
Wanita yang selama ini menemani perjalanan hidup, kini sudah terbujur tanpa ruh. Wanita yang selama ini ikut menitih membangun usaha, yang menopang langkah disaat kayuh, kini tinggal jasad tanpa nyawa. Abah isirahat sejenak dari para penyelayat yang terus membanjiri rumahnya.
Nabila bersimpuh di sisi jenazah, hanya bisa mengiringi ruh menuju lauhulmahfuz dengan doa. Suara lantunan ayat suci mengema dari mulut penyelayat, membuat suasana semakin haru. Ozi tak dapat berbuat apa-apa, dia hanya duduk termenung, sesekali ia melayani para penziarah yang memang mengenalnya.
Ale nampak menemani Ozi, dan Ustadz Burhan sendiri hanya memperhatikan Umi yang sudah tak bernyawa. Kini tak ada lagi yang menjadi pembelanya.
"Cuma sabar aja yang bisa gw sampaikan ke elo bro." Ucap Ale menghibur kawannya yang sedang dirundung duka.
"Iya Le..."
Jenazah selesai dimandikan, nampak wajah Umi begitu putih berseri, senyum nya merekah, entah itu simbol keikhlasan untuk bertemu Rabb-nya, atau Umi merasa lega setelah melepas beban dalam hidupnya.
Begitu ramai orang menyelayat, sampai ke proses pemakaman Umi, puluhan kendaraan berbaris, para ustadz, Kiyai serta sepuh pondok pesantren ikut hadir mengantarkan kepergian Umi untuk selamanya.
Suara adzan di liang lahat terdengar begitu syahdu, memecah kesedihan yang teramat bagi siapa saja yang pernah mendapatkan kebaikan Umi, dan mengukir cerita indah bersamanya, termasuk Nabila dan Ozi.
"Mi, maafin Ozi ya? Sekarang Umi nggak usah capek marahin Ozi terus." Gumam Ozi dalam hati.
"Aiseh maafin laki lo ini ya? Sekarang waktunya ane teruskan perjalanan hidup seorang diri, semoga kita bisa bertemu kembali di janah." Ucap Abah dengan mata berkaca dan sembab.
Lebih dari tujuh langkah kaki para penziarah meninggalkan pusara. Semua akan berarti ketika ia sudah tiada.
"Aiseh, apalah arti bunga setaman yang ane tabur di pusara, Ane lalai memberikan setangkai bunga saat ente masih hidup. Ente matahari ane Seeeh, gelap rasanya jalan ini tanpa ente nemenin ane gedein yayasan." Abah masih merenung di atas pusara.
"Bah, Umi sudah tenang, sekarang kita pulang aja." Ucap Ozi.
"Ente kalo mau pulang duluan aja." Abah masih tak suka dengan Ozi, justru dialah yang berkontribusi atas kepergian Umi, yang sejak ia pergi kesehatan Umi memburuk, dan pikirannya menjadi kalut.
Ozi terkejut saat ia memalingkah tubuhnya, ia melihat Dhea sudah berdiri di hadapannya.
"Dhea.....!"
"Turut bela sungkawa ya Ci..." Ucap gadis yang mengenakan kemaja dan kaca mata hitam.
"Kamu tau darimana?" Tanya Ozi.
"Aku baca status WhatsApp Ale..."
Nabila yang menemani Abah tertunduk dan tertegun saat ia melihat Dhea, wanita yang menjadi pesaing dalam rumah tangganya. Ozi segera meninggalkan Abah dan Nabila, memisahkan diri beberapa jarak.
"Siapa dia?" Tanya Dhea.
"Itu...keponakan Abah." Jawab Ale, ketika Dhea menanyakan wanita yang berada di sisinya.
Ale hanya diam, dan merasa kesal dengan ucapan Ozi. "Pake nggak ngaku lagi, itu istri lo bro...."Ucapnya dalam hati.
"Bener-bener gw nggak ngerti, ati lu dari apa sih? Semen kali ya?" Gumam Ale kesel.
"Ceweknya juga bego, udah tau itu istrinya si Ozi, tanya aja langsung, malah nanya sama dia."
Nabila ingin mendekati mereka, namun ia khawatir akan menambah masalah baru, apa lagi kalau Abah tau siapa perempuan itu. Nampaknya Abah sudah lupa siapa Dhea, yang awalnya membawa masalah di keluarga Ozi, saat ia tahu kalau Dhea memiliki keyakinan berbeda.
