
Semalaman Ozi tak bisa tidur, kali ini bukan karena habis telepon-telonan dengan Dhea, tetapi dia memikirkan biaya berobat Nabila, yang dalam hitungan beberapa jam lagi harus ia lunasi.
Mau tidak mau ia menghubungi Dhea, mencoba meminta sisa pembayaran yang seharusnya di lunasi jika foto dan video prewedding sudah selesai dikerjakan.
[ OZI ]
Yank, sebenarnya aku nggak enak chat kamu, tapi karena keadaan mendesak dan aku butuh uang untuk ada urusan yang harus aku bayar.
[ DHEA ]
Iya, ada apa? Memangnya kamu mau bayar apa?
[ OZI ]
Ada masalah yang aku butuh untuk besok pagi.Maksud ku, aku mau minta sisa pembayaran foto prewedding sih.
[ DHEA]
Kalo untuk foto prewedding yang bisa ngambil uang itu kan Ale yank, jadi hanya dia yang bisa ngambil sisa pembayaran. Gini aja, kamu butuh uang berapa?
[OZI]
Kurang lebih 10 juta, tapi liat besok aja kali ya, berapa duit yang aku butuhkan.
[DHEA]
Yaudah besok kabarin aku aja ya? Kamu lagi dimana?
[OZI]
Aku di rumah, kamu dimana?
[DHEA]
Aku lagi nemenin Jo. Yank, udah dulu ya? Nggak enak sama Jo, kalo aku terus chat kamu. Besok coba ayank butuh uang berapa kabarin aku, nanti aku cariin kalo memang jumlahnya besar. Udah dulu ya...love you...Mmmcuaaah...
[OZI]
Thanks sebelumnya, oke. Besok aku kabarin, jangan lupa apus chatnya, nanti kebaca Jo.
[DHEA]
Santai aja, nama kamu juga sdh aku ganti, dan aku rajin apus chat dan telepon keluar.
[OZI]
Oke..baguslah.
Ozi merasa sedikit bisa bernafas lega, karena Dhea mau meminjamkan uang untuk biaya pengobatan Nabila.
Ketika Ozi memikirkan kedaan Nabila, Dhea lagi asik menikmati hangatnya malam di kamar hotel yang tadi siang Ozi dan Dhea singgahi. Kini giliran Dhea melayani Jonathan calon suaminya.
___________oOo___________
Cahaya mentari menusuk mata, menyelinap di antara celah dedaunan dan tiang-tiang Klinik. Ozi masih lelap tertidur.
"Mas...Mas,...Kelurga dari Mba Nabila ya?"
Ozi mendelikan mata yang silau terkena matahari, "Iya Sus, ada apa?"
"Ditunggu dokter di ruangannya."
"Oh iya Sus, nanti saya ke sana. Mandi dulu sebentar yah?"
"Oke, ditunggu."
Butuh waktu Tiga Puluh Menit, untuk Ozi mandi, sebentar ia masuk ke ruangan Nabila sekalian memastikan keadaan istrinya.
"Pagi Bil, kamu sudah sehat?"
"Alhamdulillah Kak, sudah agak mendingan."
"Kamu sarapan dulu, aku dipanggil dokter sebentar, sekalian ngurus administrasi kamu."
"Iya Kak, nggak apa, aku bisa sarapan sendiri."
Ozi pergi meninggalkan ruang rawat inap Nabila, dan langsung ke ruangan dokter.
"Mas, Mba nya sudah sehat dan boleh pulang hari ini, setelah pulih perlu berobat jalan, setiap hari Senin mohon cek up kembali ya?"
"Iya dok, terimakasih."
"Silahkan urus surat kepulangan pasien."
"Dimana dok?"
"Di depan ada ruangan administrasi, Mas bisa urus disana."
"Ok dok."
"Sama-sama..."
Mulai dag-dig-dug perasaan Ozi, kalau sudah mendengar istilah administrasi, tak lepas dari biaya pengobatan.
"Mba, saya suami dari pasien atas nama Nabila."
"Ditunggu ya Mas."
Petugas kasir mememeriksa semua berkas administrasi pasien atas nama Nabila, setelah mereka kumpulkan data, Ozi dipanggil kembali.
"Nabilaaaaa...."Teriak Admin memanggil keluarga Nabila.
"Nabila Mba."
"Ini biaya yang harus dibayar ya Mas."
Ozi terkejut saat membuka lembaran tagihan.
