
Kata-kata itu yang membuat Nabila termenung, untuk apa Ozi memilih Nabila jika hanya sebatas belajar mencintainya, jika memang pernikahanya itu lantaran keterpaksaan. Mendengar Ozi mengucapkan kata,' Belajar Mencintai' mengapa keluar baru sekarang ini? Ketika Ozi mengikatnya cintanya dalam ijab dan qabul.
Mengapa baru sekarang ia mengatakan itu, jika memang tidak cinta. Nabila tidak habis pikir, dan ia merasa bahwa hanya dirinya saja yang mencintai, sedangkan Ozi menikahi Nabila seperti sebuah pelarian saja.
"Lagi-lagi aku harus menerima sebuah pilihan yang sudah terlanjur aku putuskan, mencintai tanpa harus dicintai." Ucap Nabila dalam lamunannya.
"Maaf ya Bil, kakak harus jujur dengan keadaan, Bila juga merasakan itu bukan? Mau nggak mau, Kakak harus katakan itu, tinggal Bila tentukan sikap, memilih bersabar menemani atau Bila punya pilihan lain."
"Iya Kak, Bila pahami itu, tetapi bukan itu saja yang menjadi alasan Nabila menerima keputusan keluarga untuk menikah dengan Kakak, Bila tidak pernah menyalahkan Kakak, tetapi janji Bila sama Allah ketika ijab dan qabul yang sama-sama kita ucapkan, pertanggung jawabannya bukan hanya pada manusia tetapi Allah. Apa pun keadaannya insyallah Nabila menerimanya."
"Sering Kakak menyakiti Nabila, pengusik perasaan Nabila, sikap Kakak yang membuat Nabila sakit hati, itu bisa menjadi dosa terbesar dalam hidup Kakak, apa kamu bisa terima dengan keadaan ini?"
"Nabila hanya bisa serahkan semua sama Allah, dia kan pemilik hati manusia. Dengan mudahnya ia bolak-balikan hati manusia bukannya gitu Kak?"
"Jika itu keputusan kamu, yang terpenting Kakak sudah cerita apa adanya, khawatir kamu akan kecewa dengan sikap yang Kakak lakukan, pasti Nabila kecewa dan sakit hati dengan semua yang Kakak lakukan."
"Kak, kalo bukan karena Allah Nabila memilih dan Kalo bukan karena Allah Nabila menerima keputusan hidup ini, mungkin Bila sudah menghabiskan umur Nabila sampai disini. Tetapi Bila hanya minta Allah kuatkan hati Bila untuk menerima suratan hidup. Insyallah itu yang akhirnya bisa membuat Nabila Ikhlas jalanin semua."
Ozi kehabisan kata, mendengar ucapan Nabila. Dan ia teringat sebuah kutipan nasihat cinta, 'Mudah untuk mengetahui kesetiaan pasangan hidup, ketika ia kamu berikan sikap yang membuatnya terluka, tetapi ia tetap memilih untuk bertahan," seperti itu cara mengetahui seberapa ikhlas, sabar dan setianya pasangan hidup kita.
Ozi hanya terdiam, tak dapat membalas semua ucapan yang keluar dari bibir Nabila. Walau luka yang ia dapatkan, ia akan ikhlas menerima semua.
"Entah harus bagaimana lagi aku bicara, kalau hatinya Nabila sudah tertanam keikhlasan, ketulusan, semua salah ku, hingga akhirnya Nabila yang menjadi korban." Ucap Ozi dalam hati.
"Sekarang apa yang Nabila pilih, tetap bertahankah?"
"Yah, Insyallah Nabila bertahan menemani Kakak, walau mungkin saja, bagi sebagian wanita, Nabila dianggap perempuan bodoh, perempuan yang tidak ada nilainya. Tetapi Nabila nggak akan perdulikan itu, sebab Allah lah yang menilai setiap tingkah laku Nabila, bukan manusia."
Entah terbuat dari apa hati Nabila, hingga sesabar itu menemani Ozi, wajah cantiknya, tutur perangainya bisa saja ia memilih cerai dengan Ozi, dan tidak sulit bagi Nabila untuk mendapatkan penggantinya, tetapi dari ucapan Nabila ia tetap setia menemani Ozi walau apa pun yang akan terjadi. Apa karena Nabila diguna-guna? Atau Nabila memiliki tujuan yang lain dalam hidupnya? Membuat sebagian wanita begitu penasarannya, dan kesal dengan sikap perempuan yang memiliki wajah Timur Tengah itu.
"Bener? Apa pun yang terjadi? Kamu tetap menemani Kakak?"
"Yah, Nabila akan temanin Kakak."
Untuk pertama kalinya Ozi memeluk Nabila, tak terasa air mata Nabila membasahi pipinya, ia begitu haru dengan sikap Ozi.
