Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Aku Punya Hati dan Air Mata Yang Sama


Waktu mendekati waktu Adzan Magrib, mega di ufuk Barat nampak memerah, berangsur berganti hitam pekat. Air hangat yang sudah disiapkan Nabila, kini sudah tak hangat lagi, begitu juga nasi yang sudah ia masak, terpaksa dihangatkan kembali, khawatir suaminya pulang nanti, menurunkan selera makannya.


Sebelum maghrib Nabila sudah memakai mukena, dua sajadah sudah ia siapkan di kamar, Nabila duduk bersimpuh di sajadah dibaris kedua, sajadah satu lagi ia sediakan untuk Ozi, sang suami yang sedari siang meminta izin untuk rapat.


Matanya terus memperhatikan setiap detik jarum jam yang bergeser, jemarinya kecil dan kulit halusnya terus menari di atas tasbih, bibirnya senantiasa basah dengan kalamaullah, tahmid, dan istighfar serta sholawat.


Ia terpaksa sholat Maghrib seorang diri, tak bergeser sehasta pun dari tempat duduknya, ia terus melakukan tadarus, sambil menunggu waktu sholat Isya tiba, matanya tak lepas dari jam yang terus berderak, sesakali ia melihat sajadah dan kopiah di hadapannya yang sengaja ia siapkan untuk lelaki yang ia pilih sebagai imam dalam hidup.


"Ya Allah, jam segini Kak Ozi belum juga pulang, lindungilah ia Ya Rabb..." Seiring bibirnya melafadzkan Sholawat.


BRAAAAK!


Suara itu mengaketkan Nabila, sholawat yang ia lafadzkan berganti istighfar, sepontan ia mendekat ke sumber suara. Betapa terkejut, saat mata nya menyaksikan foto pernikahan mereka terjatuh dari dinding kamar.


"Ya Rabb, semoga Kak Ozi baik-baik aja." Ucapnya lirih, sambil merapihkan serpihan kaca yang tercecar di lantai, khawatir suaminya menginjak, dan melukai kaki.


Tak lama ia dikejutkan suara langkah kaki yang kian mendekat ke arahnya. Pintu kamar terbuka, betapa senangnya ketika yang ia lihat Ozi, suami yang ia tunggu kedatangannya.


Layaknya seorang istri, ia menggapai jemari kanan Ozi, dan menciumnya. Namun ada aroma aneh terasa di hidung, wangi tangannya seperti aroma wangi yang asing bagi penciuman Nabila.


"Ah, mungkin pengharum mobil saja." Ucap Nabila dalam hati, menepis rasa curiga berlebihan.


"Kak sudah makan? Bil sudah siapkan nasi dan lauknya. Maaf kalo nasi nya sudah tak hangat lagi.


"Aku sudah makan, kamu makan aja duluan yah?"


"Yaudah, tapi kita bisa solat Isya berjama'ah kan kak?"


"Aku capek, kamu aja solat duluan ya?"


"Mau aku buatkan air hangat kak?"


"Aku langsung istirahat aja yah? Kamu kan tau dari siang aku meeting, baru sekarang pulang."


Ozi beranjak menuju tempat tidur, tanpa melepas pakainnya ia tertidur pulas.


Dengan sabar Nabila melepas satu persatu pakainnya, sepatu dan jam tangan.


"Kasian kak Ozi, semoga Allah mudahkan urusannya." Doa tulus Nabila sambil menatap wajah lelaki yang kini terkulai lemas.


Selagi merapihkan semua yang melekat di tubuh suaminya, ia terusik suara handphone yang menyala lampu LCD nya, di layar muncul 'Dhea Memanggil.'


Nabila tak berani menyentuh dan dibiarkan saja menyala, ia kembali fokus merapihkan pakaian yang melekat di tubuh Ozi.


"Sungguh kalau bukan ijab-qabul ku untuk patuh kepada imam dalam hidup dan untuk seumur hidup, mungkin sudah berakhir pernikahan ini di malam pertama. Ya Allah, jika memang sabar ini menjadi jalan jihad ku kepada Mu, lapangkanlah hati ini, kuatkanlah untuk aku bisa lalui semua." Doa Nabila saat melihat nama Dhea, yang muncul dari LCD Handphonenya.


"Tak pantas jam segini wanita lain menghubungi suami orang." Gerutu Nabila dalam hati, Nabila hanya wanita biasa yang hatinya memiliki rasa cemburu.


