Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Berharap Sakinah


_____________Dear Readers___________


Terimakasih untuk yang pembaca yang mengapresiasi karya pikir kami, dengan memberikan vote, like dan menjadikan novel kami bacaan favorit anda.


______________________________________


Nabila termenung di dalam kamar, mengutuk keadaan pun tiada guna, tak ada lain mulut telah berucap, takdir telah berlaku untuknya. Abah pun sudah setuju tak mungkin ia lukai hatinya untuk kedua kali.


Ia pun mengingat kembali kejadian demi kejadian yang dilalui, mulai saat jemari bersentuhan langsung, tawanya yang mereka ketika Onci meminta untuk membantunya menyiasati abah. Ekspresi wajahnya berubah ketika mengingat kejadian itu, saat ia dipanggil abah, dan diminta untuk menjadi calon istri Onci.


Sampai kejadian malam itu, ketika Onci kembali mengatur semua rencana pernikahan mereka tanpa meminta saran atau masukan sedikit pun kepada Nabila. Yang ia dengar hanyalah intimidasi, pressure, dan penekanan.


Ya Allah, andai ini sudah menjadi ketentuan Mu, Nabila terima dan kuatkanlah hambamu ini menjalani ketetapan yang sudah menjadi kehendakmu, peluk Bila saat mulut tak lagi bisa berkata dan hanya air mata yang menjadi bahasa lemahnya hamba.


Ya Allah, jika pernikahan ini menjadi kehendak Mu, semoga menjadi pahala jihad Nabila dalam rumah tangga. Jadikan ia imam yang baik, pasangan yang mendekatkan Bila kepada ketaqwaan kepada Mu, pasangan yang mampu menghapus air mata ketika Bila dalam kesedihan.


Jadikan rumah tangga kami, rumah tangga yang memancarkan keberkahan, sakinah bersamanya, menyambut rumah tangga warhamah, yang penuh rahmat*.


Ya Allah, Nabila tahu kalau Engkaulah yang Maha membolak balikan hati manusia, mudah bagi Allah membuat orang yang benci menjadi cinta, begitu juga yang semula cinta bisa menjadi benci.


Rabbi, jadikan suami Nabila nanti, suami yang menyejukan hati, suami yang mampu membawa amanah Mu dengan baik, yang dapat mendidik istri dan keturunan untuk mengenal Mu.


Lapangkan hati ini, jika masalah hidup menghimpit, dinginkan kepala kami jika beban hidup mengusik pikiran, hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan ya Illahi.


Mudahkanlah segala urusan hamba mu ini, kami yakin Engkau akan mengabulkan segala doa kami.


Nabila larut dalam doa, dan berusaha menerima ketentuan takdir yang kini akan ia hadapi.


______________πŸ™β€β™‚ Onci πŸ™β€β™‚_______________


Onci pun tengah sibuk mengurusi persiapan menjelang pernikahan, ia meminta Ustadz Burhan untuk membantunya dalam penyelenggaraan pernikahannya nanti.


"Stadz, abah meminta Ustadz Burhan menjadi ketua panitia."


"Iya, kemarin sudah sedikit menyinggung masalah itu, insyallah kalau untuk ente dan Nabila ane siap."


"Untuk peralatan dan kebutuhan acara ada Ale yang bantu."


"Yaudah, nanti ane kordinasi dengan Ale."


"Untuk tamu undangan yang datang, Ustadz Burhan tulis saja siapa habib dan kiayai yang akan diundang, sekalian pengisi acara untuk malam mangkat atau maulid nya, ustadz yang atur dan berapa-berapa biayanya tolong dirincikan saja."


"Iya ane buatkan semuanya."


"Terimakasih ya stadz."


"Sama-sama."


Ustadz Burhan didelegasikan untuk mengurus acara sebelum hari H dan saat hari H untuk mengatur beberapa panitia dibawah kordinasi beliau. Mulai dari penerimaan tamu, distribusi logistik dan peralatan penunjang.


