Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Dilema


Bukan perkara yang mudah bagi seorang Onci untuk memilih, apa yang menjadi harapan kedua orang tuanya dan ia pun harus menjaga perasaan gadis yang tidak mudah ia dapatkan, dan harus menebusnya dengan pengorbanan yang sudah ia berikan.


Berat baginya untuk membiarkan Dhea jalan sendiri, sehari saja Onci tak bertemu dengannya, ia khawatir dengan pergaulan Dhea, terlebih dunia kampus. Yang pasti, Dhea masih rentan dan mudah goyah pendiriannya. Cinta bisa tumbuh lantaran ada kesempatan, serta seringnya bertemu.


Berat bagi Onci untuk memilih dan mencari jalan keluarnya, bagaimana ia harus memenuhi apa yang menjadi keinginan Abah dan Umi, begitu juga bisa berbagi waktu semaksimal mungkin dengan Dhea. Dan akan menguras energi lebih banyak lagi.


"Daripada harus sekolah ke luar negeri, lebih baik turuti apa yang menjadi keinginan Abah dan Umi," gumam Onci dalam hati.


"Setidaknya gw masih bisa ketemu Dhea, dan ia paham keadaan ini," membatin.


Sekilas pikir, untuk membagi waktu itu terlihat mudah bagi Onci, ia tidak pernah tahu bagaimana harus berpacu dengan waktu.


"Bagaimana? Ente pilih Abah sekolahin di luar negeri apa mau bantu kita mengelola Madrasah?" Abah menegaskan kembali.


"Ozi pilih bantu Abah dan Umi kelola Madrasah saja. Tapi, kasih Ozi waktu ya Bah tuk atur semuanya?" Onci mengajukan permohonan keringanan waktu memulainya.


"Alhamdulillah kalo jawaban ente begitu, yang jelas Abah dan Umi seneng dengernya." Dan akhirnya Abah sedikit lega dengan ucapan Onci.


"Alhamdulillah." Umi pun merasa senang mendengar pernyataan Onci.


Senyum pun merekah dari kedua bibir mereka, mendengar anak satu-satunya itu menerima masukan dan permintaan orang tuanya.


"Abah...Umi, Ozi istirahat dulu ya? Takut solat Subuh kesiangan." Onci pun meminta istirahat karena malam semakin larut.


"Iya Bang, istirahat dan besok mulai sholat subuh berjama'ah, kalau bisa abang yang jadi imam nya yah?" Pinta Umi, agar Onci bisa mengimami solat Subuh berjam'ah di musolah madrasah.


"Insyallah ya Mi."


Dan Onci pun beranjak dari tempat duduknya, langsung menuju kamar tidur. Seharian ini ia sibuk dengan keluarga Dhea.


__________________¤¤¤_________________


Sering kali, kita menjalani sesuatu yang diluar keinginan kita, dengan mengorbankan perasaan demi membahagiakan orang, tanpa memperdulikan keadaan yang kita alami, seperti itu yang Onci alami hanya demi membahagiakan orang disekelilingnya, termasuk bangun di pagi hari dan bergegas untuk berangkat ke Musolah, walau mata masih berat.


"Abang, bangun...." Suara Umi memudarkan mimpi dan tidurnya.


"Iya Mi."


Untuk beberapa saat, ia memulihkan diri dan memastikan bahwa kakinya sanggup melangkah ke kamar mandi. Namun, ia harus lakukan dibandingkan mendengar ocehan Abah.


Rasanya, ingin kembali memeluk bantal dan bersembunyi di balik hangatnya selimut.


"Abang, bangun....jangan tidur lagi!" Suara itu muncul kembali dari balik pintu kamar.


"Iya Mi, ini baru habis mandi." Alasannya.


"Umi sama Abah nunggu Abang, berangkat ke musolahnya bareng."


"Iya Umi, sabar yaaah?"


"Ditunggu."


Bergegas ia langsung ke kamar mandi dan sekuat mungkin Onci menahan dinginnya air. Setalah itu, ia kenakan pakaian solat dan langsung menemui keduanya.


Mereka pun pergi menuju musolah bersama-sama. Pemandangan yang jarang sekali terlihat, biasanya hanya Abah dan Umi. Tapi sekarang bertambah lagi, penerima hidayah, pejuang Subuh.


Setelah adzan dan iqomah dikumandangkan, kini saatnya imam muda itu memimpin Solat Subuh berjama'ah.


Kalau sudah begini, susah untuk melanjutkan mimpi kembali.


____________________¤¤¤__________________


Selepas menunaikan Sholat Subuh, mereka melanjutkan olah raga dan menikmati sarapan pagi, istirahat sebentar dan berbincang-bincang, lalu menunaikan kembali Solat Dhuha, dan memang seperti itu apa yang dilakukan Abah dan Umi setiap harinya.


"Kalau bisa, ente ke madrasah ya Zi, hanya sekedar nengokin aja, setelah itu bebas deh ente mau ngapain."


"Bener-bener mirip waktu mondok dulu." Gumam Onci.


