
Nabila berusah memilah dan memilih mana yang menjadi skala prioritas dalam hidupnya,sejenak menangguhkan beban hidup yang berat dan ia hadapi, salah satunya adalah keputusan pengadilan agama yang mengabulkan perceraian Nabila dengan Ozi. Walau hati kecilnya tidak ingin adanya perceraian, dan ia paham itu adalah perbuatan yang dibenci Allah dan Rasulnya.
"Sekarang beban kamu satu persatu sudah teratasi, semoga kedepannya kamu temukan pengganti yang lebih baik lagi," ucap Ustadz Burhan yang menjadi saksi sidang perceraian Nabila dan Fahrurrozi, walau Ozi sendiri tidak bisa hadir, dan Abah ikut dalam proses peradilan itu.
"Bila, Ane atas nama pribadi dan orang tua dari Ozi minta maaf segala bentuk kelalain Abah, semoga ini menjadi lembaran baru bagi hidup ente ya? Dan Ane juga minta maaf sama ente Ji, sampai begini jadinya." Abah mengucapkan maaf kepada Nabila dan Haji Romli yang ikut hadir menemani pembacaan keputusan hakim agama.
"Ane paham Ji, siapa sih yang mau jadi begini, semua sudah Allah tentukan." Ucap Haji Romli yang tak lain sahabatnya itu.
"Iya Bah, Nabila sudah maafkan semua dan Nabila sudah ikhlas dengan jalan hidup, semua yang sudah menjadi ketetapan Allah."
"Jadzakumullah kalo gitu Bila, Abah sedikit lega. Han..." Abah memanggil Burhan.
"Iya Bah..."
"Setelah urusan ini kelar, ente urus semua ke Notaris perihal urusan Yayasan ya?"
"Maksud Abah?"
"Rasanya sudah waktunya ane serahkan yayasan ke Nabila, biarlah ane sekarang hanya menjadi pembina atau penasehat saja, sudah waktunya yang muda urus semua keperluan yayasan, biar Abah cukup ceramah aja, tinggal ente dan Nabila yang urus semua, ane percaya sama ente dan Nabila. Karena ente sudah cukup lama kenal dan ikut ane Han..."
"Taaa..tapi Baaah..."
"Udah nggak usah ada tapi...tapian, ane dan Romli hanya cukup menjadi pengawas, sama penasehat aja."
"Udahlah Stadz, emang ente jagonya urusan lapangan, dan bisa bantu Nabila ngurus yayasan." Nabila memotong pembicaraan dan meyakinkan keragu-raguan Ustadz Burhan yang menerima keputusan Abah.
"Tuh ketua yayasannya sudah setuju, tinggal entenya aja..." Ucap Abah.
"Pasti Ustadz Burhan mampu kok." Nabila support Ustadz Burhan untuk bisa terlibat lebih jauh di yayasan.
Kalau Nabila yang sudah bicara, Ustadz Burhan tidak bisa menolaknya, ia akhirnya mengiyakan apa yang Nabila pinta.
"Insyallah ane jalanin amanah dari Abah, Haji Romli dan Nabila."
"Naaaah gitu, baru lelaki namanya." Sindir Haji Romli.
"Ente sama Nabila cocok kaloberasi."
"Kolaborasi Baaah...." Nabila meluruskan ucapan Abah yang salah.
"Nah itu maksud Abah..."
"Tapi kalo saya banyak salah, jangan dimarahin ya Bah?!"
"Mana ada ane marah-marah, paling ane jejeg. Haha..."
Mereka pun akhirnya bisa tertawa lepas, setelah beberapa bulan dirundung duka yang cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran.
"Yaudah, ane sama si Haji jalan dulu ya, ente berdua mulai kerja, dan pikirin bagaimana yayasan kedepannya untuk lebik baik lagi. Kitr pamit yaa?Assalamu'alikum..." Tutup Abah, dan mereka berjalan beriringan meninggalkan Nabila dan Ustadz Burhan.
"Bil, jujur ane belum sanggup deh dikasih tugas berat gini."
"Berat apa sih Ustadz? Tinggal urusin kebutuhan lapangan aja kok."
"Kalo sekedar siapin acara, dan ***** bengeknya saya masih sanggup, tapi kalo sudah ke management jujur ane masih cetek ilmunya." Yang dimaksud Ustadz Burhan, kalau dirinya masih dangkal pengetahuan tentang management.
"Pelan-pelan nanti ustadz juga paham, apa itu managerial."
"Kalo urusan matrial, saya masih paham."
"Bukaaan matrial, tapi managerial alias urusan administrasi dan sistem."
"Nah itu..."
"Huft, yaudah deh..."
"Oh iya, kapab Ustadz mau ngebesuk Kak Ozi, Nabila mau nitip sesuatu dan tolong bawakan untuknya ya?"
"Biasanya waktu besuk itu hari Kamis Bil."
"Yaudah, nanti kalo Ustadz Burhan mau ke sana, Nabila mau nitip sesuatu untuk Kak Ozi."
