
Nabila hanya gadis biasa, mempunyai perasaan yang sama, dan air mata yang mudah tumpah, Onci seperti mencoba membangun gubuk kecil di relung hati Nabila, yang begitu rapuhnya. Entah gubuk bernama harapan itu akan tumbang tertiup anginkah? Atau koyak seketika.
Gadis yang mana akan sanggup melihat calon suaminya itu masi asik berkomunikasi dengan gadis yang entah mantanyakah, atau masih berhubungan.
"Hati-hati, kamu sebentar lagi kan menikah masih saja menghubungiku,memangnya aman?" Tanya Onci Via phone.
"Amanlah,kan aku belum menikah dan masih di rumah, kecuali kalau aku sudah menikah dan tinggal bareng dengan suamiku, barulah tidak aman, pasti main kucing-kucingan,Hehehe."
Rupanya, sikap Dhea yang terbuka dengan kejadian demi kejadian tak membuat hubungan mereka jerah, dan menghentikan sandiwaranya selama ini. Justru menjadi-jadi, dan mereka pun belum bisa move on dari masa lalu, apa yang membuat mereka tetap bertahan? Bukankah sudah menjadi jalan takdir yang harus mereka terima? Dan sadar bahwa mereka akan memasuki kehidupan baru dan menyempurnakan hidup, mendampingi pasangan hidup dengan sabar.
"Terus hubungan kita akan seperti ini terus? Dan kamu anggap aku apa?" Tanya Onci, Thea tidak tahu kalau Onci sendiri lebih dahulu menikah.
"Jalanin aja lah Yank, seperti apa akhirnya nanti."
"Aku main ke rumah yah?" pinta Onci.
"Yaudah sini, mumpung aku nggak kemana-mana." Ucapnya.
Yank? Kata ini masih Dhea sematkan memanggil Onci. Bertanda kalau mereka tidak mengakhiri hubungannya. Tidak sadarkah, bahwa ada hati yang harusnya mereka jaga.
Nabila hanya bisa menantap dari balik jendela ruangnya, pria yang sebentar lagi menjadi pasangan halalnya asik tersenyum berbincang-bincang, apakah Onci tak menganggap kalau Nabila itu ada?!
"Ya Allah, Engkaulah pemilik hati dan kuasa Mu lah hati manusia dengan mudahnya dibolak-balikan. Aku ikhlas dengan ketentuan Mu, bukankah melihat bahagia melihat orang yang kita cintai dapat tersenyum lepas?" ucap Nabila membatin.
Dan Onci masih saja asik berbincang-bincang dengan gadis yang tak bisa membuatnya move on. Banyak yang mereka bicarkan, mulai persiapan dan konsep pernikahan sampai kemasalah pribadi. Dan sampai detik itu juga Dhea tidak tahu kalau Onci juga akan menikah.
_________________🙋♀Dhea🙋♀________________
Selagi asik berbincang dengan Onci, suara deru mobil terhenti di depan rumah. Dari kejauhan terdengar suara Ny. Lee,"Loh kok dadakan datangnya?"
"Iya Tante, mumpung mami..papi nggak ada kegiatan, aku ajak deh ke sini."
"Ya ampun, masuk...masuk. Mana belum siap apa-apa, Dhea juga nggak cerita kalau kamu kamu kesini."
"Memang dadakan aja Tante."
"Sebentar yah, Tante panggil Dhea."
Ny. Lee pun mengetuk pintu kamar dan melihat Dhea yang mager.
"Dhea ada Jo di luar tuh,sama orang tuanya."
"Loh kok Maah?! Dia nggak kabarin aku juga."
"Iya, mamah aja kaget,katanya dadakan."
"Yaudah Dhea rapih-rapih dulu."
Dan Dhea pun segera berbenah diri, ia tidak tahu kalau calon suaminya itu datang membawa orang tuanya.
"Ya ampun, kamu kok nggam ngabarin aku dulu sih yank?"
"Iya, mau kasih kejutan aja ke kamu."
"Silahkan diminum tante." Dhea pun menyodorkan beberapa pilihan minuman.
"Memang dadakan, dan mami yang minta Jo untuk anter ke rumah kamu, sekalian perkenalan dan membahasa persiapan pernikahan kalian."
"Iy Mih, maaf hidangan seadanya."
