Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Khadijah Milenial


"Bil,..."


"Iya Stadz..." Jawab Nabila lembut.


"Untuk pembangunan rumah sakit, ada beberapa kontraktor yang mengajukan diri. Salah satunya ada dari Ikatan Pengusaha Muslim, mereka mau ketemu untuk membahas penawaran kerjasama."


"Bukanya dengan Ustadz aja sudah cukup?"


"Mereka butuh verifikasi dan memastikan siapa penanggung jawab yayasan, kalau cuma saya saja, mungkin mereka kurang puas."


"Kapan rencananya kita ketemu dengan mereka Stadz?"


"Yaaaah bagaimana kesiapan waktu kamu aja Bil."


"Kalau memang besok bisa, kenapa mesti ditunda?"


"Oke, besok yah? Aku pastikan ke mereka."


"Insyallah Stadz."


"Yaudah aku konfirmasi ke tim nya yah?"


"Ya Stadz."


Ustadz Burhan menghubungi pihak kontraktor, untuk pembahasan kebutuhan pembangunan Rumah Sakit Islam yang akan didirikan.


"Assalamu'alikum..."


"Wa'alaikum salam." Suara pria di balik handphone Ustadz Burhan.


"Mas Arul, kami sudah diskusi dengan pengurus yayasan untuk agenda persiapan pembangunan dan penawaran kerjasama perusahaan Mas dengan pengurus."


"Alhamdulillah, akhirnya saya diberi kesempatan untuk meeting yah Mas Burhan?"


"Iya Mas, kebetulan ketua yayasan kita kan baru nih, biar nanti untuk perihal administrasi dan lain-lainnya, bisa langsung ditanyakan saja."


"Siap Mas Ustadz, kapan kira-kira kami bisa bertemu?"


"Insyallah besok selepas Ashar kali ya Mas, biar waktunya agak senggang."


"Siap Mas, insyallah saya besok ke kantor Mas."


"Ok, ditunggu yah? Assalamu'alikum."


"Siaaap Mas, walaikum salam." Pembicaraan mereka ditutup salam.


Ustadz Burhan kembali menemui Nabila dan memastikan kembali kalau tim kontraktor bisa bertemu dengannya sehabis Ashar.


"Bil, habis ashar mereka mau ke kantor."


"Iya Ustadz, mungkin pakai ruang meeting yayasan saja kali yah? Biar tempatnya agak lega."


"Oke, besok aku siapkan semuanya."


"Terimakasih Pak Ustaaadz..." Ucap Nabila sambil melempar senyum.


Kontan senyum Nabila membuat Ustadz Burhan salah tingkah.


"Oh iya Bil, malem ini kamu ada kegiatan?"


"Emangnya kenapa Ustadz? Kalau acara pasti kan ada terus, masak, nyuci, siapin makanan untuk Abah, dan banyak lagi."


"Maksud aku ada kerjaan lain nggak?"


"Lah itukan kerjaan Stadz."


"A..anu...maksud aku sibuk apa nggak?"


"Memangnya kenapa? Ada apa sih Stadz?"


"Yaah kalo memang nggak sibuk, mau ajak kamu refreshing dikit, kan kerja terus."


"Kalo kerja itu kan kewajiban dan memang ibadah bukan Stadz? Lagi juga apa kata orang kalau aku keluar dengan yang bukan muhrim, plus Ustadz juga tahu status Bila masih anget-angetnya cerai."


"Iya juga siih...."


"Emang nya mau kemana? Ngapain?"


"Yah sekedar makan malem aja Bil."


"Makan nasi kali, masa malem di makan, hebat banget. Haha..."


"Kalo sekedar makan malem, Ustadz juga bisa ke rumah kan, biasanya juga gitu, tinggal nyendok aja nasi sama lauknya."


"Iya juga sih, yaudah nanti-nanti aja deh..."


Wajah Ustadz Burhan memerah, keinginannya untuk mengajak Nabila makan malam seketika itu juga pudar. Nyalinya langsung ciut dibuat Nabila, dan bercucuran keringat dingin.


"Oh iya, aku izin urus yang lainnya yah Bil, lupa, padahal ada kerjaan buat soal ujian untuk di setor ke Depag."


"Oh yaudah Ustadz, makasih yah sudah mau bantuin kita."


"Aaaah udah kewajiban itu mah Bil. Assalamu'alikum..."


"Wa'alikum salam."


Ustadz Burhan meninggalkan ruangan, dan berlalu pergi dengan sedikit penyesalan serta rasa malu.


"Haha..lelaki ada-ada aja ulahnya." Gumam Nabila dalam hati.


________ oOo_________


Seperti biasa, setelah solat Subuh, Nabila berbenah, mencuci pakaian, merapihkan dapur, dan menyiapkan sarapan untuk Abah. Lalu dilanjutkan solat Duha, setelah rampung semua urusan Nabila bergegas berangkat kerja, Nabila memilih jalan kaki, karena jarak dari rumah ke Yayasan tidak terlalu jauh.


"Asslamu'alikum...Pagi Bu Ustadz..." Sapa tetangga kepada Ustadzah muda itu.


