Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Tak Ada Duka yang Abadi


Semilir angin, dan jutaan rasi bintang menghampar di hitamnya, terselip senyum sabit menambah indahnya malam itu, menjadi saksi cinta bagi Arul dan Nabila, yang sudah mendapat menuju restu Mamak, Abah dan Abi serta keluarga besar Yayasan, maka berlengganglah mereka menuju pelaminan, yang dinanti.


Lengkap sudah restu yang diperoleh Arul dan Nabila, walau acara semacam ini bukan kali pertama baginya, namun berbeda dengan Arul yang baru pertama merasakan suasana indah di malam mangkat atau walimatul lail.


Handai taulan mengantarkan ucapan selamat, suara-suara tahlil, tahmid dan takbir, alunan Al-Barjanji bertalun begitu indah. Tamu yang hadir tak putusnya mengantarkan doa, karena esok hari yang dinanti untuk mereka. Untuk kedua kalinya, Ustadz Burhan menjadi ketua panita di malam walimatul lail, dan esok dihari pernikahan mereka.


Bukan hanya itu saja, rumah sakit yang di bangun Arul sudah tahap akhir dan beberapa minggu lagi akan diresmikan menjadi Rumah Sakit Islam pertama di tingkat provinsi. Yang pastinya menjadi kado pernikahan bagi Nabila.


Inilah pernikahan dua insan yang memili enterpreneurship di bidang berbeda, pernikahan bukan semata menyatukan dan menyeragamkan hati saja, tetapi menyempurnakan kekurangan satu dan yang lainnya.


Pernikahan seperti kedua kaki, yang berbeda telapaknya tetapi memiliki tujuan yang sama.


Pernikahan bukan saling melemahkan, melainkan menjadi penopang disaat langkah kaki kayuh dan lunglai melangkah.


Pernikahan adalah bentuk penyempurna keimanan seorang hamba, dimana menjadi bukti bahwa Allah itu ada, dan Allah terlibat dalam proses bertemunya dua anak manusia.


Langit kembali merunduk, semesta menjadi saksi ikrar cinta dua anak manusia, ribuan malaikat senantiasa bertasbih dan mengantarkan doa untuk dua insan yang terikat janji dalam ikrar ijab dan qabul.


Barakallahulakum...


Airmata Nabila kembali jatuh tapi tidak untuk kesedihan, namun senyum kebahagiaan, sekian lama ia tak merasakan arti pernikahan yang sesungguhnya.


Sekian lama ia tidak mengenal hakikat dan arti seorang suami yang sesungguhnya. Sekian lama juga, ia menahan siksa batin yang untuk pergi saja sulit, dan memilih bertahan pun sakit.


Kini tak ada duka yang abadi, tak ada air mata yang tak berkesudahan, tak ada malam yang panjang, malam kan berganti siang.


Untuk melihat pelangi, perlu merasakan dan mendengar gemuruh, menikmati hujan dan badai.


"Selamat Ya Nabila, semoga cepet dikasih momongan." Ucap Bu Aida, staf pengajar.


"Bila pinter banget cari suami, udah ganteng, tajir, soleh lagi." Bisik-bisik salah satu tamu undangan yang hadir dalam acara walimah di auditorium Yayasan.


Mimik wajah bahagia Abah terpancar, walau Nabila bukanlah anak kandungnya, hanya mantan menantu, tetapi Abah tahu bagaimana sakitnya menjadi Nabila, Abah mengingat kembali masa-masa bahagia bersama Umi waktu pertama kali ia meminta Aisah, dengan keadaan yang tidak memungkinkan, kekurangan materi, dan bagaimana Aisah begitu setia menemani perjalanan serta perjuangannya.


Abah juga teringat bagaimana ia mencintai Aisah sepenuh hati, ia berkeinginan membahagiakan sang istri, sesekali menghadiahkannya, mengajak Aisah menunaikan haji.


"Seh, semoga aja kita bisa ketemu lagi ya?" Matanya nanar memandang Nabila di pelaminan, sambil teringat kembali saat-saat indah dahulu.


Abah amat menyayangkan dengan sikap Ozi sang anak, yang sudah menyianyiakan Nabila.


"Bil, maafin Abah yah, sudah salah menjodohkan Nabila sama si Ozi." Bisik Abah kepada Nabila, saat ia mengucapkan doa dan selamat atas pernikan Nabila dan Aruliansyah, alias Arul.


