Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Menyembunyikan Air Mata


Onci tak menceritakan apa yang terjadi dalam dirinya kepada siapa pun, termasuk Dhea. Dan ia menggap semuanya baik-baik saja, terlihat wajar. Bahkan ketika Dhea WhatsApp ia pun membalasnya. Kini ia terpuruk dalam pilihan warna yang sudah terlanjur tertoreh di kertas putih.


Luka,biar luka dan sakit biarlah sakit walau nanarnya tak nampak. Hanya dinding kamar yang kini membuatnya nyaman, ketika kepalanya dipenuhi dengan masalah, hanya di atas sajadah tempat ia bercerita, tentang rasa dan air mata.


"Illahi, sampai dimana drama kehidupan ini akan berakhir, aku hanya mencoba menjalani peran yang Engkau berikan dengan baik, dari sebuah drama kehidupan, sekalipun itu luka disetiap episodenya. Kini aku hanya bisa berserah diri, dan tawakal." Doa di atas sajadah.


Hari ini, hari dimana naskah hidup baru akan dimulai, dari perjalanan cinta Onci, dari kisah yang ia tak tahu akan berakhir seperti apa, dan bagaimana. Terlalu letih memikirkan misteri hidup, yang ia tahu hanyalah jalani saja setiap ketentuan hidup.


"Mi, ane sudah janji sama keluarga Haji Romli hari ini, nanti kita semua ke sana yah? Termasuk ente Zi." Ucap abah di meja makan.


"Iya bah." Jawabnya datar.


Hari ini terulang kembali sebuah episode baru yang temanya sama, jodoh untuk Onci. Abah, umi dan Onci, serta Ustadz Burhan pun ikut menghadiri lamaran tersebut.


"Assalamu'alikum." Suara khas Betawi-Arab keluar dari mulut Abah.


"Wa'alikum salam. Jiaah ente balik lagi Ji?Ada apa ini?!"


"Aaah, ente drama lagi aja! Kemaren kan ane sudah bicarakan maksud kedatangan ane hari ini."


"Oh ceritanye episode baru, dengan judul yang beda? Bisa aja ye penulisnye bikin cerita." Ucap Haji Romli.


"Loh kok jadi ane di bawa-bawa Ji?"


"Kan emangnya ente yang nulis ceritanye?!Ane, si Haji, Onci, Nabila termasuk bini si Haji kan ikutin cerita ente aje." Sindir Haji Romli kepada saya sebagai penulis cerita.


"Udah..udah jangan pada ribut, ane aja ikutin ceritanya, kenapa ente ribut si Ji? Paling ente kan nongol di novel ini beberapa judul doang.Ane, bini, sama si Ozi yang nongol saban hari aja nggak protes, tanya aja tuh sama punilisnya!? Ya kan Thor?"


"Iya pak Haji, biasa Haji Romli protes karena jarang nongol di novel, honornya dikit! Atau si Haji lagi emosian mobilnya nggak ada yang laku!"


"Ini mau dilanjut apa nggak? Ane mau ngajar aja deh!" Ustadz Burhan ikut-ikutan.


"Ok lanjut, maksudnya ente mau minta Nabila anak ane lagi?"


"Iya ji, kemaren anaknya juga udah ane tanya dan mau dinikahin."


"Bener Bila?"


"Iya Beh." Jawab Nabila sambil mengangguk.


"Kalo si Bila sudah setuju...Yah ane sebagai orang tua kan ngikut aje."


"Nah, rencananya kita mau nikahin Nabila sama Ozi itu, bulan mulud." Maksud Haji Syahrullah itu bulan Maulid.


"Atur aja Ji, ane mah percaya sama ente. Justru ane juga nggak enak sama ente. Sudah tokoh agama, yayasan segitu gedenya, ngapa mau ngebesan sama ane? Kan banyak rekan kiayi lain yang anaknya cakep, soleha dan sesuai dengan profesi ente."


"Lah ente merendah aja Ji, show room ente dimana-mana pake merendah."


"Ah itu mah titipan Allah aje."