" Wa'alikum salam, pagi juga."


Inilah yang menjadi alasan Nabila memilih untuk berjalan kaki, selain sehat dan melatih jantung, ia bisa menyapa banyak orang.


Sesampainya di Yayasan, Ustadz Burhan menyambut Nabila dengan senyum.


"Assalamu'alaikum Bil..."


"Wa'alaikum salam, selamat pagi Ustadz Burhan."


"Met pagi juga Bil. Oh iya, jangan lupa hari ini ada jadwal meeting sama kontraktor yah?"


"Iya Stadz, insyallah Nabila inget kok."


"Saya hanya mengingatkan saja, seperti dulu saya ingatkan Kiayi untuk jadwal-jadwalnya."


"Iya Stadz, terimakasih sudah mau mengingatkan. Oh iya, saya juga mau ingetin Ustadz Burhan, bagaimana soal ujian yang mau diserahkan ke departemen agama? Sudah amankah?"


"Alhamdulillah aman, mungkin setengah jam lagi saya pamit untuk serahkan ke kantor depag yah?"


"Ok Stadz, hati-hati di jalan."


Sengaja Ustadz Burhan menunggu Nabila di depan gerbang, selain ia ingin menjadi orang pertama yang melihat wajah Nabila di pagi hari, dan sekaligus dia yang pertama mengucapkan salam dan selamat pagi untuk Nabila.


"Kenapa dulu Nabila sering curhat, sekarang tiba-tiba saya jadi canggung sama Nabila yah?" Ucap Ustadz Burhan yang memiliki perasaan lain.


"Aaaah, perasaan saya saja mungkin." Ustadz Burhan melawan perasaannya.


Nabila memulai melakukan aktivitas di pagi hari untuk sedikit menanamkan kebiasaan baru di ruang lingkup kerja, yakni Coffe Morning atau Meeting pagi dengan pengurus dan para pengajar, untuk memberikan semangat serta membahas permasalahan yang terjadi disetiap divisi.


Ustadz Burhan mulai tidak konsen ketika ia duduk di samping Nabila, dan melihat kepiawaian Nabila dalam memimpin, mengarahkan dan memberikan solusi dari setiap permasalahan yang terjadi di dalam management Yayasan, yang semula kebiasaan ini tidak pernah ada, tetapi Nabila menciptakan kebiasaan baru di lingkungan kerja, selain untuk kordinasi lintas divisi, dan ada misi lain, yakni menjaga kekompakan serta tidak ada batasan-batasan antara Nabila selaku ketua yayasan yang menggantikan Abah dan almarhumah Umi, Nabila dengan rendah hati memimpin yayasan tersebut.


"Insyallah setelah program dan minimalisir masalah kita dapat atasi per-divisi, program saya selanjutnya mau membentuk koperasi Yayasan, yang tak lain sebagai saranan menanamkan budaya menabung serta meningkatkan kesejahteraan pengurus dan juga tim pengajar, semoga dengan hadirnya koperasi yang kita bentuk dan bangun, akan mengurangi permasalahan ekonomi kita semua, amin." Ucap Nabila, sontak membuat para pengurus Yayasan memberikan applouse kepada Nabila.


"Semoga program ini berjalan ya Bu Ustadzah." Ucap Ustadzah Masitho salah satu tim pengajar.


"Subhanallah, baru beberapa bulan megang yayasan, Nabila sudah melakukan banyak hal. Bener-bener Khadijah masa kini." Ustadz Burhan kagum dengan gagasan Nabila.


"Kami berharap, lebih banyak guru-guru yang menabung dibandingkan pinjamnya yah? Hehe..." Guyon Nabila, berujung riuh dengan canda.


"Nah, untuk pembentukan koperasi, mungkin nanti ada pengurus tersendiri yang akan saya bentuk, tentunya dibantu rekan-rekan semua. Selain untuk perputaran keuangan, koperasi nantinya akan memiliki laba atau keuntungan yang bisa dibagikan kepada para anggotanya. Apa pun yang berpotensi pengembangan serta peluang usaha akan saya cermati, dan saya mengharapkan ide-ide usaha, bisa diajukan kepada saya yang nantinya kita bahas untuk teknis dan adminiatrasi serta aturan sistematisnya." Lagi-lagi ide cemerlang itu muncul di tengah-tengah *coffe morn*ing.


Semakin membuat Ustadz Burhan terkagum-kagum, begitu juga para pengurus yang memiliki visi dan misi yang sama. Nabila menjadi sosok pembawa perubahan.


Bersambung >>>


__________oOo_________


Tak bosan-bosan penulis mengucapkan terimakasih untuk para pembaca setia, yang sudah berkenan meninggalkan jejak like, komentar, dan vote serta menjadikan novel Jodoh Pilihan Abah menjadi bacaan favorit anda.


Oh iya, jangan lupa yah, gabung di group chat penulis untuk kita saling mengenal dan berinteraksi, serta insyallah seiring waktu Author mau berikan give away.


***Salam Hangat,


@emhaalbana***