_________________oOo_______________
Entah apa yang membuat Dhea tergila-gila dengan Ozi, dan memilih langkah yang terbilang nekat. Ia masih saja, mencuri waktu untuk bisa bertemu dengan Ozi.
Selepas satu hari setelah pernikahannya, ia membuat janji dengan Ozi, untuk mengajaknya pergi, dan seperti biasa, bertemu di luar. Pantai yang ia pilih, di sana mereka menikmati sunset dan berbagi cerita.
Ozi merasa di atas angin, saat ia mengetahui Nabila akan menerima bagaimana pun keadaan dan sikap yang Ozi akan lakukan terhadapnya.
Selagi menikmati senja terbenam di ufuk Barat,matahari berangsur turun, dan berganti malam, berganti juga jalan cerita cinta Dhea dan Ozi.
"Jangan dikira aku tidak memperhatikan tingkah kalian. Aku bukan orang bodoh Dhea, aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Mulai dari prewedding, sampai kehadiran tamu istimewa di acara pernikahan kita, Bung Ozi alias Onci orang yang mengurus semua persiapan pernikahan itu, ternyata kekasih yang tidak bisa dilupakan, oleh perempuan yang sekarang menjadi istriku." Ucap Jonathan dan membuat panik sepanik-paniknya Ozi dan Dhea, nyaris tak bersuara.
"Mungkin, aku diam saat kalian merasa aman dengan hubungan yang kalian anggap aku tidak tahu. Hanya saja, aku memilih waktu yang tepat. Kalian pasti tahu, apa hukuman yang diterima jika orang yang sudah berkeluarga dan resmi tercatat dalam hukum negara itu berzinah? Atau selingkuh? Pasti tahu dong apa konsekwensinya?! Dan semua sudah aku kumpulkan barang bukti. Tinggal kita tunggu proses selanjutnya.....!!!"
Ozi terdiam dan seluruh tubuhnya keluar keringat dingin, pikirannya tak menentu, ia pasarah dengan apa yang akan ia hadapi. Begitu juga dengan Dhea yang tak berkutik, tertangkap tangan.
"Jo, aku bisa jelaskan semuanya." Dhea mencoba bernegosiasi
"Hiii...Hiii...Hii.....Apa lagi yang harus kamu jelaskan perempuan yang tidak punya otak seperti kamu!!"
"Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Onci, dia sebatas temen aja. Kamu jangan ngaco deeeh!!"
"Apaaaaa teman kata kamu? Apa pantas seorang teman masuk ke kamar hotel berdua? Apa itu yang disebut teman?! Dan diam-diam mencuri waktu untuk bertemu?! Kamu tidak sadar Dhea, semua chat kamu sudah aku kloning. Semua foto sudah aku simpan baik-baik, dan setiap pertemuan kamu dengan cowok bang*a* yang ngakunya masih single.....lo nggak mikir?! Nyokap lo baru meninggal tapi asik sama istri orang!"
PRAAAAK
BRUK
DEEP
Sebuah pukulan dan tendangan telak mendarat di wajah dan perut Ozi.
"Joooooooo, cukuuuuuuup!!!" Dhea berusaha menahan pukulan dan tendangan Jo.
"Inget! Ini baru pembukaan, dan semua akan lu rasakan! Dan untuk lo Dhea, semua akan gw bongkar di depan orang tua lo. Sudah taukan berapa biaya yang gw keluarkan hanya untuk menikahi perempuan pel*c*r seperti eluuuu....!!"
Jonathan tidak bisa lagi menahan emosinya, dan mereka akan menanggung semua konsekwensi dari perbuatannya. Apa yang ditanam, maka itulah yang akan mereka tuai.
"Gw kasih elo waktu, satu hari untuk minta maaf sama istri dan Abah lu!" Jonathan pergi meninggalkan mereka.
Seperginya Jonathan, Dhea dan Ozi termenung, mereka tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, hanya menyesali perbuatan mereka selama ini. Mereka tak mengira akan jadi seperti ini, mereka tak menyangka perjalanan cintanya berujung dengan luka dan air mata.
"Sekarang aku pasarah, dan nggak tahu lagi harus berbuat apa." Ucap Ozi dengan tatapan kosong dan meringis kesakitan.
"Aku juga sama Yank, nggak tau apa yang Jo lakukan setelah ini, dan bagaimana aku menyikapi semuanya."
Tak ada kata lain, tak ada solusi yang tepat serta tak ada negosiasi yang bisa mereka lakukan, selain pasrah dengan apa yang akan terjadi esok hari.
Ozi sendiri juga tak tahu apa yang mesti ia jawab ketika Nabila dan Abah tahu dengan memar yang ada di wajahnya, pasti akan menyimpan pertanyaan yang besar.
Pagi tinggal hitungan jam saja, mereka tak tahu apa yang akan mereka alami keesokan harinya, Dhea sendiri tak ada keberanian untuk pulang ke rumah orang tua dan menemui mertua serta Jonathan.
Bersambung >>>>