"Ane juga sama Ji, titipan Allah termasuk anak, makanya ane nggak mau salah pilih istri untuk si Ozi."


Ozi dan Nabila hanya tertunduk dan menerima apa pun yang akan terjadi dari kisah cinta dan hidupnya. Dan akhirnya mereka sepakat untuk menikahi Onci dan Nabila di bulan Maulid atau Rabi'ul Awal.


"Yaudah, ane ucapkan terimakasih atas sambutan ente, dan semoga apa yang kita rencankan Allah ridhoi dan restui, serta berjalan dengan lancar sampai hari H nya. Amin Ya Mujibasyaiddin." Ucap Haji Syahrul.


"Amin Ya Rabbal'alamin." Jawab umi.


Setelah lamaran itu selesai, Onci dan Nabila hanya tertunduk. Onci pun begitu datar dengan apa yang menjadi keputusan Abah dan Haji Romli, disaat orang lain hatinya berbunga-bunga justru Onci menerimanya dengan datar dan hambar saja, karena ia harus mengorbankan perasaan yang sudah terpaut dengan gadis Tionghoa.


"Dhea, maafin aku." Ucapnya dalam hati.


_______________πŸ™‹β€β™€Dhea πŸ™‹β€β™€_____________


@Kuala Lumpur-Malaysia


Studio 45


Pria itu mendekati Dhea, dan menyodorkan air mineral,"Istirahat dahulu Dhea, jangan juga di porsir."


"Iya Kak."


"Ok, breafing dulu yuk semuanya!" Pinta Jonathan.


Mereka pun berkumpul dan menyelesaikan latihannya,"Ini hari terakhir kita latihan, dan besok harapan kami, kalian berikan penampilan yang terbaik, dan dampaknya adalah akan di perpanjang kontrak kita, dan ini adalah kesempatan berharga bagi kalian, disaat jutaan dancer inginkan berada di posisi kalian, dan mumpung masih siang kalian bisa rileks dahulu, silahkan nikmati suasana di negara lahirnya Upin dan Ipin."


Mereka pun teriak dengan yel-yelnya,"Go..Go...Go...Sukses."


Semua berpencar, hanya tertinggal Dhea dan Jonathan.


"Aku traktir kamu makan malam, mau?"


Mereka pun saling beradu pandang, dan Dhea sebagai gadis yang sudah dewasa tahu sinyal apa yang Jonathan inginkan. Dan Dhea pun meng-iya-kan ajakan si Leaders Official itu.


"Aku sih mau aja Kak, tapi nggak enak juga dengan yang lain, bukan?"


"Semuakan tergantung dari keputusan aku, dan sah-sah saja kalau ada dari peserta yang aku ajak jalan, asal profesional ketika latihan dan performance."


Dan setelah mereka menyepakati, malam ini mereka pun pergi ke sebuah cafe tak jauh dari apartemen. Tempat yang begitu romantis, dengan kelip lampu Kota seperti bintang bertaburan.


Lilin di atas meja, dan suasana romantis menghanyutkan mereka dalam hangatnya malam.


"Aku dari awal kita ketemu, merasa tertarik saja sama kamu, boleh aku jadi pacar kamu Dhea?"


Dhea pun terkejut dengan apa yang pria di hadapannya itu ucapkan, dan ia mencoba meraih jemari gadis itu. Di atas temaranya lilin, tatapan matanya begitu memancarkan seberkas cahaya harapan.


"Mau menikah dengan ku?" Ucap pria itu Semakin membuat Dhea terkejut dengan apa yang ia ucapkan.


"Yaaank,maafin aku," ucapnya dalam hati, ucapan yang sama dan hanya ruang yang berbeda dengan apa yang Onci katakan disaat Nabila menerima lamaran Onci. Hal yang sama pun Jonathan ucapkan kepada Dhea.


"Nanti setelah tour ini berakhir, aku lamar kamu."


Onci dan Dhea sama-sama menyembunyikan keadaan yang terjadi di antara mereka, entah karena ingin tak ada yang terluka dan menunggu waktu yang tepat untuk bicarakan ini semua.


Bersambung >>>>>