
Snow Ball, bola salju kini sudah bergulir, tak akan ada asap jika tak ada api, Dhea merasa aman dan pandai menyembunyikan skandalnya dengan Ozi, namun Jonathan di balik senyumnya, menyimpan belati di balik punggung.
Dhea tak tahu lagi alasan apa yang ia sampaikan kepada kedua orang tuanya, resiko bukan saja ia terusir dari rumah, tetapi sikap yang akan di lakukan Jonathan menjadi tanda tanya besar.
Begitu juga dengan Ozi ia tidak tahu harus berbuat apa, dan bagaimana jika keluarga besarnya mengetahui keadaan yang kini menimpahnya, bagaikana reputasi Abah yang ia bangun puluhan tahun, hancur lantaran sikap Ozi yang telah 'mencoreng wajahnya'. Belum lagi ia harus menyikapi Nabila, perempuan baik-baik yang begitu sabar menghadapi kerasnya Ozi.
Mereka memilih kembali ke rumah masing-masing, dan Jonathan kasih kesempatan satu hari untuk mereka istirahat dan menyelesaikan urusan di internal keluarga masing-masing sebelum Jonathan mengambil sikap selanjutnya.
"Assalamu'alikum."
"Wa'alikum salam." Jawab Nabila dan terkejut melihat wajah suaminya memar, penuh luka.
"Masyallah, kenapa Kaaak?!"
Ozi meringkih kesakitan,"tadi ada masalah sama preman di lampu merah."
Nabila segera mengambilkan air hangat dan membasuh luka Ozi.
"Aduuuh...aw...pelan-pelan Bil."
"Ups Maaf Kak."
Begitu hati-hati Nabila mengobati luka Ozi, lalu memberikannya obat luka luar.
"Sebenarnya ada apa Kak?"
"Nggak ada apa-apa, memang aku kena musibah aja, tadi misahkan orang berkelahi." Ozi menegaskan kembali.
"Yaudah kalo hanya itu masalahnya Kak."
Merasa semua biasa-biasa saja, Nabila kembali beraktifitas, membersihkan rumah, dan cuci pakaian. Ozi masuk ke dalam kamar, ia bingung dengan masalah yang di hadapinya.Ia masih menyimpan tanda tanya, apa yang akan di lakukan Jonathan untuk dia dan Dhea.
Ozi merasa semua akan baik-baik saja, ia melihat Jo sendiri hanya sebatas sock traphy saja. Ozi pulas tertidur, dengan memar di wajahnya, Nabila memastikan suaminya itu baik-baik saja, dan ia bolak-balik ke dalam kamar, khawatir suaminya terbangun.
____________oOo___________
Kepulangan Dhea ke rumah orang tuanya, membuat keluarga bertanya-tanya, "Penganten baru kok masih tinggal sama Mama? Emangnya kemana Jo Dhea?" Tanya Mama yang merasa ada kejanggalan dengan Dhea memilih tinggal di rumah, padahal mereka baru saja menikah.
"Hmmm....Jo sibuk kan Mah, dia banyak urusan, aku tinggal disini dulu sama mama dulu aja."
"Mama sih nggak ada masalah kamu tinggal disini, tapi bagaimana anggapan keluarga Jonathan?"
"Mereka bebas-bebas aja Mah..."
"Yaudah kalo menurut kamu begitu, Mamah sih ikut aja."
Dhea menyembunyikan masalah yang sebenarnya terjadi, hanya tinggal menunggu masalah itu akan terungkap.
Hari-hari Dhea dan Ozi pasti dipenuhi rasa bersalah, sambil menunggu apa yang akan Jonathan lakukan, dan apa yang menjadi keputusannya.
Ini hari terakahir, tepatnya satu minggu Umi meninggal dunia, setelah keadaan rumah kembali seperti semula, semua baik-baik saja, tak ada hal aneh yang dirasakan mereka. Rumah yang dahulu ramai dengan suara Umi, kini sepi, seperti rumah kosong, tak nampak kehidupan. Abah sendiri, setelah kembali dari Yayasan ia langsung masuk ke dalam kamar, Abah sudah tak banyak bicara.
Selepas Isya, beberapa pria bertubuh kekar, dengan rambut panjang, ada juga yang memakai pakaian dinas mengetuk pintu rumah Abah, Ozi tengah tertidur pulas.
