
Akhirnya mereka berlanjut ke tempat biasa, menikmati malam berjibaku dengan helaian selimut dan handuk putih. Langit-langit nampak gelap, dan cahaya redupnya.
Setelah merampungkan pekerjaannya, nampak di wajah Nabila begitu letih, ia mulai curiga dan mencari keberadaan suaminya.
"Ustadz liat dimana Kak Ozi?" Tanya Bila.
"Nggak Bil..." Jawab Ustadz Burhan.
Nabila terus mencari dan bertanya dengan orang yang dekat dengan Ozi dan pengurus yayasan.
"Kemana ya perginya?" Tanya Bila dalam hati.
Sudah terlalu letih ia mencari, hingga tertidur pulas di ruang tamu. Abah pun sudah masuk ke dalam kamarnya. Sampai Nabila terbangun kembali dan memasak makanan tengah malam untuk para jama'ah yang masih terus membacakan ayat suci Al-Quran, tetapi Ozi belum juga kembali.
"Ya Allah, pake mati lagi HP nya." Keluh Nabila.
Suara tahrim sudah berkumandang, tetapi masih juga Ozi belum kembali.
"Ya Allah lindungi suami saya, selamatkan dia dari jalan yang tidak engkau kehendaki Ya Rabb."
Nabila merapihkan kembali rumah yang mulai sepi dari para jama'ah. Suara adzan Subuh sudah berkumandang. Dari kejauhan ia melihat cahaya lampu mobil, setelah melintas di depannya, ternyata bukan mobil suaminya.
Nabila tidak berani untuk menghubunginya, ia tetap menunggu dengan sabar.
"Assalamualaikum." Betapa leganya, seperti teriknya matahari yang terbiasa hujan, ketika ia mendengar suara Ozi.
"Walaikum Salam." Jawab Nabila yang tak berani menanyakan kemana suaminya pergi. Ozi langsung masuk kamar, dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Setelah rampung menyelesaikan tugasnya, Nabila mencium aroma parfum yang tak biasa, dan ia tahu itu bukanlah parfum milik suaminya, lagi-lagi ia bungkam.Nabila tertidur pulas di samping Ozi.
_____________ oOo___________
Selepas bangun tidur, Ozi langsung kembali bergegas mandi, dan kembali pergi, ia menghadiri pernikahan Dhea.
"Aku ketemu orang dulu yah, kalo Abah cari sampaikan aja begitu, jangan berlebihan."
"Iya Kak."
Ozi melajukan kendaraanya begitu cepat dan tergesa-gesa. Ia tidak mau kehilangan momen melihat Dhea duduk di pelaminan. Sesampainya ia di gedung tempat pernikahan Dhea dan Jonathan, ia melihat Ale sedang sibuk mengatur acara. Ozi menghampiri Dhea dan Jonathan, ia disambut hangat Jonathan.
"Hey Bro, dateng juga yah?" Tanya Jonathan.
"Iya Koh, walau telat dan nggak ikut dari awal."
"Nggak apa..."
"Selamat ya Dhea, semoga menjadi pasangan seumur hidup dan bahagia."
"Makasi yah, silahkan cicipi makanannya."
Ozi menahan cemburu, saat melihat Dhea dan Jonathan menikah. Ia tahu betul konsep pernikahan yang Dhea pilih, mirip saat mereka berjanji jika menikah kelak, ingin dihiasi bunga tulip merah dan putih, begitu juga dengan kamar pengantin yang dihiasi bunga tulip merah serta dua merpati putih, dan lilin yang menyala.
Tetapi sekarang justru apa yang pernah mereka rencanakan, justru untuk pria lain yang menjadi pendamping hidupnya. Disaat Jonathan berganti pakaian, Dhea mendekat ke Ozi, "kamu nggak apa-apa kan? Maaf ya?"
"Ah nggak apa kok."
"Yaudah kamu makan dulu aja ya? Aku takut Jo curiga."
Selagi menikmati video prewedding yang ia buat, Ale menghampirinya.
"Lo nggak ajak Nabila?"
"Nggak, dia sibuk urus tahlil untuk nanti malem, kenapa emangnya?"