"Iya Bah, Nabila yang salah kok, bukan Abah, dan semua biarlah menjadi hikmah Bah." Balas Nabila.


"Rul, Abah titip Nabila, perlakukan Nabila seperti ente memperlakukan ibu dengan akhlak yang baik, semoga hanya kematian yang bisa memisahkan kalian.


"Insyallah Bah, Arul akan jaga Nabila dengan baik."


Kini Abah sadar, kalau pernikahan itu bukan kemauan atau paksaan dari siapa pun juga, ia merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi, niat Abah menikahi Nabila dengan putra satu-satunya itu, berharap kelak Ozi bisa berubah dan mau meneruskan apa yang sudah orang tuanya lakukan. Justru semuanya terbalik.


"Ya Allah, maafkan kesalahan hamba mu yang sudah mendahului segala kehendak dan ketetapan Mu." Ucap Abah dalam hati, setalah mengingat kembali kesalahannya yang sudah menjodohkan putranya atas dasar hubungan pertemanan, dan perasaan serta harapannya saja.


Abah pamit dan izin untuk istirahat, karena beberapa bulan ini, kondisi kesehatannya menurun.


_______ oOo________


Braaak...


Braak...


sudah menjadi kebiasaan di dalam LAPAS, untuk membangunkan para narapidana.


"Fahrurozzi bangun!" Suara sipir mengejutkannya.


"Iya Bang, ada apa?" Tanya Ozi.


"Laaah elo masa lupa, hari ini kan elo bebas...."


"Ah yang bener Bang?"


"Oh jadi elo masih betah disini?"


"Kan mana tahu kalo saya bebas."


"Iya Bebas,...siapin baju-baju lu, dan menghadap komandan."


"Siaaap Bang." Terlihat wajahnya begitu sumringah, ia langsung masuk ke dalam ruang tempat ia di tahan, dan membuka lemari, segera berkemas, bergegas menghadap kapala LAPAS.


"Mas Ozi, ini surat bebasnya yah? Tolong di tanda tangani, sudah genap di potong masa tahanan, dan nanti tinggal wajib lapor saja untuk beberapa waktu." Ucap kepala sipir.


"Silahkan tanda tanganin disini."


"Iya Pak...."


Fahrurrozi menandatangani surat bebas dari penjara, karena sudah cukup masa tahanannya.


"Sudah Pak."


"Oke, dan untuk sementara wajib lapor setiap minggu satu kali yah? Di hari Kamis."


"Siaap Pak."


Setelah proses administrasi selesai, Ozi hanya membawa tas berisi pakaian, ia menghirup udara bebas, dan lepas. Tak ada tempat kembali selain ia menemui Ustadz Burhan.


"Ah, gw temuin Ustadz Burhan aja, pasti dia ada di Yayasan." Sambil tersenyum ia melangkahkan kaki ke Yayasan untuk menemui yang ia anggap sebagai kakak angkat.


Dengan menggunakan ojek, ia menuju Yayasan. Sesampainya tempat yang ditujuh, Ozi terkejut dengan keadaan yang sudah banyak perubahan, plus ada bangunan baru yang berdiri kokoh, bertuliskan Rumah Sakit Islam Afiat.


"Luar bisa perubahannya."


Ada pemandangan lain yang bukan saja mengejutkannya, bahkan membuat jantung melambat berdetak, Yayasannya terlihat begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan yang terparkir dan tamu undangan yang cukup berkelas.


"Oh mungkin acara peresmian rumah sakit." Ujar Ozi dalam hati, namun ia masuk ke dalam untuk memastikan acara apa yang sedang berlangsung itu. Langkah kakinya terhenti, saat melihat rangkaian bunga bertuliskan, selamat menempuh hidup baru untuk Nabila dan Arul.


Jantung seperti terhenti seketika, darah mengalir disekujur tubuh, saat melihat rangkaian bunga yang berjajar sebelum memasuki auditorium Yayasan.


"Ozi, ente sudah bebas?" Ustadz Burhan mengejutkannya.


"Alhamdulillah, baru tadi. Nabila nikah Ustadz?"


"I...iya Zi, bukannya Mas Arul kemarin sudah bicarakan ya?"


"Iya sih."


Ustadz Burhan nampak gugup untuk menjelaskannya.


Bersambung >>>