"Iya Bah, Onci memang mau liat-liat madrasah," demi menyenangkan orang tua, hari ini apa yang mereka pinta akan Onci turuti, walau betapa berat matanya tak ia pedulikan.


"Asal kau bahagia Bah, Mi." Gumam Onci dalam hati.


"Semoga aja setiap hari begini, ente mau pergi haji bolak-balik juga ane bayarin Zi." Canda Abah, melihat perubahan Onci.


Ditengah canda mereka, tiba-tiba Thea WhatsApp.


Lovly Dhea


Yank, anter ke kampus ya?😀


Akun tunggu, jangan telat


ada MK penting 😘


Ekspresi wajah Onci langsung berubah, saat menerima WhatsApp dari Dhea. Dan ia panik, karena ada satu permintaan Abah dan Umi, ia harus ke Madrasah untuk sekedar berkunjung dan menyapa rekan pengajar, serta mempelajari situasi.


"Bb...Bah...Ozi ke Madrasah dulu ya? Biar bagi waktunya enak, dan lebih lama disana," alasannya.


"Oh iya, yaudah. Abah bisa istirahat dulu di rumah, habis Zuhur kita rapat dengan guru dan staf." Ucap Abah yang akan datang ke Madrasah sehabis solat Dzuhur.


"Waduh, pake rapat segala."Gumamnya.


Secapat mungkin ia meninggalkan Abah dan berganti pakaian. Beberapa menit saja ia mampir ke Madrasah. Sebagai syarat atau absen muka.


Sesampainya di Madrasah, ia bertemu dengan Nabila, gadis yang baru beberapa hari ia bertemu di rumah.


"Eh Kakak yang kemarin pagi di rumah pak haji?" Gadis itu mulai menyapa.


"Eeh kamu, ngajar disini?" Onci balik menyapa


"Iya, baru satu hari ngajar. Abang, ada apa kesini?" Tanya nya.


"Waah, kebetulan ada ini cewek. Biar gw setting dan didik untuk kerjasama." Onci merasa sudah menemukan solusi.


"Siapa deh nama kamu?" Tanyanya


"Nabila Kak."


"Ngajar kelas berapa?"


"Baru dikasih kepercayaan tiga kelas Kak,"


"Ok, nanti pelan-pelan aku akan bicarakan ke Abah, tapi ada syaratnya."


"Syarat apa Kak?"


"Nanti kalo Pak Haji ke sini, dan nanyain Kakak. Bilang saja lagi ada keperluan sebentar, boleh minta no kamu?!" Ucap Onci mulai melancarkan rencannya.


Dan gadis itu pun memberikan nomor handphonenya.


"Nanti kalo Abah sampai kabarin aku yah?"


"Ii...iya Kak." Jawab gadis berdarah Arab-Betawi itu.


"Ok Terimakasih Nabila, kabar-kabarin ya? Assalamulaikum."


"Walaikum Salam."


Onci pun melesat dengan motor sport, berpacu dengan waktu, mengingat ada Mata Kuliah penting yang harus Dhea ikuti pagi ini.


Sepanjang jalan handphone nya berdering tidak hentinya, terlihat di LED tertulis My Lovly Dhea.


"Aku lagi di jalan yaank, tunggu yaah sabar! Ini sudah mau sampai ke rumah kamu."


Tak beberapa menit akhirnya Onci sampai juga di depan rumah gadis itu.


"Sorry telat, ada urusan dikit disuruh Abah dan Umi." Jelas Dhea.


"Yaudah ayo jalan, keburu telat. Dosennya Killer yaank, kalo telat nggak boleh masuk."


Baru saja ia sampai di kampus, Onci terusik kembali dengan dering suara handphone nya, rupanya Nabila menghubunginya.


"Assalamualikum Kak, dicari Pak Haji dan ditunggu di ruang guru." Ucap gadis itu.


"Walaikum salam, iya aku segera meluncur." Jawab Onci.


"Telepon dari siapa Yank?Kok Suara cewek?!" Tanya Dhea curiga.


"Oh, orang sekolahan Abah. Aku dipanggil Abah tuk rapat." Onci menjelaskan perihal suara cewek itu.


"Yaudah kamu temui Abah dulu, nanti balik lagi kalo aku sudah selesai kuliah. Aku mau ngajar dance nanti habis pulang kuliah." Pinta Dhea.


"Huft! Tak apa lah daripada aku harus ke Luar Negeri." Keluh Onci dalam hati.


Hari-hari Onci akan seperti ini nantinya, akan diburu waktu demi melayani Abah, Umi dan Dhea.


Bersambung >>>>>


_____________**Hi Readers😘_________


Terimakasih sudah mampir ke karya kecil saya, penulis yang masih terus belajar mengembangkan karya. Oh iya, tinggalkan juga jejak komentar dan karya temen-temen semua yah? Biar aku mampir juga.


Jangan lupa :


👉 Vote


👉 Share


👉 Like, dan


👉 Tanda bintang untuk barometer kami


atas kepuasan temen-temen, serta..


👉 Jangan lupa juga tekan ❤ sebagai bacaan favorit, dan dapat update terus episodenya.


👉 Dan kunjungi kanal literasi kami.


Terimakasih**


_________________________________________