
Pernikahan adalah kado terindah bagi sepasang remaja yang mendambakan pendamping hidup yang menemaninya dalan keadaan apa pun, susah dan senang, hujan dan badai, saat kaki lemah dikayuh, ada dia yang menguatkan langkah, pasangan menjadi kawan dalam sepi, lawan diskusi, tempat mencurahkan segala keluh dan kesah, apa Nabila dapatkan itu?
Wanita mengharapkan dapat memiliki pasangan hidup, yang ada kalanya ia menjadi kakak, kawan seiring sejalan dan membimbing di kala berdiri di belakang. Suami yang dapat menghapus sedih, tempat berbagi rasa, cinta dan cipta.
Dan...
Suami yang memeluk hangat disaat dingin menusuk kulit, bermanja dan menenangkan dalam pelukan serta kata-katanya menyejukan jiwa. Apakah Nabila dapatkan itu? Apa Ozi pendamping yang diidam-idamkan setiap wanita?
Hanya sabar yang Nabila miliki, hanya ikhlas dengan jalan takdir yang kini tengah ia jalankan. Ia simpan rapih semua aib pasangannya.
"Wahai yang dengan mudah membolak-balikan hati manusia, aku serahkan semua kepada Mu Ya Illahi." Hanya doa ini yang terus Nabila ucapkan disetiap doanya, berharap suaminya itu sadar bahwa ada wanita yang kini sudah menjadi pendamping hidupnya.
"Ya Illahi, jika seperti ini takdir hidupku. Aku ikhlaskan semua dan catatlah sebagai pahala yang setara dengan mereka berjihad, karena aku sadar seperti inilah cara ku memilih jihad di dalam rumah tangga."
Jarum jam sudah menyentuh tepat di angka sembilan. Namun, Ozi masih saja asik dengan ponselnya. Dan entah dengan siapa ia asik berbincang.
"Kak, maaf sudah jam sembilan. Bukannya Kakak harus berangkat kerja?" Nabila memberanikan diri, mengusik Ozi yang masih saja asik berbincang-bincang.Wajahnya terlihat kesal, saat Nabila memotong obrolannya.
"Sebentar yah?" Ucap Ozi menghentikan sejenak obrolannya di phonsel.
"Kamu nggak liat aku lagi teleponan? Kalo kamu mau jalan duluan, silahkan jalan saja dan aku nanti nyusul." Dengan nada tinggi ia ucakan kata-kata itu kepada wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
"Baik Kak, Bila jalan dulu yah?" Dengan suara begitu rendah dan ia pun sedikit shock mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria yang seharusnya bertutur lembut dengan istri yang sudah Allah amanahkan baginya.
Nabila memilih untuk jalan kaki dari rumahnya ke tempat yang ia dan suaminya bekerja.
"Duuuh penganten baru kok jalan sendiri? Kemana pak Ustadznya?" Ada saja tetangga yang usil, entah niat menyapa atau hanya mencibir.
"Oh iya Bu, Ustadz Ozi nya lagi kurang enak badan, kecapean." Nabila berusaha melempar senyum di atas hati nya yang terluka, telinganya masih jelas mendengar ucapan suami yang cukup kasar baginya. Yang Ayahnya sendiri tak pernah berucap keras seperti itu, seumur hidupnya baru kali ini Nabila mendapat ucapan seperti itu.
Selang beberapa meter dari tempatnya disapa, ia dikejutkan dengan suara lainnya.
"Assalamu'alikum Bu Ustadzah, penganten baru kok jalannya sendiri? Pak Ustadz kemana?" Lagi-lagi Nabila mendapat pertanyaan yang sama.
"Wa'alaikum salam. Pak Ustadznya lagi kurang enak badan Bu."
"Semoga lekas sembuh yah Bu Ustadz."
Nabila hanya melempar senyum,"terimakasih Bu, saya lanjut jalan ya Bu?! Assalamu'alikum."
"Wa'alikum salam."
Baru beberapa langkah ia melanjutkan perjalanannya, Nabila bertemu dengan Ustadz Burhan.
"Assalamu'alikum penganten anyaaar, kok jalan kaki? Sendiri pula! Suami mu kemana?" Ia menghentikan motor vespa nya.
"Wa'alikum salam. Eh, Ustadz Burhan! Kak Ozi nya nggak enak badan."
