Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Memilih Hidup itu Berat


Onci mulai merasakan ada yang hilang dari kebiasaanya, yang dahulu ia selalu antar-jemput Dhea, kini gadis itu sering pergi dan mengemudi sendiri.


"Ini untuk kedua kalinya aku menyiapkan waktu dan menawarkan mengantarkan Dhea, tapi anehnya dia kekeuh mau jalan sendiri, ada apa?" Onci menyimpan pertanyaan yang menurutnya, Dhea tidak biasa jalan sendiri dan pasti ia selalu mengajaknya.


"Kadang kalau kita tahu akan lebih sakit, biarlah aku mencoba tak mau mencari tahu, daripada sakit nantinya. Heeem, tapi penasaran juga." Dalam pikiran Onci terus bertanya-tanya.


Disaat Onci meminta alasan, "Ah nggak apa yank, kamu konsen di sekolah saja. Dan itu yang penting, aku bisa sendiri dan tidak ada masalah apa-apa yaank, kamu jangan berburuk sangka atau suudzon sama aku." Itu yang sering Dhea katakan.


"Sudahlah, aku percaya ia akan menjaga hatinya, kalau aku terus curiga ia akan merasa tak nyaman lagi. Dan berlahan pergi."


__________________Dhea 🙋‍♀________________


Pagi-pagi sekali gadis itu pergi meninggalkan rumah, dan pulang larut malam. Sudah hampir tiga malam berturut-turut.


"Aku tak boleh menyerah dan letih, apa yang aku dapatkan hari ini adalah kesempatan yang tak akan datang kedua kali. Kadang ingin meminta Onci anter-jemput, pastinya akan mengganggu urusannya. Biarlah ia juga punya hak untuk meraih apa yang ia impikan. Dan orang tuanya menaruh harapan lebih padanya. Ini yang terbaik untukku dan dia." Terkadang perasaan letih itu pun muncul, Thea berusaha menjadi gadis yang mandiri, dan tidak ingin mengusik masa depan Onci.


"Kalo boleh jujur, Onci itu sempurna menjadi pasangan hidup, sudah wajahnya mirip-mirip orang arab, tinggi, kulit putih dan dikeliling orang tua serta orang-orang yang menopang masa depannya, yah tetapi masalah keimanan yang tidak bisa kita melawannya, sebanrnya mamah dan papah tak ingin akh jadi penari. Karena bertendangan dengan ajaran kristus.Yah apa mau dikata, kalau sudah hobi tak ada satu orang pun yang dapat menghalangiku.It's my way, my life's choices and nothing can stand in the way of my dreams, yah termasuk Onci dan mamah-papah." Sepanjang jalan Dhea memikirkan itu.


"Maafkan aku yank, kamu punya keimanan yang harus kamu pertahankan. Begitu juga aku, apa jadinya jika keluarga besar ku tahu, lihat aku pindah keyakinan. Baru lihat busana muslim ada di rumah aja mamah kalang-kabut dan menganggap aku bergeser keyakinan. Relax mom,this daughter of yours is an adult and knows what's right in his life. And every religion teaches love, not hostility. Religion is for peace for every one, isn't it?"


Yah, Dhea sudah dewasa dan tahu apa yang terbaik dalam hidupnya, termasuk menentukan sebuah kayakinan atau keimanan dalam hidupnya.


"Honey, maybe in this way you can forget me, and you can't be stubborn when it comes to faith, and confidence."


Mungkin dengan cara seperti ini, Onci sadar bahwa sekeras apa pun mempertahankan hubungan yang berdiri atas dasar berbeda keyakinan tidak akan pernah menyatu.


"You should know that the diversity of religion in this country is respected and appreciated, but it is not to unite hearts over differences in belief, and you should know that!"


Yah, memang di negeri ini keberagaman agama begitu dihargai dan dihormati. Tetapi tidak untuk menyatukan hati di atas perbedaan keyakinan.


Hingga akhirnya, membuat Dhea merasa letih untuk menjelaskannya kepada Onci, menganggap bahwa mungkin dengan cara keduanya memiliki kesibukan, dan impian dalam hidupnya mampu melunturkan perasaan dan akhirnya begitu saja hilang.


Terpaksa Dhea mengambil pilihan seperti ini, agar Onci paham dan ia tidak ingin Onci pun kehilangan kesempatan dalam dirinya, untuk meraih mimpi dan harapan dalam hidup, bagi Thea tidaklah apa jika ia dipandang jahat dan begitu teganya, setiap kali Onci ingin bertemu tetapi ia menghalanginya.


"Kamu kira, hanya kamu saja yang tersiksa dengan keadan seperti ini? Aku pun punya air mata, aku pun punya hati yaank." Air matanya pun tumpah dan ia tidak perdulikan kondisinya sedang mengendari mobil, batinya cukup terganggu ketika mendengar handphonenya berdering, lagi-lagi nama Onci yang muncul, dan ia melawan keinginannya untuk mengangkat telepon darinya, bahkan untuk membuka WhatsApp saja kalau tidak terpaksa-terpaksa amat, Dhea tidak mau membukanya.


"I had to reach out for my dreams... even if I had to repay them with tears... and love's sacrifice was so painful."


Dhea sadar, bahwa ia harus mengejar impiannya sekalipun harus menebusnya dengan air mata dan mengorbankan cintanya.


Kalau Jonathan yang telepon sesegara mungkin ia mengangkatnya, karena urusan masa depannya karir Dhea ada diujung kontrak yang sudah ditanda-tanganinya.


"Rencana lusa kita siap-siap berangkat ke Malaysia, selanjutnya kita ke Singapur, bahkan ada jadwal konser juga di Australi. Kamu tolong siapkan pas foto, biar kita yang urus paspor kalian." Suara Jonathan terdengar dari balik speaker handhponenya.


"Iya Kak, nanti aku kirim fotonya yah?"


Dalam waktu dua hari kedepan Dhea sudah meninggalkan tanah air dan ikut tour promo album dari penyanyi ternama di Indonesia. Bahkan di tambah satu negara lagi yang akan mereka kunjungi. Kurang lebih, tiga bulan jadwal tour promo mereka.


Selepas ia dihubungi oleh Jhonathan, Dhea memberanikan diri menghubungi Onci dan menjelaskan padanya tentang jadwal yang akan ia ikuti. Rencanya, besok ia akan menemui Onci dan keluarganya, setelah mengurus administrasi kenegaraan, menyiapkan berkas untuk keberangkatannya, cek kesehatan serta mempersiapkan segala kebutuhan selama di beberapa negara.


"Yank, besok aku sempetin ke rumah kamu, dan aku mau pamit ke abah dan umi ayank. Tapi aku nggak tau jam berapanya."


"Iya yaank, aku tunggu semoga kamu sukses."


"Thank you honey."


Dengan menahan perasaan yang ia simpan baik-baik dan tak ada seorang pun tahu bagaimana perasaan dirinya, saat harus menghapus kebiasaannya dan meninggalkan tanah air, yah meninggalkan semua kenangan indah, meninggalakan cerita cinta, meninggalkan orang terdekat, keluarga dan lainnya, demi sebuah impian yang selama ini para profesional dance inginkan, dan beruntunglah Dhea yang diam-diam serta sering bertemu di beberapa performancenya, Kak Jonathan memperhatikan penampilannya, tanpa ikuti audisi dan tanpa harus antri ikuti pendaftaran, justru ia dipinta oleh EO dan management artis. Syukrulah Dhea sesuai kriteria.


Bersambung >>>