Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Oh Ternyata...


Lelaki yang ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya itu, kini semakin merunduk dan malu, tak nampak keceriaan di wajah. Ia duduk di sudut ruang tahanan, dengan wajah tertunduk. Beberap orang pria dengan tatapan liar memperhatikan Nabila dan Ustadz Burhan.


Suara petugas membuka jeruji pesakitan membangunkan Ozi yang tertidur sambil menundukan kepala. "Fahrurrozi....ada yang besuk." Suara petugas membangunkannya.


Kelopak mata sedikit mengerenyit, menahan silau cahaya yang masuk. Ozi nampak malu bertemu Nabila dan Ustadz Burhan. "Masih mau membesuku Nabil? Sudah nggak pantes rasanya kau sebut aku suamimu." Suara Ozi membuka pembicaraan.


"Assalamu'alikum Stadz." Ucap Ustadz Burhan kepada Ozi.


"Wa'alikum salam, cukup panggil saya Ozi aja Stadz, tak pantes ada gelar Ustadz untuk lelaki breng*ek seperti saya."


"Bagaimana juga Kakak masih tetap Nabila anggap suami."


"Masih banyak lelaki baik-baik di luar sana Bil, yang pantas menjadi suami kamu."


"Memang di luar sana banyak lelaki yang mungkin saja tertarik dengan Nabila, lagi-lagi ijab qabul yang Nabila sanggupi di hari itu menjadi catatan tersendiri untuk Nabila Kak."


"Catatan apa? Catatan hitam dalam hidup kamu Bila, nggak ada indah-indahnya pernikahakan kita."


"Pernikahan itu bukan hanya bicara keindahan, pernikahan itu bagi Nabila sebuah konsekwensi pilihan, yang bukan saja kepada manusia tetapi kepada Allah kita harus pertanggung jawabkannya."


"Terlalu mulia hati kamu Nabila, semakin membuat aku malu, dan aku rasa kamu salah memilih pasangan hidup."


Ustadz Burhan hanya menjadi pendengar yang baik.


"Salah dan benar hanya Allah yang tahu Kak, manusia nggak punya alat ukur untuk tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah."


"Dengan keadaan aku seperti ini, apa masih pantas aku menjadi suami kamu Nabila?"


"Yah dimata Allah, Kakak tetap suami Nabila."


"Aku rasa, sudah saat nya kamu cari penggantiku Nabila."


Nabila terkejut saat Ozi mengucapkan kata tersebut, yang dalam agama sudah jatuh talak atau syir.


"Jangan asal bicara Kak, Kakak tau apa yang Kakak ucapkan itu sudah jatuh talak?"


"Yah aku tahu...."


Disaat keduanya sedang asik berbicara, tiba-tiba Abah muncul.


"Memang ente itu manusia kurang bersyukur, nggak pernah tau diuntung, seenaknya main talak anak orang. Mungkin ane dan almarhum Umi ente salah dalam mendidik ente, ane dan Umi tidak pernah berani untuk tegas. Keputusan ane selalu kalah dengan perasaan almarhum Umi ente. Dan satu hal yang ente harus tau, ane nikahan ente sama Nabila bukan tanpa alesan, bukan karena Nabila putri sahabat ane Rohim, justru sebagian tanah tempat berdirinya Yayasan yang ente hancurkan namanya dengan akhlak ente yang bejat ini, adalah tanah wakaf milik keluarga Haji Rohim, dan salah satu pemegang warisannya adalah perempuan yang ente lukai perasaannya dan dia masih mau menerima ente, perempuan yang sudah dari kecil ane dan Umi ente rasakan, memiliki akhlak yang baik. Yah, anak perempuan kecil yang dulu ane mau jadikan anak angkat itu, Nabila Binti Rohim bin KH. Abdurahman Bin KH. Syafi'i, yang bukan saja sebatas fisik dia yang cantik, tetapi keturunannya yang baik, dan yang jelas dia wanita kaya raya, tetapi sederhana. Yah, wanita yang kau sakiti perasaannya itu, ada di depan ente. Ane sebagai orang tua ente, merasa malu, melihat tingkah laku ente, ane nggak tahu lagi harus bicara apa, semoga almaruhmah memaafkan segala kesalahan ente. Meninggalkanya Aiseh, salah satu penyebabnya adalah ente, malam terakhir sebelum ia merasakan sesak di dadanya, yang ada di pikiran dan sering ia ucapin, nama ente dan Nabila. Abah sudah denger apa yang ente ucapkan, maka Abah menjadi saksi atas jatuhnya talak ente kepada Nabila. Semoga hukuman di dunia, mampu mengurangi dosa-dosa ente, dan semoga ente bisa menjadi orang yang bener-bener, dan memetik hikmah di balik ini semua. Ane sebagai orang tua ente, mohon maaf nggak bisa menjadikan ente orang yang bernilai, setidaknya Allah mencatat setiap upaya yang ane lakukan, dan memaafkan kesalahan ane." Ucapan Abah begitu membuat Nabila dan Ustadz Burhan terperangah.


