
Onci berusaha untuk memahami dan mempertahankan semua, disatu sisi ia hanyalah seorang anak dan paham betul posisinya dalam keluarga, ia tidak ingin membuat hati kedua orang tuanya terluka. Setiap ada keputusan abah sebisa mungkin ia berusaha untuk menjalankannya.
Sebagai seorang anak, adakalanya ia merasa jengkel dengan sikap abah yang memang 'nyeleneh' dan menganggap bahwa kelak ia lah yang menjadi penanggung jawab atas amanah yang Tuhan titipkan, anak, istri, harta dan beban ratusan santri. Mungkin karena ia cukup lama mendalami ilmu agama, baik selama menjadi santri, mengabdikan diri di pesantren menjadi pengajar, setelah itu ia mengabdikan diri kepada masyarakat hingga akhirnya sedikit demi sedikit ia membangun sekolah atau madrasah, yang sebantar lagi akreditasinya ingin beliau naikan menjadi pondok pesantren dan Islamic boarding school.
Onci pun harus mengimbangi apa yang menjadi keinginan abah, memang selepas lulus pesantren abah menginginkan Onci untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang mubaligh atau da'i. Kasarnya, ia sudah tidak harus capek lagi untuk merintis karir, karena membawa nama besar abah.
Dari situlah, Onci tidak mau dibawah bayang-bayangan orang tuanya, yang justru menjadi beban nantinya. Untuk itulah ia mengawali karirnya dengan membangun usaha event organizer tanpa meminta sepeser pun modal dari orang tuanya. Namun sering kali abah dan umi memaksanya untuk ikut membantu mereka mengembangkan yayasan pendidikannya, yang sudah mereka rintis dari nol sampai memiliki ratusan santri, bahkan ribuan santri atau murid yang sudah mengenyam pendidikan di sekolah yang abah dan umi bangun dengan jerih payahnya.
Intimidasi, ancaman dan tekanan dari abah, yang ingin mengirimkan Onci ke Timur Tengah jika saja ia tidak mau menuruti apa yang abah perintahkan, sampai urusan mencari pasangan hidup abah pun ikut andil, terbukti yang tanpa ada kompromi dengannya abah mengatur acara lamarannya dengan Nabila, anak gadis berdarah arab yang juga putri dari sahabatnya itu, H.Romli.
Sampai acara pengajian rutin setiap minggu, atau tabligh akbar tanpa diskusi dengannya, tiba-tiba saja diminta untuk naik ke atas panggung yang sebegitu besarnya dan dihadiri Habaib, ulama, aparatur pemerintah dan tokoh masyarakat lainnya tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu, padahal selepas sholat Dhuha dan sarapan pagi bareng tak sepatah kata pun ia ucapkan, justru ia tahu dari Ustadz Burhanuddin, dari mulut orang lain.
"Abah tidak ada pembicaraan dengan ane Stadz, kalau memang diminta untuk sambutan seharusnya abah bicarakan terlebih dahulu, apa saja yang harus ane sampaikan. Bagus ane ketemu ustadz disini, masih ada jedah beberapa jam untuk menyusun kalimat sambutan."
"Yah ane juga nggak tahu Stadz, tiba-tiba abah yai-i menyuruh ane atur acara dan meminta Ustadz Ozi untuk sambutan, yah,sebatas perekembangan madrasah dari awal sampai kedepannya mau seperti apa itu saja sih stadz." Jelas Ustadz Burhan yang juga alumnus dan diminta abah untuk mengabdi di yayasan.
"Ane ucapin terimakasih Ustadz Burhan sudah mengingatkan ane. Oh iya ustadz, ane pamit dulu yah? Ada urusan yang abah suruh juga.
"Tafadhol Ustadz." yang artinya silahkan ustadz, memang di tiga bahasa yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di yayasan, yakni bahasa Arab,Inggris dan Indonesia.
