
Benar-benar Khadijah Milenial itu hadir memberikan perubahan yang nyata, setelah memberikan arahan para pengurus, Nabila kini harus berhadapan dengan kontraktor, yang notabene nya, memiliki cara pandang yang berbeda, baik secara disiplin ilmu dan track record mereka, namun Nabila memiliki bekal itu.
"Asslamu'alikum, salam kenal Mba atau Ibu nih saya manggilnya?" Sapa Arul dengan santun dan ramah.
"Wa'alikum salam, panggil aja Nabila juga cukup Pak."
"Aduh, walau masih muda kan perlu juga dipanggil Ibu, karena kan secara struktural Ibu sebagai ketua yayasan."
"Aaah sama aja kok, itu kan sebatas di atas kertas saja Pak, saya sendiri masih belajar."
"Sama-sama belajar dong kita..."
"Aduh, kalo Bapak-Bapak semua masih belajar, khawatir Rumah Sakit yang kita mau buat jadi eksperimen dong." Canda Nabila mengawali perkenalan.
"Waaah Ibu bisa aja, nggak lah, kalo kita belajarnya sudah lama, dan sekarang tinggal tunggu Ibu kasih kesempatan kita untuk bekerjasama." Ucap Arul.
"Kalo saya sih maunya sama-sama kerja Pak, Hehe..."
"Ketua yayasab kita satu ini, suka bercanda rupanya."
"Kalo tidak diseling bercanda, bisa ada kerutan di wajah saya Pak."
Nabila mulai pandai berdiplomasi, dan menghangatkan suasana.
"Kalo Ustadz Burhan, apa nya Ibu? Suamikah?" Sindir Arul yang juga pandai menghangatkan suasana.
"Oalaaah, kalo Ustadz Burhan itu senior saya dan beliau lebih dahulu menjadi salah satu pendiri Yayasan, mungkin seperti itu tepatnya Pak."
"Aaah Mas Arul bisa aja bercandanya." Sanggah Ustadz Burhan, yang disindir sebagai suami dari Nabila.
"Assalamu'alikum Warahmatullahi Wabarakatuh..."
"Wa'alikum salam." Jawab para kedua belah tim bersamaan dan suasana menjadi cukup serius.
"Mungkin saya langsung saja, sebelumnya kami memperkenalkan diri sebagai pengurus Yayasan, kalau saya sering dipanggil Burhan, dan saya diberikan kepercayaan sebagai wakil ketua, hadir juga Ustadzah Nabila selaku ketua yayasan kami yang baru saja dikukuhkan. Dan dalam pertemuan kali ini juga, kita kedatangan tamu dari kontraktor yang tergabung dalam Komunitas Pengusaha Muslim, dalam hal ini Mas Arul selaku ketua provinsi. Kami bertemu dan memang sebelumnya sudah bekerjasama untuk pembangunan gedung Aliyah, atau kejuruan. Kini kami berencanan ingin membangun sebuah Rumah Sakit Islam, yang tentunya kami sendiri masih banyak kekurangannya, yang nantinya akan disampaikan oleh ketua yayasan kita, Ustadzah Nabila, kepadanya kami persilahkan." Ustadz Burhan membuka pertemuan.
"Assalamu'alikum, salam kenal semua, saya Nabila yang diamanahkan Kiayi Syarullah atau yang sering kita panggil Abah. Alhamdulillah kepercayaan yang dititipkan ini, bukanlah jabatan yang ringan, tetapi berat untuk saya menjaganya. Alhamdulillah juga, semoga Allah meluruskan dan memudahkan rencana kami yang ingin membangun sebuah Rumah Sakit Islam, semoga upaya kami ini membawa kemaslahatan bersama, Amin. Terus terang, kami membangun Rumah Sakit ini terbilang nekad, karena di tengah proses yayasan yang terus menggulirkan beberapa program baik untuk para murid serta para pengurus dan tenaga akademik, tentunya semua itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, tapi kami yakin dan percaya, Allah akan membantu kami entah melalui tangan-tangan siapa nantinya, sehingga rencana kami sampai selesai. Nah, selain kami menyediakan lahan seluas kurang lebih tiga ribu meter persegi, tentunya kami sadar tidak bisa melangkah sendiri, untuk itu kami ingin mengajak semua kalangan pengusaha atau siapa pun itu, dan paham dengan pola atau model bisnis rumah sakit ini, untuk kita saling bersinergis. Yah, bisa saja dari kalangan pengusaha muslim di bawah kepengurusan Pak Arul ikut juga berkontribusi untuk mengembangkan bisnis ini, kami membuka pintu yang selebar-lebarnya, sehingga apa yang kami cita-citakan ini berjalan sampai garis finish, syukur-syukur bisa lebih cepat dari rencana kami semula. Agenda pertemuan kita hari ini, selain kerjasama pembangungan, kami juga berharap ada secuil harapan investasi dari Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu pengusaha Muslim untuk ikut dalam program kami ini, hanya itu saja yang bisa saya sampaikan semoga gayung ini bersambut. Wassalam..."
