Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
TEGA


Ozi memilih pergi, dengan meninggalkan kenangan yang sudab terukir di rumah yang ka sudah tempati sedari kecil, banyak cerita yang tidak bisa dilupakan, bukan hal yang mudah bagi seorang anak, untuk memilih lepas dari orang tua, terlebih seorang ibu, semarah-marahnya Umi, tidak kuasa melihat putra kesayangannya pergi.


Begitu cepat rasanya, baru beberpa hari Umi merasakan kebahagiaan dengan bertambahnya penghuni baru di kediamannya, kini Umi hanya tinggal berdua dengan Abah, entah untuk berapa lama.


Ozi dan Nabila sendiri tidak pernah tau, kemana ia harus melangkahkan kaki, seumur hidupnya, hanya ketika pesantren saja ia meninggalkan kedua orang tua, itu juga sesekali waktu kembali ke rumah, atau Abah dan Umi membesuk di pondok.


Hanya modal pakaian, kendaraan yang ia gunakan ditinggalkan, karena ia tahu itu bukanlah hak miliknya.


Nabila dan Ozi berjalan mencari angkot, syukurlah hari sudah malam, tak ada warga yang melihat, sehingga tak ada yang mempertanyakan keadaan mereka. Namun, di tengah perjalanan, Ustadz Burhan melintas.


"Ustadz...Nabila pada mau kemana malam-malam begini, pake bawa koper segala?!"


"Eh Ustadz Burhan, ini mau pergi beberapa hari aja ke luar kota." Jawab Ozi.


"Oooh, tapi kenapa nggak bawa mobil aja?"


"Di...di depan ada travel yang nunggu."


"Ane anter aja yah?" Tawar Ustadz Burhan.


"Aaah nggak usah repot-repot, dikit lahi sampe kok."


"Yaudah kalo gitu,saya pamit duluan yah? Assslamu'alaikum."


"Wa'alikum salam."


Ozi dan Nabila melanjutkan perjalanan, lagi-lagi handphone Ozi berbunyi, lagi-lagi Dhea yang menghubunginya, kali ini ia tidak angkat..


"Kenapa nggak diangkat kak?"


"Ah paling sales kartu kridit."


"Kaaak...kaak, kamu kira aku orang awam jelas-jelas ada nama Dhea." Gumam Nabila dalam hati.


Nabila mencoba mengalihkan pikirannya dengan yang lebih bermanfaat. Yaah, sekalipun Nabila memiliki perasaan yang sama dengan wanita lain.


Malam semakin larut, rasanya tidak mungkin bagi Nabila dan Ozi untuk mencari kontrakan atau kos-kosan.


"Bil,mau nggak mau kita cari musolah terdekat dulu, sampai besok pagi, baru kita cari kontrakan."


"Aku ikut aja Kak..."


Nabila tergopoh membawa barang bawaan yang cukup berat, namun Ozi cuek seolah tak peduli melihat Nabila kecapean dan merasa letih berjalan dengan membawa koper pakaian.


Beberapa puluh meter mereka berjalan, akhirnya menemukan musolah. Tetapi, pagarnya terkunci.


"Huft, sekalinya dapet musolah, malah dikunci."


"Yaudah Kak cari yang lain lagi..."


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, mirip dalam sinetron, selagi mencari musolah hujan turun, Ozi lebih dahulu mencari tempat berteduh, bukannya ia membantu Nabila membawakan koper, ia justru membiarkan Nabila berjalan sendiri dalam kondisi hujan lebat.


Hampir satu jam mereka berteduh, tak juga hujan redah. Nabila tertidur dalam kondisi kedinginan, meringkuk dan menggigil. Saat Nabila tertidur pulas, Ozi justru mengangkat telepon dari Dhea, dan meninggalkan Nabila seorang diri.


"Hi, lagi dimana kamu?"


"Di rumah, ada apa yank?"


"Ah nggak, kangen aja..."


"Laah, memangnya Jonathan kemana?"


"Ada di rumahnya, aku di rumah mamah."


"Oh..."


"Kamu nggak kangen apa?"


"Kangen siih, tapi yang dikangeninnya kan udah milik orang."


"Tuuh kan kamu begitu, jangan ungkit-ungkit deh, kalo kita lagi berdua, nggak usah bahas-bahas Jonathan."


"Idiih gitu aja ngambek, iya...iya...nggak aku bahas Jo.."


