Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Bidadari Jatuh Di Hati


Setelah rencana berjalan dengan baik, semoga saja rencana kedua Onci ini pun sesuai dengan apa yang diharapkan. Khawatir abah banyak pertanyaan. Mereka pun harus merencanakan dengan baik dan menyiapkan rencana lain, jika kemungkinan buruk itu terjadi.


Satu hari ini, khusus untuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari mencari pakaian muslimah, sampai pembekalan materi jika saja abah memberikan banyak pertanyaan yang Dhea tidak bisa menjawab.


" Hii yaank,jadi kita cari baju muslimah?" Sapa Thea yang baru saja keluar kampus.


"Iya jadi yank."


"Yaudah yuk biar cepet kita cari."


"Yaudah ayo!"


Mereka pun meluncur mencari mall terdekat untuk mencari beberapa pasang pakain muslimah. Karena tidak mungkin menghadap abah hanya mengenakan pakaian ketat dan serba terlihat bentuk tubuh, bisa berabeh urusanya.


Setelah mereka mendapatkan beberapa pasang pakaian, Onci kembali mempersiapkan pembekalan materi yang harus Dhea pelajari. Dan mencari hal apa saja yang membuat abah suka. Mulai dari ucapan sampai makanan kesukaannya.


"Kamu coba belajar hurup hijaiyah yaah?"


"Huruf apa itu?"


"Dasar bahasa arab, sama seperti Kanji kalo istilahnya."


"Oh aku sudah pelajari saat kamu mulai bicarakan ini, walau masih terbata-bata. Aku sampai beli buku ini." Dhea menunjukan buku Iqra' yang ia beli.


"Yaaa ampun, terus kamu tahu hurufnya dari mana?"


"Jaman sekarang sudah canggih, aku tontonin youtube aja yaank. Yah minimal tahu aja kan? Nggak harus paham banget kitab suci kamu?! Dan ingaaaat....."


"Bagiku agamaku dan bagimu agamamu." Jawab Onci setiap kali ia begitu mendalam membahas tentang Islam.


"Jangan lupa juga lusa kamu harus ngajar sekolah minggu yaaah?"


"Iya aku inget." Padahal Onci tahu, kalau hari Minggu itu ia harus ikut pengajian rutin. Tapi ia sudah menemukan solusinya.


"Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana yaank." Tukas Onci menghibur hatinya yang ragu.


"Tenang aja sih yaank, jangan panik. Aku saja yang nanti ketemu abah kamu saja tenang kok! Kalo kita cemas nanti semua rencana kita berantakan. Dan intinya, aku harus ambil hati abah dan umi kamu kan?" Dhea berusaha menenangkan hati Onci.


"Jam berapa kita ketemu abah kamu besok?"


"Ba'da solat ashr." Jawabnya.


" Apa itu bada solat ashar?" tanya gadis itu dengan lidah yang kaku.


"Oh iya maaf, kamu nggak tau yah? Jam empat sore aja."


"Oh bada asar itu jam empat!"


"Iya."


"Ok, pasti besok akan berjalan aman dan lancar." Dhea menyemangati Onci.


"Amin."


Setelah mencari apa yang menjadi kebutuhan esok, Onci pun mengantarkan Dhea kembali ke rumah dan tinggal menanti esok hari dengan sejuta harapan.


________________¤¤¤_______________


Suara adzan Zuhur berkumandang, semua staf pengajar dan administrasi yayasan wajib untuk mengikuti solat berjama'ah. Onci pun berjalan beringan dengan Nabila menuju masjid.


"Bil, Thanks yaah? Kemarin ucapan kamu luar biasa. Sampai abah tidak bisa berkata-kata dan menerima keputusan kamu."


"Oh sama-sama Kak, lagi juga kan memang Bila belum siap untuk menikah cepat-cepat. Kalo Kak Onci sih memang sudah pantes, umurnya sudah kepala empat ya? Hahahaha.."


"Aku masih muda laah, baru dua puluh lima."


"Terus Abah nggak marah Kak?"


"Marah sih enggak, tapi kecewa aja."


"Aduh Bila jadi nggak enak laah."


"Jangan khawatir, kalo Abah itu cepat lupa dan mudah memaafkan. Kalo babeh Bila sendiri bagaimana?"


"Babeh Nabila mah baik dan dia bagaimana aku aja sih Kak! Tapi Babeh jadi nggak enak sama abah."


"Nggak enaknya?"


"Kan mereka temen dari kecil, makanya Kakak cepet-cepet nikah. Biar abah sama Babeh akur lagi dan kembali seperti semula."


"Laaah kan memang nggak marahan, mereka sudah tua. Nggak seperti kita Bil, kesinggung dikit nggak mau ngomong empat tahun...haha."


"Memangnya Kak Ozi sudah punya calon yah?" tanya Nabila.


"Heeeem, sudah sih Bil. Tapi Abah dan Umi belum aku kenalkan."


Nabila pun termenung, seakan ada yang mengganjal di hatinya. Dan merasa ada yang aneh dengan perasaanya.


"Kok aku kesel yaah dengernya?" tanya Nabila dalam hati.


Tengah asik diskusi, suara iqomah terdengar dan Nabila masih duduk termenung.


"Heeey Nabila, sudah komat tuh! Malaaah bengong." Suara Onci mengejutkannya.


"Astaghfirullah!" ucap Nabila.


