Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Peri Cintaku


Selepas berbincang-bincang dengan Puspa, Dhea dan Onci melanjutkan obrolannya, sambil menikmati temaranya lampu cafe, bibir Thea terlihat menari menikmati hidangan yang ia pesan, sesekali terlihat ia menggit kecil bibir bawah di celah obrolan,begitu manjanya.


Suara seksi Marchel dengan lagu Peri Cinta menghanyutkan suasana menjadi backsound percakapan serius mereka.


Di dalam hati ini hanya satu nama


Yang ada di tulus hati kuingini


Kesetiaan yang indah takkan tertandingi


Hanyalah dirimu satu peri cintaku


Benteng begitu tinggi sulit untuk kugapai


*Hu-u-u ...


Aku untuk kamu


Kamu untuk aku


Namun semua apa mungkin


Iman kita yang berbeda


Tuhan memang satu


Kita yang tak sama


Haruskah aku lantas pergi


Meski cinta takkan bisa pergi


Benteng begitu tinggi


Sulit untuk kugapai


Hmm ...


Aku untuk kamu


Kamu untuk aku


Namun semua apa mungkin


Iman kita yang berbeda


Tuhan memang satu


Kita yang tak sama


Haruskah aku lantas pergi


Meski cinta takkan bisa pergi


Bukankah cinta anugerah


Berikan aku kesempatan


'Tuk menjaganya*…


Mereka pun menyanyikan reff bersama, "Tuhan memang satu kita yang tak sama haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi." Hingga mengantarkan mereka ketepian kegelisahan tentang hubungan di atas keimanan yang berbeda.


Thea pun mulai memancing sisi romantis kekasihnya itu, ia geser jemarinya mendekati jemari Onci, dan obralan dewasa pun menghiasi suasana, naluri lelaki Onci muncul ketika sang gadis memberi isyarat tubuh layaknya sepasang suami-istri.


Onci menghampiri kedua jemarinya dan ingin ia pegang erat sambil berucap kata cinta, namun disaat jemari itu mendekat.


"Daaasar lelaki, dikasih kesempatan dikit maunya nyosor...hahahaa...Ingat Pak Ustadz,kita belum muhrim!!" Canda Dhea.


"Heeeem tau begitu males aaah....!" Onci pun tersipu malu karena Dhea hanya sebatas menguji imannya.


"Lain kali nggak akan aku kepancing."


"Yakiiin? Kuat imannya?!"


"Udaah ah males aku sama kamu." Ucap Onci.


"Bahas yang lain aja yaaah?" pinta Dhea.


Terbesit ide gila dari Dhea," yank, kalau saja di Indonesia pernikahan beda iman itu dibolehkan, aku mau nikah sama kamu. Kalo nggak kita nggak bisa menikah hanya karena iman kita yang tak sama, apa kita nikah di Belanda aja yuk?"


"Yakin?"


"Yakinlah. Aku mau nanti di pernikahan kita, di kamar aku ada bunga tulip dan sepasang merpati putih.Undangan pernikahan dengan cover warna putih dan di balut pita merah jambu. Preweddingnya, aku mau kamu kejar aku di tengah taman bunga, disitu kita sama-sama melepas burung merpati putih. Duh,indahnya bukan?"


Thea larut dalam imajinasinya, berkhayal tentang konsep pernikahan yang ia inginkan. Karena baginya pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, harus dibuat seindah mungkin.


"Amin semoga apa yang kamu harapkan terkabulkan Tuhan."


"Yah harus dong, kita imani pasti Tuhan kabulkan. Bukankah hidup berawal dari mimpi yank?"


"Iya sih, tapi kalo nggak tidur dulu apa bisa mimpi?"


"Habisan kamu ada-ada aja."


"Ngomong-ngomong kapan kamu ajak aku ketemu Abah dan Umi kamu?"


Nah loh, Onci dapet pertanyaan itu lagi. Pertanyaan yang ringan tetapi sulit untuk dijalankan.


"Ii...iya yaank aku mau kenalkan kamu ke Abah dan Umi. Tapi apa iya kamu mau pake jilbab?"


"Kenapa nggak?! Itukan simbol saja bukan? Bukannya Tuhan sendiri tidak bersemayam dalam simbol-simbol itu kan? Bukannya simbol-simbol itu hasil cipta manusia yaank?"


