkan hamba, jika lisan tak sengaja melukai perasaan mereka, sikap ini menyinggung siapa pun mereka, yang aku tak kuasa mengetahuinya, semoga tersampaikan maafku ini.


Ya Allah, maaf yah Nabila banyak ngeluh, Nabila kurang bersyukur, Nabila jauh dari kata ta'at dan soleha, Nabila jauh dari kesempuraan ibadah, Nabila yang lalai, dan datang kepada Mu jika tengah menghadapi masalah saja, Nabila bersimpuh kalau ada mau-nya, maafkan Nabila ya Rabb...


Kini ikhtiarku yang tak seberapa ini, engkau terima, hanya Ridho-Mu-lah yang Nabila cari, jika ibadah Nabila terhalang hanya ingin mendapatkan syurga Mu, jika Nabila ibadah hanya takut dengan siksa di alam barzakh, dan panasnya api neraka. Sungguh, hanya ke ridho-an Mu yang aku cari.


Terimalah sembah sujud Hamba...Amin ya Mujabisyaidin.


Setelah Nabil selesai merampungkan solat Duha, Nabila bersiap-siap mendatangi kantor Kepolisian, untuk mengetahui lebih dalam apa yang menyebabkan suaminya berurusan dengan hukum, ia ditemani Abah dan Ustadz Burhan.


Nabila khawatir, masalah ini dapat mengganggu kesehatan Abah, masih basah pemakaman Umi, Abah kembali dirundung masalah seperti ini. Sesampainya di kantor Kepolisian, ada yang mengejutkan mereka.


"Anak pak Haji terjerat pasal 284 delik pengaduan dari pelapor dengan tuduhan perzinahaan, yang sudah dilakukan anak Pak Haji dengan seorang wanita yang merupakan istri dari pelapor, atas dasar itulah kami menangkap anak bapak, saudara Fahrurrozi." Jelas penyidik, yang di Id Card nya tertulis nama Imran SH.


"Ya Allaaaaaah....Astaghfirullah....Oziiiiiii!!!!" Tangis bercampur kesal Abah mengisi ruang penyidik, ia merasa gagal mendidik anak, ia menyesali perbuatan putra yang menjadi darah dagingnya sendiri, yang ia besarkan dan harapkan menjadi pengganti nya kelak, justru telah mencoreng nama baik yang sudah ia pupuk puluhan tahun, orang di luar sana berhasil ia didik menjadi Ustadz, sedangkan anak nya sendiri melakukan perbuatan yang jauh dari nilai-nilai agama.


Abah terlihat lemas saat mengetahui Ozi terjerat pasal yang walau pun hukum negara akan memvonisnya hanya hitungan bulan atau tahun, tapi hukum agama lah yang menjadi pertimbangan Abah. Abah menatap wajah Nabila yang tertunduk dan menahan air mata.


"Bila, maafin Abah dan anak Abah yah?"


"Iya Bah, sebelum Abah minta maaf insyallah Nabila sudah memaafkan Abah dan terutama Kak Ozi." Tutur kata yang tak akan pernah keluar dari mulut seorang wanita, kalau hatinya tidak pernah bersentuhan dengan cahaya ke'aliman.


Lain dengan Nabila, Ustadz Burhan mendengar ucapan apa yang disampaikan penyidik begitu geram dan menahan emosi.


"Bener-bener bikin malu!!" Ucap Ustadz Burhan dalam hati dengan wajah memerah.


"Nggak tau diuntung! Gampang banget melukai perasaan orang." Ustadz Burhan masih kesal.


Abah terdiam dan sudah tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan, bukan saja malu sama Nabila, tetapi bagaimana ia menghadapi aib yang nantinya didengar orang banyak, entah mau ditaruh dimana wajahnya. Apa lagi jika aib ini sampai terdengar oleh para jama'ah, masa-masa tersulit yang Abah hadapi, setelah kehilangan istri, kini ia harus menanggung malu.


"Iseeeh, andai ente ada di sini...." Jerit hati Abah.


"Jika Bapak dan keluarga mau besuk saudara Ozi, silahkan kami beri waktu Tiga Puluh Menit." Kepala penyidik mempersilahkan keluarga untuk membesuk Ozi.


"Bah..." Nabila memberikan isyarat kepada Abah yang masih duduk termenung.


"Ya Biiil..." Abah terkujut.


"Ayo kita besuk Kak Ozi."


"Ente sama Burhan aja dulu Bil..."


"Yaudah Nabila pamit temui Kak Ozi."


"Silahkan."


Sekali pun langkah kaki dan hatinya berat menerima kenyataan ini, ia memaksakan diri bagaimana pun juga Ozi masih sebagai suaminya, yang butuh support.


Bersambung >>>