________________πŸ™‹β€β™€Dhea πŸ™‹β€β™€_____________


Ketika Onci sibuk mengurus persiapan pernikahannya, Nabila yang sedang meratapi nasib. Lain juga dengan apa yang Dhea lakukan, ia pun sibuk untuk mempersiapkan kembali ke tanah air dan segera merencanakan pernikahannya, ia pun berencana untuk membicarakan hal ini kepada Onci, sedangkan Jonathan mulai menyusun konsep pernikahan, setibanya nanti di tanah air.


"Iya, tapi kasih waktu satu hari untuk aku istirahat dahulu di rumah."


"Yaelah, tenang aja kalo itu aku paham. Mungkin aku meeting dulu dengan tim yang nantinya akan mempersiapkan pernikahan kita."


"Jangan terlalu di porsir juga yank, kan lumayan masih ada waktu dua bulan lagi."


"Iih kamu, waktu dua bulan itu singkat bagi aku. Dan kamu tahu sendiri aku juga harus mengatur waktu untuk kerjaan aku juga. Jangan sampai berantakan event-event ku."


"Asal jaga kesehatan yah?"


"Kalo itu pastilah bee..."


"Semoga rencana kita berjalan lancar."


"Amin, dan setelah menikah nanti. Aku mau kamu bantu kelola usaha aku ini."


"Iyalaah yaank, kan aku istri kamu nantinya."


"Thanks yaah.." Satu kecupan mendarat di kening Dhea.


Tuhan, aku tahu ini terlalu menyakitkan hati Onci andai ia tahu apa yang aku lakukan dengan Jonathan. Dan betapa hancurnya ia kalau mendengar sebentar lagi aku dan Jo akan menikah. Aku berharap kamu bisa menerima kenyataan ini, karena kalau pun aku paksakan kamu dan aku untuk tetap menjalin cinta di atas perbedaan keimanan, entah sampai kapan dan entah akankah bisa bersatu.


Ucapan yang sama di waktu dan tempat yang berbeda.


Thea, maafin aku yah? Atas banyak alasan terpaksa aku menikah dengan gadis pilihan abah dan memiliki keimanan yang sama. Andai saja waktu itu tak pernah terjadi, mungkin kita masih bersama.


Dan tak akan dipisahkan dengan ini semua, satu hari nanti aku akan ceritakan semua sama kamu. Walau kenyataan ini begitu berat, tapi inilah jalan takdir yang mesti aku pilih. Aku menghormati kedua orang tuaku, dan tak pernah bisa hilang nama mu dalam perjalanan hidupku, yang aku sendiri tidak akan tahu seperti apa nantinya.


Di waktu yang sama, di ruang yang berbeda. Nabila duduk termenung.


Ya Allah, harusnya tak aku paksakan qadha dan qadr ini yang aku tahu Engkau berkehendak atas kebaikan untuk umat Mu, hanya saja aku memaksakan apa yang seharusnya tak terjadi. Bila tahu, ia begitu mencintai gadis itu, dan aku harus jalani semua ini.


Maafin Nabila, yang memksakan jalan hidup, tanpa memikirkan dampak dari ucapan dan keinginan ku ini. Semoga Allah maafkan semua ini, yang memaksakan takdir atas diriku sendiri.


Semua persiapan pernikahan Onci dan Nabila sudah berjalan tujuh puluh persen. Tinggal persiapan saat hari H nanti, serta menyebarkan undangan, untuk beberapa hari ke depan.


Sedangkan Dhea, malam ini sudah prepare untuk kembali ke tanah air, saaatnya kembali nanti mereka pun akan mempersiapkan pernikahan, dan akan membahasnya secara intens dengan kedua belah pihak. Baik keluarga besar Dhea dan Jonathan. Orang tua Jonathan pun berharap bahwa pernikahan ini benar terjadi, karena usia Jonathan yang sudah cukup usia.


"Mungkin sepulang aku ke Jakarta, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu yank." Ucap Dhea via phone dengan Onci.


"Kamu kapan pulang?"


"Besok aku berangkat dari Thailand ke tanah air. Aku istirahat dahulu, dan atur waktu untuk bertemu kamu, sekalian ngasih oleh-oleh yang tak seberapa."


"Yaudah, jaga diri dan jangan lupa berdoa semoga selamat sampai Jakarta."


"Terimakasih ya yaank..."


Bersambung >>>>>