
Hari ini Dhea kembali ke Tanah Air, ia memaksakan diri untuk bertemu Onci, karena esok ia harus mengatur waktu untuk bertemu dengan keluarga Jonathan. Jam sebelas tadi pesawatnya landing di Bandara Soetta, sebentar bertemu mamah dan papah, ia pun langsung pamit.
"Kita ketemuan di resto Jambi yah?"
"Kamu sudah sampai?" tanya Onci.
"Ia pagi tadi dan istirahat sebentar,"
"Yaudah, aku sekarang jalan ke sana."
"Ok, tunggu aku yah?"
Mereka pun memilih tempat untuk bertemu, dan restouran itu dinilai tempat yang pas dan tepat untuk bertemu. Onci lebih dahulu tiba, dan tak lama Dhea pun datang.
"Kamu sudah pesen makan?"
"Iya sudah, baru minuman aja. Nunggu kamu dulu, bagaimana di sana? Sukses yaah tuk kamu."
"Yah, namanya kerja cape juga lah."
"Tapi kan itu yang kamu cita-citakan bukan?"
"Iya sih."
"Tumben, buru-buru amat ngajak ketemuannya, memang apa yang mau dibicarakan sih?"
"Aah enggak, cuma mau kasih oleh-oleh untuk kamu."
"Yakin? Hanya mau ngasih oleh-oleh aja?"
"Yaudah makan dulu yaah? Nanti habis makan aja ceritanya."
"Ok."
Selepas mereka menyantap makanan, dan sedikit bercerita keadaan selama berada di beberapa negara. Dengan berat hati, Dhea pun akhirnya menceritakan tentang rencannya itu.
"Yank, aku mohon maaf. Sebelum aku pergi, sengaja aku melepas gelang itu."
"Maksud kamu gelang yang mana?"
"Gelang yang ada salibnya, dan aku letakan di kursi."
"Ya Allah!Jadi itu sengaja?!"
"Yah, sengaja aku taruh dan agar kamu paham bahwa tidak akan pernah menyatu jika dari kita begitu kuatnya dengan keimanan masing-masing. Aku minta maaf, karena tak akan sanggup bibir ku berucap semua, semoga kamu memahami itu yaank."
"Ya ampun, tapi tidak harus seperti itu. Apakah tidak ada cara lain?"
"Ingat yaank, bukan saja keluarga kita yang menolak. Tetapi negara ini tidak akan menerima perbedaan keimanan untuk satu dalam ikatan pernikahan."
Onci terkejut dengan apa yang diucapkan Dhea, dan ia tak mengira kalau kejadian itu benar-benar sengaja ia lakukan.
"Yaaah setidaknya kita cari jalan terbaik bukan seperti itu juga."
"Aku rasa ini yang terbaik, dan kita tidak bisa menghabiskan waktu untuk itu semua. Ingat! Kamu punya masa depan, banyak yang mengharapkan mu."
Onci pun sudah tak bisa berkata apa pun, matanya pun berkaca-kaca.
"Dan ada satu hal lagi yang aku ingin ceritakan ke kamu. Aku ingin menikah dengan lelaki yang seiman."
"Yaaaa Allaaaah."
Bagai mendengar gemuruh di pagi yang tenang, ternyata lebih indah dari mimpi di malam hari. Seoalah bahwa ia sedang berada di dalam mimpi, tak percaya mendengar apa yang Dhea ucapkan.
"Ini lah kenyataan hidup dan jalan takdir yang harus kita terima. Bahwa ada pertemuan pasti ada perpisahan, semoga pertemuan kita tidak menjadi perpisahan tuk selamanya."
"Ta...tapi."
"Yah itu kalau kamu mau terima, dan aku harap kamu mau mewujudkan permintaan ku."
"Permintaan apa?"
"Kamu tahu, aku ingin konsep pernikahanku kamu yang buatkan."
"Iya, aku akan kabulkan permintaan kamu itu."
"Aku ucapkan terimakasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya."
"Yaah, semoga apa yang kamu harapkan berjalan dengan lancar dan semoga kamu mendapatkan pilihan yang terbaik."
"Walau, aku sendiri tak ingin semua ini terjadi. Inilah pilihan terberat dalam hidupku."
___________________¤¤¤________________
Selang bertemu dengan Onci kemarin, ke esokan harinya Jonathan menemui keluarga Dhea.
"Tante, kedatangan Jo ke sini selain ingin kenal Dhea dan keluarga. Jo, mau minta izin ke tante dan om, untuk melamar Dhea."