Ozi masih saja asik berbicara dengan Dhea di Telepon, tanp memperdulikan tubuh ringkih Nabila yang menahan kedinginan.


Setelah asik melepas rindu dengan Dhea, Ozi baru kepikiran Ale.Ia langsung menghubungi Ale dan memintanya untuk menjemput.


"Leeee....gw minta tolong boleh?"


"Tolong apa bro?"


"Jemput gw sama Nabila di pinggir jalan, deket kantor kecamatan bisa?"


"Gilaaa, tengah malem, malah ujan, ngapain lo berdua disono?"


"Iyaa gw kesana sekarang, tunggu ya...keluarin mobil dulu."


Untungnya ada Ale yang masih mau menolong di saat Ozi dalam kesusahan. Mobil Jeep mendekat ke mereka, dan berhenti tepat di hadapan Ozi.


"Yaaaaampun, ada apa sama elo berdua? Ujan-ujan begini, kasian Nabila...bawa masuk ke mobil cepet, gw bawa barang-barang elo..."


"Ada apa sebenernya bro?" Tanya Ale di dalam mobil.


"Gw sama Nabila cabut dari rumah,..."


"Laah kok tega Abah dan Umi ngusir elo berdua, emangnya ada apa?"


"Lo kan tau, dari dulu nyokap-bokap gw nggak suka gw kerja di entertaiment, mereka anggap nggak ada guna. Heem, daripada ribut mulu, lebih baik gw cabut dari rumah..."


"Kenapa lo nggak telepon gw? Biar nggak kaya gini jadinya."


"Baru keinget aja Le, mana gw kepikiran namanya orang panik."


"Untuk sementara loh sama Nabila tinggal aja di rumah gw...ada satu kamar kosong..."


"Tengkiu ya bro...."


"Yaelaaah kaya sama siapa aja...."


Nabila dan Ozi sementara tinggal di rumah Ale. Dibandingkan Ozi, Ale belum memiliki beban, karena ia masih single, sudah memiliki rumah, walau masih type sederhana, setidaknya ia sudah bisa berdikari sendiri, tidak seperti....


"Lo berdua pasti belum pada makan kan? Biar gw cari makan malem dulu, kasian si Nabila mukanya pucet gitu."


"Wah, gw jadi ngerepotin elo Le..."


"Santai aja lagi, semua ada waktunya...nggak selamanya kita di atas, semua berganti. Kalian istrihat dulu, anggap aja rumah gw..."


"Masih aja bercanda...."


"Yaiya masa rumah lo, udah yah, gw cabut dulu cari makanan."


Nabila dan Ozi masuk ke salah satu kamar yang sudah disiapkan Ale, mereka merapihkan barang bawaan, dan bersih-bersih.


"Kamu istirahat dulu, nanti aku bangunin kalo Ale sudah balik beli makanan."


"Iya Kak..." Sambil tertunduk, Nabila menarik selimut dan merebahkan tubuhnya sejenak.


Saat Nabila tertidur, Ozi kembali menghubungi Dhea, dan melanjutkan pembicaraan yang terputus.


"Lagi apa kamu yank?" Ozi memulai pembicaraan.


"Lagi mau tidur, kamu belum tidur?"


"Nanti lagi, belum ngantuk..."


"Besok ketemuan yuk?"


"Baru tadi ketemu, mau ngajak ketemuan lagi..."


"Namanya orang masih kangen...nggak boleh?"


"Boleh aja siih, tapi emangnya aman?"


"Aman nggak aman, asal nggak ketemu Jo aja."


Pembicaraan mereka terhenti, saat suara mobil Ale sudah masuk ke car port.


"Yaaank...udah dulu ya...met mlm..."


"Oh yaudah...aku tidur dulu ya...nite..."


"Nite..." Tutup Ozi.


Bergegas Ozi menuju ruang tamu, dan menyambut Ale.


"Ci, makan nih...Nabila mana?"


"Masih tidur, kayanya dia sakit..."


"Bawa ke dokter kalo sakit cuy? Gw anter ayoo...."


"Nanti aja, biar gw beli obat di apotik dulu aja..."


"Bangunin dulu, suruh makan, bisa jadi masuk angin..."


Bukan inisiatif sendiri, malah Ale yang terlihat khawatir dengan keadaan Nabila.


Bersambung >>>