"Aaah nggak usah repot Ustadz, Nabila jalan kaki aja, sekalian olah raga."
Ingin rasanya Nabila menerima tawaran Ustadz Burhan, hanya saja ia sadar bahwa dirinya kini sudah menjadi seorang istri. Dan apa kata orang nanti, jika melihat dirinya berboncengan dengan lelaki yang bukan muhrim. Bukan hanya itu saja, ia akan mencedrai kehormatan keluarga besar Abah dan Umi.
Sesampainya di sekolah, Nabila menghela nafas sejenak dan menjulurkan kakinya sejenak, karena cukup jauh jarak dari rumah ke sekolah tempatnya bekerja.
"Bila, Ozi mana?" Suara Umi tiba-tiba mengejutkannya.
"Eh Umi, Kak Ozi masih di rumah. Kurang enak badan katanya."
"Oh, terus kamu berangkat sama siapa?"
"Kak Ozi nyempetin anter tadi dan langsung balik ke rumah. Mungkin agak siangan, berangkat kerjanya Mi."
"Heem, kalo Nabila masih capek, Umi nggak apa kok kalian istirahat dulu. Umi tahu capek banget pastinya."
"Aaah, nggak apa kok Mi."
"Yaudah, Bila istritahat dulu yah? Jangan kerja dulu nggak apa kok." Umi paham betul letihnya menjadi penganten dan ia meminta Nabila untuk mengurangi aktifitasnya.
Nabila berusaha menutupi aib suaminya, ia khawatir kalau saja Umi dan Abi tahu kalau ia berangkat kerja seorang diri dan jalan kaki,pasti marah besar.
Nabila menutupi semua, dan terpaksa ia berdusta demi kebaikan untuk semua.
___________________***________________
Ozi masih asik dengan phonsel-nya dan entah apa yang ia bicarakan. Mungkin saja, ia belum siap menerima Nabila sebagai istrinya, dan ia belum bisa melupakan Dhea.
Ozi dan Ale pun tengah menggarap prewedding Jonathan dan Dhea, beberapa hari ke depan ia pun sudah mulai sibuk mempersiapkan itu semua. Rencanya, mereka memakai konsep yang Ozi sudah ajukan dan memang sebelum menutuskan menikah dengan Nabila, Ozi alias Onci merencakannya dengan Dhea, jika mereka menikah.
Namun takdir berkata lain, Onci dan Dhea tidak akan bisa menyatu, lantaran perbedaan keyakinan dan Dhea sendiri memilih Jonathan , pertemuan keduanya sama persis ketika Dhea bertemu dengan Onci di satu event dance. Begitu juga perkenalan Dhea dengan Jonathan mirip seperti pertemuan Onci dan Dhea waktu itu.
Semua tidak kebetulan, dan ada sebab yang mengantarkan pertemuan kembali Onci dengan Dhea, Ale-lah yang menghubungkan kembali antara Jonathan, Onci dan Dhea.
Setelah vakum dengan EO yang dimotori Onci, Ale memilih jalannya sendiri dan membantu Jonathan dengan menghendle beberapa event milik Jo. Hingga akhirnya, Jonathan meminta Ale untuk membantunya membuat konsep pernikahan dan mempersiapkan acara pernikahan Jonathan dengan Dhea.
Ale pun kurang memahami konsep prewedding dan wedding organizer sampai akhirnya Ale ingat bahwa untuk urusan dunia konsep, ada Onci yang cukup memiliki track record.
Onci dan Ale pun tidak tahu, kalau calon istri dari Jonathan itu, wanita yang mereka kenal. Hanya saja, Jonathan tidak tahu kalau Dhea adalah mantan kekasih Onci.
Diam-diam Onci dan Dhea merajut kembali hubungannya, tanpa Jonathan tahu kalau orang yang akan mengurusi pernikahan meraka adalah mantan kekasih Dhea.
Saat Jonathan sibuk dengan beberapa usaha yang ia miliki, dicela kesibukan Jonathan itu Dhea atau Onci yang akan menghubungi. Sedangkan Dhea sendiri tidak tahu, kalau lelaki yang masih ia kagumi itu, sudah memiliki istri yang kini tengah terbelenggu dengan takdirnya sendiri.
Bersambung >>>>