Sambutan yang luar biasa dari Nabila, ia mulai memanfaatkan momment untuk bisa mengembengkan pembangunan Rumah Sakit, yang memang akan menelan biaya tak sedikit. Ustadz Burhan makin dibuat terheran-heran dengan apa yang Nabila paparkan. Dan langsung di respon Arul selaku ketua Pengusaha Muslim Provinsi.
"Assalamu'alikum Warahmatullahi Wabarakatuh....Puji syukur atas kehadiran Allah SWT sampai akhirnya kita dipertemukan dalam forum yang pastinya akan membawa kemaslahatan bersama, amin. Kami selaku pengurus Ikatan Pengusaha Muslim Provinsi mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang berharga ini, terlebih Ustadzah Nabila memberikan pandangan baru bagi kami, dan tentunya peluang yang tidak akan kami sia-siakan. Semula niat kami kesini ingin menjadi mitra kembali dengan pihak yayasan, ternyata menjadi bergesar, mau tidak mau kami akan berpikir keras untuk ikut andil dalam investasi pembangunan Rumah Sakit ini, kemungkinan kami akan membahas hal ini di internal, karena wacana ini baru muncul, tetapi Insyallah selama bisnis ini menjanjikan dan pastinya mendapat ridho Allah, kami akan terlibat untuk investasi. Tetapi semua ini adalah rencana manusia, selebihnya Allah lah yang memiliki rencana-rencana hebat lainnya. Ini pertemuan pertama kita yah? Sepertinya kedepan nanti ada pertemuan lainnya, untuk lebih membahas lebih detail mekanisme kerjasamanya. Mungkin hanya itu saja sambutan dari kami...Yah, yang namanya orang teknis, tahunya urusan lapangan dan tidak pandai merangkai kata, tetapi mudah-mudahan pertemuan ini membawa keberkahan untuk kita semua. Wabillahi taufik walhidayah Wassalamu'alikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
Sungguh pertemuan yang tak disangka-sangka dan berujung pada kesepakatan yang luar biasa, Ikatan Pengusaha Muslim menjawab langsung apa yang menjadi harapan dari Yayasan yang merencanakan mendirikan Rumah Sakit, di atas lahan Tiga Ribu Meter persegi. Pihak yayasan yang hanya memiliki lahan, sedangkan Ikatan Pengusaha Muslim yang menanamkan modal investasi untuk sama-sama dengan pihak yayasan membangun Rumah Sakit.
"Alhamdulillah, pertemuan yang benar-benar membawa berkah, dan langsung dikabulkan Allah." Ucap Ustadz Burhan.
"Semua atas dasar melayani dengan hati yang ikhlas Stadz, kalau hati kita sudah kotor, nggak mungkin Allah menggerakan hati manusia bukan?" Jawab Nabila.
"Selamat Ya Nabila, kamu memang hebat."
"Eits, jangan seneng dulu, rumah sakit nggak akan berdiri kalo Ustadz Burhan lama ngurus surat-suratnya, dan mereka juga masti menunggu MoU dari kita kan, dan proposal bisnisnya seperti apa, semua butuh pembahasan yang mateng."
"Insyallah sedikit-sedikit dan semampu saya kerjakan yah? Tapi kan yang tahu proposal bisnisnya kamu Bil..."
"Iya nanti Nabila juga bantu susun lah."
Bersambung >>>