Mereka pun bergegas masuk ke dalam masjid dan menunaikan solat berjamah bersama. Di baris pertama, terlihat abah sedang mengimami solat Zuhur. Setelah selesai menunaikan Solat, Onci mencari kesempatan untuk berbicara dengan Abah.


"Bah, Ozi mau ngobrol sebentar." Sambil mencium tangan abah.


"Ada apa lagi nih? Ane was-was kalo ente udah ngomong kaya gini."


"Aaah bukan obrolan serius kok bah. Nanti habis Ashar, Ozi minta waktunya yah? Di rumah aja." Pintanya.


"Yaudah nanti aja di rumah yaah?!"


Walau pun mereka memiliki hubungan antara seorang ayah dan anak, tetapi memang seperti itu karakter abah, begitu serius dan tidak jarang sekali tertawa.


Abah pun menyempatkan waktunya, entah apa yang ingin Onci sampaikan. Yang jelas, Onci harus menjemput Dhea lebih awal, karena gadis itu harus terlihat sempurna di mata abah dan umi, maka dari itu perlu ke salon dahulu.


Kurang lebih hampir satu jam, Onci menunggu Dhea di salon, setelah selesai make cover Onci dibuat terperangah dengan penampilan Dhea.


"Masyallaaaaah, bidadari syurga banget." Ucap Onci dalam hati yang terpesona dengan penampilan Dhea.


"Hiiiiiy yaaaank! Malaah bengong. Aku cantik yah? Sudah mirip Zaskia Adya Mecca belum?"


"Subhanallah cantik banget!" mata Onci mendarat di wajah Dhea dan tidak menyangka wanita yang baru saja berpakaian seksi, kini seperti Musilmah sungguhan.


"Udaaah aaah, jangan kebanyakan diliat nanti make up aku luntur. Yaudah, nanti terlambat ketemu abah kamu." Ucap Dhea.


"A...a..ayo yank!" Onci masih terpanah melihat kecantikan Dhea.


"Kalo Mamah sampe tau, abis aku yaank! Dikira anaknya pindah agama."


Dua puluh menit perjalanan, membuat Onci masih bungkam dan tak menyangka dengan penampilan Dhea.


"Ya Allah, andai saja Dhea benar-benar menjadi muslimah, betapa beruntungnya aku." Ucapnya membatin.


Tak terasa mereka pun sudah sampai di depan rumah, terlihat mobil abah sudah terparkir di garasi. Dengan penuh rasa cemas, mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Assalamualikum." Dhea mengucapkan salam dengan fasih.


"Wa'alikum salam, masuk." Teriak umi dari dalam, dan mereka pun rupanya sudah menunggu kedatangan Onci dan Dhea.


"Abah...umi, kenalin ini Dhea." Onci mulai memperkenalkan gadis itu.


"Masyallah, silahkan duduk neng." Umi pun dibuat terpesona dengan penampilan Dhea yang begitu cantik, dengan hijab tertutup rapat dan gamis panjang berwarna putih.


"Kirain abah si Ozi bawa orang Turki ke sini." Abah pun mulai menghangatkan suasana dengan candanya.


"Iya Abah, Ozi ngajak aku ke sini untuk dikenlakan dengan abah dan umi." Begitu lembut suara Dhea, dan Dhea pun baru tahu nama asli Onci adalah Ozi.


"Bisaaa banget si Ozi milih calon istrinya, macem orang Arab Turki." Canda abah.


Rupanya pembicaraan mereka begitu asik dan hangatnya, abah dan umi tidak menyingung-nyinggung huruf Hijaiyah serta pertanyaan yang akan memberatkan Dhea.


"Ngomong-ngomong kapan giliran abah dan umi ketemu orang tua Neng Dhea?"


Dhea dan Onci pun kaget bukan kepalang, mendengar ucapan abah yang diluar dugaan.Mereka pun kikuk menjawabnya,"Ayah dan Mamah Dhea ada di Malaysia Bah. Nanti kalo mereka ke Indo nanti secepatnya aku ajak abah dan umi ke rumah."


Akhirnya terpaksa Dhea berbohong karena dicecar pertanyaan demikian. Selagi asiknya berbincang-bincang, mereka dikejutkan suara wanita yang mengucap salam.


"Assalamu'alikum Umi."


"Walaikum salam," umi pun menghampiri tamu yang datang.


Onci merasa tidak asing dengan suara itu, terdengar mirip suara Nabila.


"Eeeh Nabila, sini masuk."


Dan Nabila pun masuk ke dalam rumah, ia pun terkejut melihat ada wanita di dalamnya.


"Eh Neng, sekalian aja duduk sini." Abah mempersilahkan Nabila masuk ke ruang keluarga.


"Nabila kenalin calonnya si Ozi." Dasar abah tidak disaring lagi ucapannya, tanpa basa-basi memperkenalkan Dhea ke Nabila.


"Nabila." Ia menyebutkan nama


"Hey Nabila, salam kenal yah." Ucap Dhea.


"Namanya Dhea Bila." Selip Onci.


"Iya Pak Haji, umi. Nabila cuma mau kasih berkas laporan aja. Maaf nggak bisa lama juga, ditunggu Babeh di rumah."


Bersambung >>>


Bagaimana perasaan Nabila setelah melihat langsung sosok gadis yang ternyata dia lah yang selama ini, Onci maksud.