"Ya Allah, kuatkan iman hamba, luaskan hati ini untuk menerima segala takdir hidup yang kini aku alami." Doa Nabila.
Nabila menahan sakit hatinya, Nabila luaskan dada untuk mudah memaafkan. Ale nampak memperhatikan gelagat Nabila.
"Ayooo maju deketin si Ozi sama Dhea, jangan diem aja Biiil...." Gumam Ale.
Tetapi Nabila masih setia menemani Abah yang masih bersimpuh di atas makam Umi, sambil menyentuh papan nisan, perempuan yang dengan sabar menenaminya.
"Semoga Kak Ozi bisa mengikuti jejak Abah yang begitu setia menemani Umi hingga akhir hayatnya." Ucap Nabila dalam hati.
Ozi hanya menatap Abah dan Nabila dari kejauhan, yang berdiri di teriknya panas matahari, Abah sudah tak hiraukan lagi. Tak lama Ustadz Burhan menghampiri Nabila dan Abah.
"Bah...sudah jangan diratapi terus, ikhlasin aja Bah, kan Abah yang ajarin kita kalau menerima segala duka, kita harus sabar dan ikhlas bukan?"
"Iya Han, untuk yang terakhir aja ane temenin Umi, nanti elu juga akan ngerasain seperti apa yang ane alamin."
"Saya tahu Bah,...ini sudah jalan Allah dan takdir-Nya, yang penting kita jangan berhenti mendoakan almarhumah."
"Aduh ente pake ngajarin ane..."
"Iya ane paham."
Ustadz Burhan hanya diam, dan tidak berani berucap apa-apa lagi. Begitu juga Nabila yang hanya bisa tertunduk diam.
"Ustadz Ozi dimana Bil?" Tanya Ustadz Burhan, yang ia juga tahu siapa Dhea.
"A...ada Stadz..." Nabila khawatir jika Ustadz Burhan tahu dan melihat Dhea dengan Ozi dia akan marah besar.
"Dimana?!"
"Di.....dii...."
"Dadi..dadi aja, dimana?"
Dalan keadaan terhimpit terpaksa Nabila memberi tahukan Ustadz Burhan.
"Di sa...." Jawaban Nabila terputus saat ia menunjukan posisi terakhir suaminya dengan Dhea.
"Tadi ada di sana, mungkin lagi ke toilet."
"Yaudah deh, Ane pulang duluan ya?Titip Abah ya Bil?"
"Iya Stadz...."
Nabila tak menyangka kalau suaminya sudah meninggalkannya. Ale menghampiri Nabila dan memberitahukan sesuatu.
"Ozi anter Dhea dulu ke parkiran mobil Bil..."
Saat Dhea pergi meninggalkan Ozi, seleng beberapa menit Ustadz Burhan berpapasan dengan Ozi.
"Ane cariin ente, tau-tau disini."
"Ada apa Stadz?"
"Bawa pulang Abah, kasian dan masih sedih."
"Udah ane ajak balik, tapi Ustadz tahu sendiri bagaimana Abah."
"Iya juga sih, tapi yah bagaimana, kasian aja ane liatnya."
"Yaudah ane coba ke sana."
"Nah, ajak pulang deh ya?"
"Iya Stadz."
Ozi kembali menemui Abah, Ale dan Nabila.
"Bil...." Sapa Ale yang hendak menceritakan perihal kedatangan Dhea.
"Iya Bang, Bila udah tau, itu Dhea kan ya?"
"Iya, ... Tapi maksud saya kasih tau si Dhea biar dia liat sendiri kalo Ozi sudah beristri. Bukan maksud ane ikut campur rumah tangga orang laen, tapi saya prihatin aja."
"Nabila cuma bisa sabar dan ikhlas aja Bang, sudah jadi konsekwensi Nabila milih Kak Ozi."
"Yah, saya paham, setidaknya Bila bisa ngomong ke Dhea, kalo Nabila itu istri dari Ozi."
"Rasanya percuma Bang, karena akan jadi masalah baru, lagi juga masih dalam keadaan Abah berduka, kalo sampe tau siapa Dhea, pasti abah marah besar dan berdampak ke Nabila juga."
Selagi asik berbincang dengan Nabila, Ozi muncul di belakang mereka.
"Aduuuuh pasti salah paham nih..." Ucap Ale.
Apa Ozi tahu dengan isi percakapan mereka? Bagaimana reaksi Ozi?
Bersambung >>>