Benar-benar ucapan Dhea begitu serat dengan sebuah filosofi. Bahwa memang Tuhan itu tidak bersemayam atau berdiam diri pada sebuah simbol.


"Jadi kapan aku kamu ajak ke orang tua mu?"


"Nanti aku liat situasinya."


"Jawaban itu yang selalu aku dengar, dan nggak akan aku tanyakan lagi."


"Iyaa..iya, aku akan ajak kamu ke rumah."


"Asiiik aku ke rumah calon mertua. Oh iya, ingat hari minggu jangan ada alesan nggak bisa, aku malu sama pengurus gereja nantinya."


"Waaaduh! Hampir lupa, hari minggu juga di Madrasah ada pengajian mingguan yang aku harus hadiri." Seraya dalam hati.


"Siaaap yaank, aku pasti anter kamu ke gereja sekalian ngajar sekolah minggu kan?"


"Iya. Yaudah yuk kita pulang takut kemalaman perjalanan kita jauh."


"Ok."


Mereka pun bersiap-siap untuk kembali memacu kendaraan roda duanya. Dan kembali membilas aspal.


_______________¤¤¤_____________


@Ruang Keluarga


Kediaman Abah Syahrul


Nampak dari depan rumah dua lantai itu terlihat megah dengan design Eropa minimalis, dengan pepohohonan rindang dan bungalow. Masuk ke ruang tamu, kita bisa melihat pajangan kaligrafi berbentuk Ka'bah dan guci besar. Beberapa kaligrafi lainnya pun tertempel di dinding ruangan. Lampu kristal terjuntai dengan ukuran yang besar. Ikan hias menari begitu lincahnya, di tengah gelembung air.


Di ruang keluarga televisi membentang lebar dan terlihat abah dan umi sedang berbincang-bincang, salah satu topik pembicaraanya adalah Ozi alias Onci.


"Mi, apa si Ozi kita nikahin aja ya?Biar itu anak sedikit mikir dan nggak liar seperti ini."


Terbesit pikiran yang abah menikahi atau mencarikan jodoh untuk Onci. Entah rencana apa lagi dengan ini semua.


"Umi mah bagaimana Abah dan Ozi aja, Umi hanya makmum."


"Kali aja dengan nikah bisa rubah hidupnya."


"Emangnya Abah mau jodohin si Ozi sama siapa?"


"Anaknya si Haji Romli."


"Maksud Abah Nabila?"


"Iya Nabila, nanti biar Abah ngomong sama Haji Romli."


"Coba aja, tapi ngomong dulu sama anaknya."


"Maksud Umi Abah harus bicara dulu sama Ozi?"


"Yah Ozi dan Nabilanya juga."


Selagi mereka begitu serius membicarakan perihal perjodohan antara Onci dengan Nabila.


"Assalamu'alikum Abah....Umi." Onci mengucap salam dan mengejutkan mereka.


"Waaah panjang umur, baru diomingin sudah dateng anaknya."


Onci pun terkejut dengan ucapan abah dan umi hanya bisa diam. Selaku istri yang harus ta'at kepada keputusan suaminya, dan umi sudah paham betul karakter abah, hampir kurang lebih dua puluh lima tahun lebih menenaminya.


"Ente coba duduk dulu disini."


"Nanti aja kali Bah, anaknya juga capek baru pulang." Umi mencoba membela Onci.


"Udah Umi nggak apa, emangnya apa yang mau dibicarakan Bah?" Onci pun penasaran.


"Begini Zi, umi sama abah kan sudah tua. Agama itu mengajarkan bahwa tugas orang tua selain memberikan nama yang baik, menyekolahkan, dan yang terakhir menikahinya. Nah, Abah mau menunaikan tugas sebagai orang tua, melengkapinya."


Onci pun terkejut dengan pembicaraan abah dan tahu benar arah dari obrolannya.


"Tapi Baaah..."


"Jangan dulu dipotong pembicaraan abah! Nah, rencananya Abah mau jodohin ente sama anaknya Haji Romli, si Nabila."


Semakin membuat Onci tidak habis pikir, apa maksud dari ini semua?


Bersambung >>>