"Delapan Juta Enam Ratus Mba?"
"Iya Mas, ada yang salah?"
Ozi langsung menghubungi Dhea, dan mengutarakan uang yang ia ingin pinjam.
"Hallo yaaank, aku butuh uang sepuluh juta."
"Ok, kirim no rekening ayank yah?"
"Iya..."
"Gantiin kapan?"
"Beberapa bulan yah? Aku cari uangnya dulu, sambil nunggu pembayaran dari kamu."
"Oke deh, kirim nomor rekening kamu yah?"
"Iya Yank."
"Iya."
Tak lama setelah mengirimkan nomor rekening, Dhea mengirimkan bukti transfer ke whatsApp Ozi.
[DHEA]
Udah aku transfer ya?
[OZI]
Terimakasih yah?
[DHEA]
Sama-sama yank ❣
Ozi kembali ke ruang administrasi, "Mba, bisa debit?"
"Bisa Mas,..."
Ozi memberikan kartu ATM nya, beberapa detik keluar bukti pembayaran.
"Ini bukti pembayarannya dan ini surat pulang pasien."
"Terimakasih."
Setelah menyelesaikan pembayaran, Ozi menemui Nabila.
"Ini tanda pelunasan pembayaran biaya berobat kamu Bil."
Tak pantas Ozi memberikan bukti biaya berobat yang sudah ia keluarkan, dengan kondisi kesehatan Nabila yang belum stabil.
"Mahal ya Kak?"
"Mahal laaaah dan bayarnya pake uang, bukan pake daon."
Ketika melihat bukti nota pembayaran, Nabila mengelus dada tak menyangka biayanya begitu Mahal.
"Orang miskin dilarang sakit, pahamkan?"
"Iya paham Kak, semoga Allah gantikan lebih banyak ya?"
"Amin aja."
"Kok pake aja Kak?"
"Habis harus ucapin apa?"
"Cukup Amin."
"Cukup Amin." Ozi meniru ucapan Nabila.
"Hemmm....." Nabila menghela nafas panjang.
"Yaudah kamu siap-siap rapihin pakaiannya dan barang bawaan. Di luar ada termos, bantal, tiker, coba aja kamu liat di depan ya?"
"Iya kak."
Ozi langsung menghubungi Ale, dan meminta ia menjemputnya.
"Le, minta tolong jemput kita di Klinik ya? Nabila sudah boleh pulang bro."
"Ya tunggu sebentar, gw baru bangun."
Setelah mandi, Ale langsung menuju Klinik, menjemput Nabila dan Ozi.
"Lo bener-bener ya Ci, orang baru sembuh langsung lo suruh bawain barang-barang." Ucap Ale melihat Nabila sedang merapihkan bekas tidur, dan termos air milik Ale.
"Dia yang mau kok, dan bagi tugas aja kali Le, dia tau gw cari uang susah, dan memang sudah Qadratnya perempuan melayani suami kan, nanti kalo loh sudah nikah pasti ngerasain."
"Sah-sah aja dan itu hak elo, karena Nabila istri loh, tapi kan liat kondisi orangnya juga bro!Jangan orang baru sembuh elo suruh-suruh."
Ale mendekat ke Nabila dan meminta Nabila untuk menghentikan apa yang sedang ia lakukan.
"Bila, biar gw aja yang rapihin, elo sama si Ozi ke mobil duluan."
"Nggak apa Bang, memang udah tugas Nabila."
"Udaaaahlaaah lo taro aja, biar gw yang bawa ke mobil." Terpaksa Ale agak meninggikan suaranya, karena dia tidak tega melihat Nabila dengan kondisi tangannya yang masih diperban. Mendengar suara Ale yang meninggi, Nabila ikuti apa yang Ale inginkan dan dia menghentikan kegiatannya.
"Bener-bener nggak ada otaknya, istri lagi sakit disuruh-suruh." Gumam Ale dalam hati.
Tak lama Ozi, Nabila dan Ale meninggalkan klinik, terlihat mobil sport besar masuk ke dalam klinik, terlihat seorang wanita, dan dua orang pria yang sudah cukup umur.
"Mba, tolong tangani istri ane ya?" Pinta lelaki tua yang ternyata itu Abah.
"Iya Pak Haji, biar kita yang tangani."
Rupanya perempuan di atas kursi roda itu adalah Umi yang tak lain Ibu dari Ozi, yang baru hari ini masuk sebagai pasien.
Bersambung >>>>