Nabila sendiri tidak pernah tahu, kalau Yayasan yang berdiri dan milik Abah ternyata menyimpan sebuah cerita yang tidak semua orang tahu, Nabila merupakan pemilik sebagian saham Yayasan. Ustadz Burhan pun terkejut dengan ucapan Abah, ia tak menyangka perempuan yang selama ini sering ia guyoni pemilik sebagai tanah yang saat ini sudah melahirkan ribuan pendakwa, ribuan Ustadz dan Kiayi.


"Subhanallah....Masyaallah..." Ucap Ustadz Burhan dalam hati.


Ozi semakin menyesal dengan sikapnya selama ini, yang menyia-nyiakan Nabila. Ia memilih wanita yang keyakinannya berbeda, bahkan melukai perasaannya. Jika cinta itu buta, maka bukan saja membutkan mata Ozi, sekaligus mata hatinya.


"Insyallah Kiyai."


"Abaaaaaaah....." Ucap Nabila.


"Kenapa lagi Nabila, sudah tidak bisa lagi rumah tangga ini ente lanjutkan, mana pantas seorang imam dalam hidup ente, cacat secara aqidah dan akhlak, ane malu sama ente dan Abah ente sebenernya, tetapi ini sudah keputusan Abah, yang Insyallah Allah ridho atas keputusan ini. Abah minta maaf yang sebesar-besarnya Nabila."


"Tapi Bah...semua bisa diperbaiki.",


"Yah bisa diperbaiki, tetapi butuh puluhan tahun untuk memperbaiki akhlak seseorang yang sudah menjadi sifat dan karakter. Semoga penjara bisa ngedidik si Ozi." Abah berlalu pergi.


Sikap tegas Abah tak pandang bulu, sekalipun Ozi adalah anak kandungnya, jika salah tetaplah salah, aturan agama tetap ia jalankan. Nabila hanya termenung melihat Abah yang pergi, meninggalkan mereka dengan wajah yang teramat kesal dan menyesal.


Ustadz Burhan lagi-lagi hanya terdiam dan tidak mampu mengambil keputusan apa pun juga. Ia dipirintahkan Kiyai Syahrullah untuk mengurus semua berkas-berkas perceraian Nabila dan Ozi.


"Semoga ini menjadi keputusan yang terbaik untuk hidup Nabila, dan Allah memaafkan kita semua."


Ozi menangis, merenungkan semua kehilafan yang sudah ia lakukan, bahkan betapa hancur hatinya ketika ia tahu, bahwa fasilitas yang ia pakai, kendaraan, rumah, dan Yayasan pendidikan tempat ia bekerja, merupakan sebagian milik Nabila dan keluarganya. Ia juga tahu, kalau Nabila anak satu-satunya Haji Rohim, dan baru kali ini terbuka semua cerita yang disembunyikan kedua orang tua mereka berpuluh-puluh tahun.


"Bila maafkan Kakak yah?"


"Kaaaak, Kak Ozi tahu bagaimana Nabila terus berusah memahami semua tentang Kakak, Nabila masih banyak kekurangan dalam mendampingi Kak Ozi, nggak sepenuhnya salah Kakak Kok, mungkin saja ada kesalahan Nabila yang Nabila sendiri nggak pernah tahu. Insyallah Nabila sudah memaafkan kesalahan semua, dan Nabila juga minta maaf sama Kak Ozi, kita hanya bisa mengambil hikmahnya." Dalam keadaan yang sudah kecewa, Nabila masih bisa memaafkan kesalahan Ozi.


"Zi, ane sebagai kawan ente juga minta maaf yah? Semoga ini jadi pelajaran berharga untuk kita semua." Ucap Ustadz Burhan.


"Iya Stadz, nggak tau ane harus berbuat apa lagi. Ane nggak bisa ngomong apa-apa Stadz, emang ane yang beg*, ane nyesel, ane pendosa Staaadz!!" Ozi menangis histeris dan membenturkan kepalanya ke jeruji besi.


"Kaaaaak Istighfaaar....!"


"Sudah nggak pantes ane hidup Nabilaaa....!"


"Tenangkan diri, jangan tinggalkan solat, insyallah Nabila akan datang untuk besuk Kakak."


"Nggaaaak perlu lagi Nabila...." Ucap Ozi.


Entah apa yang akan terjadi, semua Allah sudah tentukan skenario hidup anak manusia.


Bersambung >>>>


_____________oOo_____________


Author ucapkan terimakasih untuk para pembaca yang terus mengikuti Jodoh Pilihan Abah semoga saya terus semangat untuk melanjutkan kisah Nabila dan Ozi. Terimakasih yang sudah support baik dengan like, komen dan vote yang para pembaca berikan.


Saya bisa semangat, jika membaca komentar-komentar seru kalian. Dan tunggu Give away yang saya akan berikan untuk para pembaca setia Jodoh Pilihan Abah.


*Wa**ssalam*