
Pandangan Onci kosong, ia termenung di pelataran basecamp, tak ada lagi tawa yang mememenuhi ruang dan tak ada lagi canda. Biasanya mereka berkelakar, teriak merayakan kemenangan, atau merasa kawan teraniaya itu bahagia bagi kita. dan kini semua bisu....
"Mas Onci, bisa ke kantor nggak? Ada yang mau kita bicarakan?!" suara yang keluar dari ponsel Onci, suara orang yang beranggung jawab untuk promo dan event mall, Pak Ali dan Pak Eko-lah yang menyeleksi EO yang dipilih mereka, hanya ada 3 EO yang memang sudah dibuktikan trackrecord nya oleh Mall tersebut, salah satunya EO milik Onci, 5678 Production.
Onci pun langsung memenuhi panggilan petinggi promo dan event mall tersebut, entah ada hal apa yang ingin dibicarakan. Ia meminta Dhea untuk menemani meeting, terpaksa Onci melibatkan gadis itu, karena keadaan yang memaksa.
"Aku minta tolong kamu temenin aku meeting yah?" pinta Onci
"Lah kenapa tidak dengan team kamu?"
Karena Dhea tahu kalau urusan event Onci akan ajak teamnya seperti Ale, Ipul, Andi atau Ridho.
"Aku jujur yah, kamu jangan marah. Mereka cemburu aku terlalu dekat dengan kamu, waktu ku habis dengan kamu, mereka meminta mana yang harus aku pilih."
"Terus, kamu pilih aku?" Tanya Dhea
"Yah..."
"Apa alasan kamu?"
"Dalam hidup kita akan selalu dihadapkan dengan pilihan, mereka pun pernah mengalami apa yang kini aku alami, teralu lama aku bersama mereka, dan setiap orang punya hak menikmati hidup serta memilih jalannya. Aku pun yakin, kamu lah yang aku pilih, dengan segala konsekwensinya yang harus aku terima." Jawab Onci dengan wajah nanar.
"Aku cukup perihatin dengarnya, dan tenang aja aku akan temani kamu, kalo pun boleh aku akan bantu untuk urus event-event kamu yaah?"
Jawaban Dhea di luar dugaan Onci, walau ia terbilang manja tetapi masih ada sifat dewasa. Entah sebagai bentuk rasa kasihan, atau reward karena sudah memilihnya, hingga Thea mau meluangkan waktu untuk membantu Onci.
Sampai ia rela meninggalkan kuliah,hanya menemani Onci meeting.
"Mas Onci, bagaimana persiapan acara lomba mewarnai PAUD se Tangeranganya? Sudah berapa peserta yang daftar?" tanya Pak Ali yang duduk berdampingan dengan Pak Eko.
Kontan, membuat Onci kaget dan entah harus menjawab apa. Satu sisi dia tidak mau mengecewakan Ali dan Pak Eko. Di sisi lain, keadaan tim EO nya sedang protes dan terpecah.
Thea pun memandang ke arah Onci yang tengah bingung, nyaris tanpa kata.Tiba-tiba saja gadis yang duduk di sisinya itu.
"Persiapannya sudah 80 persen pak, tinggal registrasi ulang saja." Ucap Dhea yang membuat Onci terperangah, padahal justru keadaannya hanya 20 persen.
Onci tersentak dengan apa yang di ucapkan Dhea di depan Pak Ali dan Pak Eko.
"Waah syukurlah, kalo memang persiapannya sudah 80 persen, setelah ini buat event berikutnya, kasih ke kami penawaran dan konsep acaranya ya mas?" Pinta Pak Eko
"Sii...siaap pak!" Jawab Onci
dan langsung di sela oleh Dhea.
"Makasi atas kepercayaannya Pak Eko, Pak Ali."
"Ok, kami lanjut meeting internal ya mas, mba." Mereka pun meninggalkan ruangan setelah menyalami Dhea serta Onci.
Onci tidak tahu maksud Dhea apa dengan semua ini, yang justru dengan ucapannya tadi akan membuat masalah baru. Dhea pun tahu bahwa kondisi internal EO Onci tengah bermasalah.