"Setidaknya elo bawalah dia, dan kenalkan ke Dhea."
"Itu hak gw bro, bukan urusan lo!"
"Sekarang memang bukan urusan gw, tapi kalo lu ada masalah, baru jadi urusan gw."
"Lo kenapa sih?!"
"Gw? Yah nggak habis pikir aja dengan sikap elo, sudah memiliki pasangan masih aja merebut pasangan orang."
"Gw nggak mau lu urusin pribadi gw yah?!" Ucap Ozi.
"Oke kalo begitu mau lu, gw nggak akan ikut campur."
Ale pergi meninggalkan Ozi, dan membiarkan ia duduk seorang diri.Ozi menikmati kesakitannya dibalik senyum dan tawa Dhea serta Jonathan.
"Dhea, Jo...aku pamit ya?"
"Loh...mau kemana? Kok buru-buru?!" Seperti basa-basi biasa, pertanyaan Jonathan.
"Ada yang mesti diurus lagi," jawab Ozi singkat.
"Thanks ya." Ucap Dhea.
"Ok..."
Dhea terus memperhatikan langkah Ozi, hingga hilang di balik pintu keluar gedung.
__________oOo_________
Nabila bersama beberapa pengurus yayasan mempersiapkan untuk tahlil nanti malam, yang memang harus disiapkan dari pagi, menjelang adzan Ashar Ozi baru kembali dari rumah. Ia hanya duduk termenung dan seakan masih tidak terima dengan pernikahan Dhea, hanya lantaran perbedaan keyakinan ia tidak bisa duduk berdampingan dengan orang yang sudah lama ia kenal dan perjuangkan.
( Sambil dengarkan lagu Armada Yah? )
Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya
Aku terluka, tak bisa dapatkan kau sepenuhnya
Aku terluka, melihat kau bermesraan dengannya
'Ku tak bahagia, melihat kau bahagia
Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia
Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya
Harusnya yang kau pilih bukan dia
'Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya
'Ku tak bahagia, melihat kau bahagia
Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia
Harusnya kau tahu…
Yasudahlah, nasi sudah menjadi bubur, mau dikata apa, kalau tidak dinikmati. Nabila menghampiri suaminya yang nampak begitu sedih.
"Kak, mau makan? Atau Bila buatkan teh hangat yah?"
"Boleh Bil..."
Di benaknya teringat sikap dan ucapan Ale sahabat dari kecil, walau membuatnya sedikit terusik, tetapi ia cerna baik-baik apa yang diucapkan sahabatnya itu.
"Sekarang memang bukan urusan gw, tapi kalo lu ada masalah, baru jadi urusan gw." Ia ingat kembali ucapan Ale, yang seakan menitipkan tanda kalau akan ada masalah besar yang akan dihadapi Ozi nantinya.
"Apa karena di iri aja? Gw bisa deket dengan Dhea dan gw masih memiliki istri." Ucapnya dalam hati.
"Tapi gw tau betul siapa Ale, dan memang dia banyak ngebela gw saat gw lagi ada masalah. Bodolah, gw jalanin aja apa yang bisa gw jalanin hari ini, nggak tahu besok akan terjadi apa, dan gw nggak bisa bohongin diri gw sendiri, kalo gw masih cinta sama Dhea."
Nabila kembali dan membawakan segelas teh hangat, ia merasakan kalau suaminya itu sedang menghadapi masalah.
"Diminum teh nya, mumpung masih anget kak."
"Iya Bil....Makasi ya?"
"Sama-sama Kak, oh iya Kaka kenapa? Kok melamun? Dan keliatan sedih begitu."
"Ah, nggak apa-apa kok. Memang lagi banyak pikiran aja Bil."
"Apa mikirin Umi? Atau ada sikap Nabila yang membuat Kakak kesal?!"
"Kalo masalah ditinggal Umi pasti sedih, dan kalo Nabila tanya apa ada sikap Nabila yang salah? Kakak cuma bisa jawab, jujur Kakak lagi belajar mencintai Nabila."
Ucapan Ozi membuat Nabila terdiam, 'belajar mencintai.' kata-kata terakhir itu yang membuat Nabila termenung.
Bersambung >>>>