Onci pun langsung meninggalkan madrasah dan menjemput Dhea, dilanjut mengajar sekolah Minggu di tempat Thea ibadah. Kegiatan berikutnya ia harus mengisi sambutan dalam acara Tabligh Akbar tersebut.
"Huft, bener-bener nguras pikiran."
Secepat mungkin ia harus sampai di rumah Dhea, agar bisa mengatur waktu dengan baik dan sesuai rencana.
"Hii yaank, udah lama nunggu?" sambut gadis itu sambil membuka gerbang.
"Ya ampun, kok kamu pakai baju begitu? kamu bawa salin?" Onci pun lupa bahwa ia masih mengenakan baju koko.
"Iya aku lupa bawa baju salinan, kamu kan tahu sendiri abah suruh aku dan kamu hadir di acara pengajian minggu."
"Yaudah nanti aku cariin kemeja papah. Bisa gempar gereja kalau tahu kamu siapa." Thea pun mencari kemeja milik papah-nya, dan hanya keluarga Dhea saja yang tahu kalau Onci itu seorang muslim.
"Cepet salin dulu baju kamu, habis itu kita berangkat."
Setelah salin, Onci dan Dhea langsung menujuh gereja, dan Dhea mengatur petugas pelayanan dahulu, Onci sendiri sudah standby di ruang kelas sekolah Minggu.
"Hi koko Samuel, How are you?" Kenken bocah lelaki itu menyapanya dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Hi Ken, am fine, and you?"
"Fine too."
Orang tua Ken melemparkan senyum dan menitipkan putranya kepada Onci.
"Titip Ken yah Koko." Ucap mami nya dengan senyum yang menitikkan lesung pipi.
"Ok tante."
Untungnya Onci memiliki mata yang sipit dan kulit putih, hingga mereka menganggap kalau Onci berdarah Tionghoa. Selang beberapa lama hadir juga Ivana, Abraham, Kanaya, Natan, Martin, sikembar Ken dan Key, ada juga Martinus yang memiliki keterbelakangan pertumbuhan, si Barbei Bianca, Georger, Joshua, Niken dan masih banyak.
Dalam keadaan dan pikiran yang kalut Onci berusaha tersenyum.
"Belum siapin materi sambutan! Anak-anak juga nggak bisa gw tinggal." Gumam Onci.
Dhea pun begitu sibuk mengatur petugas pelayanan dan paduan suara untuk senandung puji-pujian, atau sholawat kalau dalam Islam.
Setelah selesai melaksanakan tugas, Dhea pun akhirnya turun dan menemani Onci memberikan materi, mulai dari dongeng, bermain boneka tangan, mewarnai dan menjaga mereka bermain. Tanpa sadar, suara adzan dari handphone nya berbunyi. Ia lupa mematikan waktu pengingat sholat.
"Koko itu suara apa? Mirip suara yang Ivana dengar di masjid deket rumah. Are you moslem koh?" Onci pun gugup menjawab pertanyaan Ivana.
"Oh, koko Samuel lupa matiin tadi kokoh lagi nonton youtube." Dhea pun langsung menyelip dan menjawab pertanyaan Ivana.
"Kamu itu harusnya matiin dulu alarm nya."
"Iya aku lupa yaank, maaf."
"Ok yah adik-adik semua, pertemuan kita minggu ini sampai disini dulu. Minggu besok kita lanjutkan lagi, jangan lupa membawa peralatan yang koko sampaikan tadi."
"Ok Ko." Serentak mereka menjawab.
Di luar kelas terlihat orang tua mereka sudah menunggu. Dan Onci pun diminta untuk ke ruangan pengurus gereja.
"Koko terimakasih yah sudah bantu kami mengajar dan ini ada sedikit transport untuk koko." Ucap pendeta Ignatius.
"Apa ini pak?" Onci memegang amplop yang cukup tebal itu.
"Transport untuk kamu." Balas Dhea.
"Ambil lah, sebagai pengganti uang makan dan bensin koko."