"Kamu kok bilang begitu sama mereka? Kamu juga tahu kalo aku lagi ribet dengan urusan anak-anak." Ucap Onci panik
"Kamu tenang aja, kamu masih punya aku yaaank..." Ucapan Dhea menyejukan Onci, tetapi ia pun bingung dengan pernyataan Thea, yang sampai detik ini saja tidak ada peserta sam sekali.
"Tapi aku juga bingung yaaank, kemana cari pesertanya?!!"
"Sekarang tugas ayaaank, buatkan aku brousurnya, dan aku akan sebarkan di sosmed, nanti aku yang cari pesertanya."Ucap Dhea.
"Ok." Onci belum yakin juga kalau Dhea bisa bantu dia.
___________________***_________________
Onci pun mengikuti apa yang diarahkan Dhea, dan ia juga yang turun tangan untuk mencari peserta, masuk ke sekolah-sekolah dan membuka akses.
"Kadang kita itu butuh kerja cerdas dan bukan keras." Ucap Dhea kepada Onci.
"Maksud kamu?"
"Yaah, kita cari guru-guru Paud atau TK nanti biar mereka yang membantu carikan kita perserta, beri mereka uang registrasi untuk operasional guru. Kelaaar deeeeh...Auto banyak yang daftar bukan?"
"..............." Onci hanya bengong dengan ucapan yang tidak ia sangka, muncul dari mulut gadis yang ia anggap tidak semua orang paham dengan dunia EO, tetapi Dhea mampu berpikir ke arah tersebut.
"Gilaaa cerdaaas!"ucap Onci dalam hati.
Dan Onci sudah melihat bagaiamana usaha Thea yang begitu gigih membantunya.
"Kita liat nanti yaah, menjelang hari H berapa banyak yang daftar." Ucap gadis itu meyakinkan Onci.
Onci pun melihat bagaimana antusias para guru yang bertanya padanya, bahkan ada yang menjanjikan membawa puluhan peserta.
"Kamu liat sendiri, yang telepon, WA dan inbox aku sudah banyak. Jangan kwatirkan peserta, kita harus mengimani semua yang baik-baik. Percayalah, Tuhan akan tunjukan mukjizatnya."
"Terimakasih kamu bantu dan semangatin aku, yang sudah hampir menyerah."
"...................." Dhea pun tersenyum
"Itulah tugas aku sebagai bidadari syurgamu....sekarang kamu harus semangat jangan berkecil hati, ok?"
"Siaaaaap...."
"Sekarang kamu jangan lupa ibadah, aku temenin yuk..."
"Haaaah?! Kok sampai kamu perhatikan ibadahku?!" ucap Onci dalam hati.
Dan akhirnya Onci pun menuju masjid, untuk menunaikan ibadah, yang memang ia pun tidak pernah tinggalkan, lantaran ia juga memang pernah mengenyam dunia pendidikan Islam di sebuah pesantren cukup terkenal di Jawa Barat.
Yang membuat Onci terperangah dan kaget, Thea itu beda agama, tetapi mau mengingatkan dirinya Ibadah.
"Aku tunggu kamu di luar yaaah? Nggak mungin juga aku masuk, nggak bisa make jilbab. " Ucap Dhea.
"Bukan jilbab kali, tapi Mukena." Onci meluruskan
"Naaaah itu maksudku..."
Thea pun menunggu Onci yang sedang melakukan Sholat Ashar, dan ia perhatikan cara umat Islam sedang sholat, bagi Dhea ini hal baru yang ia lihat.
Dan orang yang mau masuk ke masjid pun memperhatikan Dhea, dengan pakain dada agak terbuka masuk ke pelataran masjid, bagi mereka pun memandang Dhea dengan asingnya, karena yang masuk ke masjid mengenakan jilbab dan tertutup rapat, sedangkan Dhea wanita yang berpakaian yang serba minimalis dan sedikit terbuka.
Yah, karena dalam Islam wanita wajib menutup aurat, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang boleh nampak hanya wajah dan kedua telapak tangan.