"Hanya Engkaulah tempat sebaik-baiknya aku curahkan perasaan ini, dan hanya Engkaulah sebaik-baiknya penjaga rahasia." Di sepertiga malam ia ceritakan semua apa yang menjadi keluh kesah.


____________________oOo_______________


Perempuan berparas cantik, hidung mancung dan rambut yang selalu tertutup jilbab itu tak melanjutkan tidur setelah selesai menunaikan Tahajud, ia mencoba membangunkan Ozi, tetapi justru perlakuan yang tidak enak Nabila terima.


"Kak, bangun solat subuh berjama'ah yuk? Ka...kaaa..." Jemari Nabila dengan lembut menyentuh pipi Ozi.


"Kamu bisa nggak, kalo aku lagi istirahat jangan ganggu, aku bukan anak kecil lagi yang kamu atur-atur."


"Subhanallah,..Astaghfirullah..." ucap Nabila dalam hati, tak menyangka ia mendapat jawaban seperti itu dari lelaki yang harusnya menjadi panutan dalam hidup.


"Ya Allah, maafkan suamiku..."


Ozi kembali tertidur, dan Nabila menunaikan solat Subuh seorang diri.


Sehabis melaksanakan Solat, ia merapihkan kamar, mencuci pakaian, dan terakhir menyiapkan sarapan pagi untuk Ozi.


"Nanti kalo Abah dan Umi tanya, bilang aja aku lagi nggak enak badan yah? Aku ada kerjaan di luar untuk hari ini, ada yang minta untuk dibuatkan foto dan video prewedding, aku pergi sama Ale."


"Ii....ii....Ya, nanti kalau Umi dan Abah tanya Bila sampaikan. Kakak nggak sarapan dulu?"


"Masih kenyang, nanti aja di luar."


Ozi langsung meninggalkan rumah, tanpa sedikit pun melihat makanan yang sudah Nabila siapkan.


"Mubazir...makanan sudah dibuatkan tetapi nggak pernah di makan."


Dhea dan Jonathan sudah menunggu, selang beberapa menit, Ale dan Onci serta beberapa crew tiba dikediaman Jonathan.


"Ok, karena semua sudah ngumpul, kita langsung ke lokasi pertama yah? Untuk pengambilan gambar." Onci mengarahkan Crew.


Di lokasi pertama, semua crew menjalankan job desknya masing-masing. Onci mengatur pakaian dan koreo calon mempelai. Dhea dan Jonathan nampak begitu mesrahnya.


"Kamu nggak apa-apa kan Yank?" Bisik Dhea disela waktu istirahat.


"Nggak apa-apa...Kenapa memang?"


"Kali aja jealous..."


"Ada siih sedikit."


"Nggak cinta dong kalo cuma sedikit."


"Apa cinta itu harus cemburu ya?"


"Nggak juga...setidaknya kalo kamu cemburu ada cinta yang masih tersisa."


"Cinta nggak harus melulu cemburu yank."


Selagi asik mereka berbincang, Jonathan menghampiri.


"Hasil nya bagus yah ..." Ucap Dhea mengalihkan pembicaraan.


"Semoga aja hasilnya maksimal, .."


"Pasti itu...Kita jaga kwalitas." Ucap Onci.


"Habis ini konsepnya apa Mas Onci?"


"Kita main di pematang sawah, biasanya di pematang sawah, ada irigasi. Nah, Koko Jo, di irigasi dan Dhea di pematangnya sawahnya, sambil menuntut Dhea."


"Maksud dari konsep itu apa Mas? Tanya Jonathan.


"Maksudnya, apa pun yang terjadi seorang suami harus rela berkorban demi pasangannya."


"Keren juga....jadi setiap sesi ada makna nya yah?"


"Betul."


"Sehabis dari pematang sawah, kita cari kolam ikan, Koko Jo masuk di kolam, sambil membawa hasil tangkapan di berikan ke Cici nya."


"Nah, kalo itu aku tau artinya,..." Celetuk Dhea.


"Apa?"


"Ikan itu simbol rezeki, kalo suami dapat rezeki berikan ke istri, betulkan?"


"Kamu kalo urusan uang nomor satu yaaah?"Ucap Jonathan sambil mencubit hidung Dhea, manja.


Bersambung