Dengan berat hati ia pun menerima uang tersebut dan pastinya dengan jumlah yang besar.
"Terimakasih pak pendeta, saya terima pemberian bapak."
"Salom." Jawab pendeta
Mereka pun langsung meninggalkan geraja, Thea menemui kelurganya dan meminta izin tidak bisa hadir untuk kebaktian sore.
"Maah, Pah aku izin hari ini yah? Ada acara kampus yang Dhea harus hadir."
"Yaudah hati-hati, Onci tante titip Dhea yah? Oh iya kamu nggak makan siang dulu? Kan capek baru ngajar sekolah minggu."
"Ah terimakasih tante, nanti biar kami makan di luar saja."
"Yaudah, pulangnya jangan malem-malem yah?"
"Iya tante."
Jam menunjukan pukul 12.30 suara handphone Onci tidak berhenti berdering, mulai dari abah, umi dan Ustadz Burhan, bahkan Nabila. Ada dua belas kali panggilan tak terjawab.
"Yank, kalau ada SPBU berhenti yah?"
"Mau apa?"
"Lah kok tanya mau apa! Aku harus salin lah, pakaian muslimah, masa seksi begini. Kamu mau gemparkan seisi acara?"
"Oh iya lupa, maaf banyak pikiran."
"Tuh di depan ada SPBU berhenti sebentar."
Onci pun menghentikan laju kendaraanya dan parkir sejenak, dan menunggu Dhea mengganti pakaian serta make up.
Dan untuk kedua kalinya Onci dibuat terperangah dengan penampilan Dhea.
"Subhanallah." Matanya melotot saat melihat Thea keluar dari toilet.
"Andai saja dia seorang muslimah, tak ada lagi keraguan hati untuk menyegerahkan pernikahan dengan gadis yang kini beridiri di hadapanku. Ya Allah, jangan pisahkan kami dalam perbedaan. Bukankah engkaulah pemilik kesucian cinta? Duhai yang Maha Pencinta." Doa Onci saat melihat orang yang ia cintai berdiri di depannya.
" Yaaaank...yaaaank, ayo nanti terlambat." Suara Dhea memecah lamunannya.
Ia pun segera memacu kendaraanya dan hilang diantara padatnya kendaraan lain. Sesampainya di tempat berlangsungnya acara, sudah terdengar suara qori' membacakan ayat suci alqura'an, surat Al-Hujurat ayat 10-13 :
Innamal-mu`minụna ikhwatun fa aṣliḥụ baina akhawaikum wattaqullāha la'allakum tur-ḥamụn.
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.
yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaskhar qaumum ming qaumin 'asā ay yakụnụ khairam min-hum wa lā nisā um min nisā in 'asā ay yakunna khairam min-hunn, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazụ bil-alqāb, bi sa lismul-fusụqu ba'dal-īmān, wa mal lam yatub fa ulā ika humuẓ-ẓālimụn
*Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim*.
*Y**ā ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram
minaẓ-ẓanni inna ba'ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba'ḍukum ba'ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm*.
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.
Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.
Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīr.
*Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti*.
Dengan merdunya suara itu menggugah hati Dhea.
"Suara apa itu yank? Apakah suara itu rekaman video?"
"Yang dibaca itu Al-Qur'an, kalau di kamu injil. Dan orang yang membacakannya itu live, bukan rekaman dan disebutnya Qori'."
"Bagus banget suaranya! Kamu bisa?"
"Insyallah, mudah-mudahan."
Onci dan Dhea membelah ribuan jama'ah, hadirnya Dhea memukau suasana dengan pesona kecantikannya. Dhea hanya membalasnya dengan senyum dan dua jemari tangan ia rapatkan, sebagai simbol salam.
Nampak Nabila berdiri di sela-sela Jama'ah. Dan beberapa tamu yang hadir berbisik kepada abah.
"Itu calon anak ente Kiayi?"
"Insyallah."
***Bersambung >>>