"Ampun aaah, udah disakitin masih aja inget sama si Ozi." Gerutu Ustadz Burhan dalam hati.
"Ustadz, memberikan hadiah itu sunah Rasul, kepada siapa pun bukan?"
"Iya siih Bil..."
"Ustadz, se-tingkat Rasulullah saja, masih rela dan ikhlas menerima hinaan, bahkan Rasul pernah di lempari batu di Thaif bukan? Apa Rasul marah? Apa Rasul minta sama Allah tuk balaskan dendam? Mudah bukan bagi Rasulullah meminta kepada Allah untuk menghancurkan penduduk Thaif waktu itu?"
"Yah amat mudah, ..."
"Terus kenapa Rasulullah bisa memaafkan sedangkan kita hambanya yang akhlaknya nggak ada sujung kukunya, masa nggak bisa memaafkan kesalahan orang lain."
Mendengar ucapan Nabila seperti itu, seakan ia tahu apa yang Ustadz Burhan ucapkan di hati.
"Jadi, belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang, walau itu tidak mudah bukan?"
"Iya tidak mudah Bil."
"Jadiiiii bolehkan Nabila titip hadiah untuk Kak Ozi?"
"Bo...Boleh Bil...Boleh banget malahan."
Akhirnya Ustadz Burhan menerima permintaan Nabila untuk membawakan hadiah untuk mantan suaminya itu.
"Sampaikan permohonan maaf Nabila ya? Dan sampaikan juga hasil keputusan pengadilan."
"Insyallah Bil..."
Nabila dan Ustadz Burhan yang kini meneruskan tongkat estafet untuk mengembangkan yayasan. Bukan pekerjaan yang mudah bagi Ustadz Burhan untuk bisa masuk ke dalam ruang lingkup mangement. Karena keterbatasan pengetahuannya, tetapi atas dukungan Nabila yang kini memangku jabatan sebagai ketua yayasan secara struktural dan besok mulai Ustadz Burhan mengajukan perubahan akte yayasan ke notaris.
________oOo_______
Walau secara lisan Abah sudah melimpahkan semua urusan yayasan, namun pelan-pelan Abah melepas Nabila, dan beliau pun mengumumkan di hadapan para pengurus dan tenaga akademik di yayasan untuk menerima apa yang menjadi pertimbangan, serta keputusan Abah.
"Bismillah, dengan ini ane lantik kepungurusan yayasan, berdasarkan akte perubahan, dan berdasarkan pertimbangan serta melihat perkembangan yang terjadi belakangan ini, serta perubahan dari berbagai divisi serta pengembangan yang kita liat bersama, untuk itu atas izin Allah saya serahkan kepengurusan yayasan kepada Nabila serta di bantu Ustadz Burhanuddin."
Kini resmilah ketua yayasan dipangku jabatannya oleh Nabila, untuk wakil dipilih Ustadz Burhan untuk mendampingi Nabila. Karyawan serta pengurus yayasan mengapresiasi apa yang menjadi keputusan Kiayi Syahrullah alias Abah, dan mereka juga merasa nyaman bekerja sama dengan Nabila dan Ustadz Burhan.
"Jadzakumullah, untuk Kiyai Syarullah atau yang kita kenal dan panggil Abah, saya ucapkan terimakasih atas keputusan tersebut, tentunya saya terlalu muda untuk memimpin yayasan yang sebegini besar, luas dan hebatnya, tanpa didukung dari para Ustadz dan Ustadzah yang tentunya lebih senior dari saya, yang lebih paham culture yang ada di yayasan kita ini, jika yayasan ini tumbuh besar, bukan karena saya sebagai ketua yayasanya yang membesarkan, tetapi para tenaga pendidik dan pengurus yayasannya lah yang berhasil membuat besar. Atas dasar itulah, saya pribadi mengucapkan terimakasih yang tak terhingga untuk semua, dan salah satunya guru, kakak sekaligus panutan bagi kita, yakni Kiayi Syarullah dan almarhumah Umi Aisah yang sudah meletakan batu dan pondasi pertama di yayasan ini, semoga saya bisa mengemban amanah yang berat ini, akhir kata saya ucapkan terimakasih, wassalamu'alikum warahmatullahi wabarakatuh..."
"Walaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."
Ramai, riuh dan atmosfir ruangan penuh haru setelah Nabila memberikan sambutan sebagai ketua yayasan yang kelak akan menggantikan Kiyai Haji Syahrullah yang kini menjabat sebagai penasehat yayasan bersama ayahandanya, Haji Romli yang mulai ikut terlibat dalam kepengurusan, selama ini beliau hanya sebagai sahabat dari Abah saja, namun berkat rayuan Abah, Haji Romli mau ikut membantu mengembangkan Yayasan.
Bersambung >>>>
_________oOo________
Saya ucapkan terimakasih atas dukungan para pembaca setia, apalah arti penulis tanpa ada pembaca. Dan terimakasih untuk kalian yang sudah meninggalkan jejak komentar, vote dan dukungan serta bergabung di group chat saya.
Tak ada kata lain, selain ucapan terimakasih untuk dukungan kalian semua.