"Iya tak apa, memang hanya melanjutkan rencana acara wedding kalian, dan kami dari pihak keluarga mempelai pria meminta kepada orang tua Dhea, untuk meminang putrinya."
"Iya Bu, sebelumnya Jo dan Dhea sudah membicarakan hal itu. Dan kami sebagai orang tua mengikuti saja. Anak sekarang sudah pandai dengan urusan seperti ini. Beda dengan jaman kita dulu." Ucap Ny. Lee.
"Waah kami justru kami pun mau membantu semaksimal mungkin, ini kan momen yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya."
"Untuk masalah pelaksanaan dan persiapan Jonathan yan akan atur semua."
"Terimakasih ya Jo." Ucap Ny.Lee.
"Semoga acara berjalan lancar, dan kita akan menjadi satu keluarga."
"Amin."
Ditengah pembicaraan mereka, sebuah mobil Pajero Hitam terparkir tepat di belakang kendaraan Jonathan.
Dhea lupa kalau Onci pun datang ke rumahnya, dan ia pun panik saat Onci menghubunginya.
"Silahkan dilanjut dulu ya Mih, Yank. Aku ke dapur dulu." Ucap Dhea gugup,padahal Dhea ingin mengangkat telepon dari Onci yang sudah menunggu di luar.
"Kamu pergi dulu, ada Jo dan keluarganya di rumah."
Mendengar aba-aba tersebut, Onci langsung memutar balik kendaraannya dan menunggu kabar dari Dhea selanjutnya.
"Huft, bisa bahaya kalau Onci masuk." Ucap Dhea menghela nafas panjang.
Ia pun menyatu kembali di tengah pembicaraan dua keluarga.
"Yaudah begitu aja nante, terimakasih sambutannya yah? Semoga lancar sampai hari H nya." Ucap Jonathan dan segera pamit pulang.
"Maaf suguan ala kadarnya saja, lain kali kabarin dahulu kalau mau mampir."
"Besok-besok sudah tidak harus berkabar lagi atuh, kan sudah jadi keluarga." Sendau Ny. Martha, ibunda Jonathan.
"Oh iya, kan sudah jadi menantu yaah."Balas Ny. Lee.
"Yaank, aku pamit yaah?" ucap Jonathan.
Onci mengawasi dari jauh dan melihat kendaraan Jonathan meninggalkan kediaman Dhea, ia pun segera masuk ke cluster perumahan.
Ny. Phey melihat kalau yang datang itu adalah Onci.
"Kamu sudah mau menikah, kenapa masih saja berhubungan dengan Onci? Jangan sampai mengecewakan orang!"
"Hanya sekedar main saja, dan kebetulan Onci juga yang nantinya mengatur pernikahanku Maah." Alasannya.
"Kalau itu benar dan kamu tidak bohong silahkan saja, mamah tidak melarang. Dan kamu itu sudah beruntung dapat yang seiman, untuk kali ini Mamah tidak mau kamu buat malu keluarga! Dan untuk urusan iman Mamah tidak maau kamu mempermainkannya, apa lagi sampai berpindah keyakinan,ingat itu!!" Ny.Lee terlihat begitu marahnya. Tahu kalau Dhea masih berhubungan dengan Onci.
"Mah, boleh mamah membenci orangnya tapi jangan membenci agama seseorang. Bukannya Tuhan juga menciptkan hati manusia untuk cinta kasih? Mamah tenang aja, Dhea tahu apa yang terbaik dalam hidup dan tidak akan kecewakan semua." Balasnya.
"Bukan mamah membeci keduanya, tapi mamah berharap kamu tidak mengecewakan orang yang sudah memiliki niat baik."
"Iya Maah,tenang aja."
"Yaudah kamu temui Onci, mamah mau istirahat,capek!"
Ny. Lee tidak mau menemui Onci dan ia berharap Dhea tidak mengecewakan orang dan tidak bermain-main dengan keyakinannya.
Bersambung >>>
________⚠️Hi Pembaca yang baik⚠️_____
Hi Readers, terimakasih atas dukungan kalian untuk terus update novel ini, dan apalah arti 10 poin yang anda berikan untuk kami lebih semangat menulis novel-novel kami, karena membaca novel kami GRATIS.
Terima kasih juga yang sudah mendonasikan Vote, Like dan Rate nya.