"Tante sudah dengar sebelumnya dari Dhea, om dan tante bagaimana Dhea saja. Tante, hanya pesan untuk Jo dan Dhea, rumah tangga itu tak se indah masa pacaran. Untuk menyatukan perbedaan dan memahami karakter serta sifat masing-masing itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Mempertahankan rumah tangga itu bukan perkara yang mudah, apa lagi umur kalian masih cukup muda. Dan Jo juga harus paham, kalau Dhea walau kelihatannya sudah dewasa, ada sifat kekanak-kanakannya yang harus kamu pahami."
"Iya tante."
"Nah, apa kalian siap? Dengan permasalahan rumah tangga? Jika kalian rasa sudah sanggup, tinggal om dan tante menyetujuinya."
"Kalau om juga pesan ke Dhea dan Jo, setiap masalah yang datang harus dihadapi bersama dan jangan pernah menyalahkan satu dengan yang lainnya. Ketika kalian punya masalah, tolong jaga baik-baik jangan sampai orang lain tahu. Dan kalian pun harus saling terbuka satu sama lain, hadapi dengan kepala dingin." Om Chan pun memberikan nasihat kepada keduanya.
"Iya om, terimakasih nasihatnya."
"Rencana kapan mau pertemukan kami dengan kedua orang tuamu?" tanya tante.
"Habis dari sini, saya dan Dhea mau ketemu papih-mami. Mungkin dalam minggu ini Jo jadwalkan."
"Kami tunggu kabarnya."
Setelah berbincang cukup lama dengan Om Chan dan Tante Lee, mereka pun melanjutkan agenda berikutnya, untuk memperkenalkan Dhea dengan papi dan mami Jo.
Sampailah mereka di sebuah rumah mewah, beberapa mobil berbaris dan memang sudah dijadwalkan Jo untuk membahas pernikahannya. Bukan saja dengan orang tuanya, tetapi keluarga besar Ny. Martha dan Tn. Abraham.
"Hey Koko, waaah cantik calonnya." Ucap Bela sepupu Jonanthan.
"Hi Kaaa, salamat datang di rumah kami." Sambut Audre.
"Silahkan duduk Cici." Tawar David keponakannya.
Setelah bersalaman dengan semuanya, Thea pun duduk dihadapan papi dan mami Jonathan.
"Kemarin sempat ngobrol di telepon dan akhirnya sampai juga di sini." Sambut Ny. Martha.
"Mami kira Jonathan hanya bercanda, eeeh serius rupanya. Semoga lancar sampai hari H nya yah?"
"Iya Mih, senang bisa bertemu langsung papih dan mamih."
"Kalau mamih sih bagaimana maunya Jo saja, orang tua hanya ikuti dan merestui. Sabar-sabar saja kalau nanti hadapi Jo yang agak keras kepala."
"Hehe, iya Mih. Justru Kak Jo yang harus sabar hadapi Dhea yang masih seperti anak-anak."
"Kapan rencana pernikahannnya Jo?"
"Tiga bulan ke depan kalau tidak ada halangan Mih." Jawab Jonathan.
"Mami hanya doakan yang terbaik untuk kalian,dan keluarga besar siap menyambut kedatangan Dhea menjadi bagian keluarga kami."
"Kak Jo, maunya setelah wisuda langsung resepsinya."
"Oh, wisuda dulu yah?Kapan?"
"Bulan depan wisudanya Mih."
"Oh sebentar lagi yah?"
"Iya."
"Sukes pendidikannya yah, dan apa yang Dhea rencanakan Tuhan merestui setiap langkah kamu dan Jo."
"Terimakasih Mih."
"Jo, kapan kita ke rumah Dhea dan bertemu dengan kedua orang tuanya?"
"Minggu besok yah Mih,Pih?"
"Papih ikut aja apa yang kalian rencanakan, semoga menjadi keluarga bahagia." Ucap Tn.Abraham.
Selagi asiknya berbincang-bincang membahas rencana pernikahan, handphone Jonathan berbunyi, dan rupanya ada agenda bertemu dengan crew lain yang akan membantu pernikahan Jo.
Siapa gerangan? Yang akan membuat Dhea terkejut dan diam.
Ikuti terus ceritanya yah? Dan terimakasih untuk suppor pembaca semua, dengan Vote,Like dan Komentarnya. Biar tidak ketinggalan kisahnya, jadikan novel ini bacaan favorit kalian dengan menekan tombol 💓.
Terimakasih.