"Maaaf, cari siapa ya Pak?" Tanya Nabila terkejut melihat empat orang pria berbadan tegak, postur tubuh tinggi dan lengkap dengan pistol di pinggang mereka.
"Kami dari kepolisian, mau bertemu dengan saudara Fahrurozi, alias Ozi, dan ini surat penangkapannya Mba." Ucap salah satu petugas.
"Masyallah, salah apa suami saya Pak?"
"Kami hanya melakukan pengamanan pelaku saja Mba, berdasarkan laporan korban." Tegas petugas memberikan surat penangkapan kepada Nabila.Ia langsung menuju kamar, dan membangunkan Ozi.
Ozi terbangun dan masih melamun, "Siapa malem-malem gini cari aku?"
"Da.....daaa....dari Kepolisian."
Saat mendengar apa yang dikatakan Nabila, kalau di luar sana pihak kepolisian menunggu Ozi keluar dari kamar. Setelah mengganti pakaian, mereka keluar kamar dan menemui anggota kepolisian, Ozi nampak korperatif.
"Iya Pak, ada apa yah?"
"Masnya Ozi?"
"Iya saya Ozi."
"Silahkan Mas jelaskan di kantor saja yah?Tugas kami hanya menjemput."
Abah keluar dari kamar, lantaran ia mendengar ada suara orang di ruang tamu.
"Siapa Bil?"
"Bah...Ta....taa...tamu dari kepolisian." Jawab Nabila gugup.
"Ini ada apa ya Mas?" Abah kembali menanyakan kepada tamu yang datang.
"Kami dari pihak kepolisian ingin menjemput putra bapak, Ozi."
"Apa salah anak saya?!"
"Nanti kita jelaskan di kantor saja Pak, tugas kami hanya menjemput."
Ozi akhirnya rela dibawa petugas dengan menggunakan mobil dinas kepolisian. Ia diapit empat orang pria bertubuh kekar itu. Air mata Nabila menetes, ketika Ozi masuk ke dalam mobil, dan hilang di gelapnya malam.
___________oOo___________
Jonathan datang menemui Dhea, dan ia menjelaskan semua ke orang tua Dhea apa yang sudah putrinya lakukan, betapa terkejutnya Mamah dan Papah saat Jonathan menunjukan foto-foto serta bukti-bukti kesalahan yang Dhea lakukan. Jonathan berencana ingin menceraikan Dhea, putrinya itu harus mengikuti proses di kepolisian, karena dijerat pasal perzinahan.
Orang Tua dan pihak keluarga Dhea meminta menempuh jalur kekeluargaan, mereka berharap Jonathan tidak membawa permasalahannya ke dalam hukum.
"Saya sudah tidak dapat berbuat apa-apa Om, tante, saya sudah dirugikan bukan hanya materi saja, dan biar nanti pengacara Jo yang akan urus semua. Aku kesini hanya memberitahukan keadaan yang terjadi dan apa yang sudah Dhea lakukan."
"Om hanya berharap Jonathan tidak membawa permasalahan ini ke ranah hukum." Pinta Papah.
"Sudah tidak bisa Om, saya sudah buatkan laporan."
Papah marah besar dengan Dhea, sedangkan Mama pingsan saat mendengar kalau putrinya sudah dilaporkan ke pihak kepolisian.
"Maaaaaah...mamaaah...bangun...!" Teriak Dhea melihat wanita yang dari rahimnya Dhea dilahirkan terkulai lemas.
"Semuaaaaaaa karena kamu....!!! Anak nggak tahu diri!!" Sentak Papah.
Keadaan rumah menjadi gaduh, Jo membantu mengangkat tubuh Mamah dan memindahkannya ke tempat tidur.
"Aku terpaksa lakukan ini, biar kamu merasakan bagaimana jika kamu berada di posisi aku."
"Aku tau Joo, aku salah. Tapi nggak seharusnya kamu main ambil keputusan sendiri dan tak memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua."
"Maaf semua sudah terlambat, dan aku sudah perhatikan kamu jauh-jauh hari, sudah tahu sikap kamu salah, tetapi diam-diam kamu teruskan juga. Aku tahu ketika kita bertemu di resto waktu itu, aku sudah melihat mobil kamu terparkir dan kamu asik bercanda mesrah dengan si breng*ek Ozi."
"Joooo aku mohon tarik laporan kamu di Polisi, aku siap kamu apa kan saja, asal jangan masukan aku ke dalam penjara." Air mata Dhea terus bercucuran.
Bersambung >>>