
Dhea pun menemui Onci yang sudah menunggu di depan rumah.
"Hi, sorry nunggu yah? Ada keluarga Jo datang, jadinya aku sambut mereka dahulu."
"Iya nggak apa kok, sudah siap semuanya dong?"
"Tadi hanya silaturahmi keluarga saja, urusan persiapannya kan, kamu sama Ale yang atur."
"Sudah dapat gedungnya?"
"Kalau masalah itu belum ada pembahasan,lebih baik semuanya kamu yang kerjakan aja."
"Nanti biar Ale yang coba tanya ke Jonathan, aku hanya ikuti maunya kalian."
"Kamu sudah makan? Kita keluar aja yuk?!"
"Yaudah, kita keluar aja."
Mereka pun mencari tempat yang aman untuk diskusi, karena Dhea tahu kalau Ny.Lee sudah tidak setuju melihat hubungan Dhea dan Onci.
____________๐งโโ Nabila ๐งโโ_________
Disaat yang lain begitu sibuk mengurus pernikahannya, tidak bagi Nabila yang menganggap bahwa pernikahannya itu hanya keterpaksaan saja, tanpa memikirkan akan seperti ini jadinya.
"Beh, rencananya mau ngundang berapa orang?" tanya Nabila.
"Lima ratus orang aja yah?Nggak banyak juga keluarga kita, paling temen-temen Babeh aja yang diundang. Emangnya mau dimana hajatnya?"
"Keluarga Kak Ozi meminta perayaan di aula serba guna di pesantren dan akad di masjidnya."
"Iya, karena si Haji banyak jama'ah dan kenalannya juga."
"Besok Bila sampaikan ke Kak Ozi untuk undangan yang Babeh pinta yah?"
"Babeh maah asal Nabila bahagia, Babeh ikut bahagia. Walau berat untuk melepas anak gadis satu-satunya. Babeh besarin dari kecil, Babeh sayang-sayang.Eeeh udah gede diambil orang."
"Iya Beh,sudah sunatullah dan sunah nabi juga kan, Nabila harus ikut suami Bila nanti."
"Pasti rumah ini sepi, nggak ada lagi yang nyiapin makan untuk Babeh. Setelah emak Nabila meninggal, tinggal Bila doang yang Babeh punya."
"Jangan gitu Beh, Nabila jadi sedih. Lagi juga kan, sewaktu-waktu Nabila bisa nginep disini, kaya pisahnya jauh aja."
"Yaaah Bila, namanya anak udah jadi milik orang beda aja rasanya. Babeh minta maaf kalau selama ngegedein Nabila banyak salah. Mulut asal ngomong, sikap asal bertindak aja, kadang bikin Nabila sakit ati sama babeh, mohon dimaafin yaah?"
"Iya lah Beh, Nabila juga selama jadi anak banyak nyinggung perasaan, banyak nyusahin dan kurang jadi anak yang baik untuk Babeh."
"Babeh hanya berharap semoga Ustadz Ozi jodoh terbaik untuk Nabila."
"Semoga Beh." Ucap Nabila sambil menghela nafas panjang, seakan ada hal yang ia tidak ceritakan ke orang tuanya.
_____๐โโ๐โโ Dhea dan Onci ๐โโ๐โโ____
Disaat Onci dan Dhea asik diskusi ngalor-ngidul, mereka dikejutkan melihat Jonathan masuk ke cafe yang sama, tetapi anehnya ia bersama dengan seorang gadis yang Dhea juga tidak mengenalnya.
"Yaaank, kamu nunduk!" pinta Dhea.
"Kenapa?"
"Ada Jonathan sama seorang cewek yang aku tidak kenal."
"Dimana?"
"Arah jam dua."
Onci pun melihat dan memastikan kalau apa yang dilihat Dhea itu benar Jonathan.
"Tapi siapa gadis itu?"
"Mana aku tahu, baiklah kalau memang maunya seperti itu."
Thea pun menghubunginya," Kamu dimana yaaank?" tanya Dhea via telepon.
"Di rumah, memangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa, aku kira belum sampai rumah."
"Sudahlah, ayaank lagi apa?"
"Aku?Lagi tidur-tiduran aja."
"Yaudah, aku ngobrol dulu sama mami yaah?"
"Ok."
Jonathan tidak tahu, kalau Dhea menghubunginya dan melihat semua kebohongannya.
"Belom jadi suami sudah banyak bohongnya, apa lagi sudah menikah!" ucapnya dengan kesal.
"Kalau pun patner kan nggak harus bohong gitu! Liat aja nanti...."
"Yeeeh,jangan berprasangka buruk dulu."
"Keseel aku!"
"Sabar, kan masih ada aku."
"Heem, nggak lucu ah."
"Yakiin? Nggak lucu?"
"Apaa sih kamu!"
Mereka pun saling sindir, seolah Onci siap jadi yang kedua, atau lelaki cadangan. Dhea pun mengabadikan video dan foto sebagai barang bukti.
"Liaaat aja nanti!"
___________________ยคยคยค________________
Onci pun sudah di rumah, dan seperti anak pada umumnya, ia mengikuti aturan kedua orang tuanya. Ale pun menghubunginya, memastikan kalau malam ini mereka bisa bertemu dan membahas persiapan pernikahan Onci serta Jonathan.
"Dimana loh bos?"
"Dirumah."
"Gw otw yaah ke rumah loh," ucap Ale.
"Jangan lama yah? Takut kemaleman."
"Ini juga masih di jalan dan siap meluncur ke rumah ente pak ustadz."
Hanya dua puluh lima menit, akhirnya Ale sampai di depan rumah Onci. Ia pun sudah menunggu di teras rumah.
"Di luar aja yuk? Suntuk kalau di rumah."
"Belum juga turun udah maen ke luar aja."
Mereka pun mencari tempat yang nyaman untuk diskusi. Dan memilih warung kopi tak jauh dari madrasah.
"Emangnya ada apa sih bos?"
"Nggak ada apa-apa, enak aja ngobrol di luar."
"Besok kita foto-foto dan minggu depan barang-barang gw udah loading di tempat lu."
"Atur aja."
"Ci, nih gw dah buat estimasi penawaran pernikahan Dhea dan Jonathan, gw ajuin ke Jo dan dia setuju harga segitu. Gw udah dikasih uang muka."
"Mulai shootingnya kapan?"
"Minggu besok, sehabis nikahan ente."
"Ok."
"Elo belom cerita kenapa semua jadi begini?"
"Panjang kalau gw jelasin."
"Intinya Abah kaget dan tahu kalau Dhea itu berbeda keimanan, dan Dhea jatuhkan gelangnya saat dia ketemu Abah."
"Loh? Kan cuma gelang doang, masa Babeh loh sampe segitunya?!"
"Gelangnya ada salipnya boooos..."
"Waduh! Terus? Kok bisa jadinya sama Nabila?"
"Sebelumnya gw dikasih pilihan sama Abah, mau nikah dan urus pesantren atau di suruh sekolah lagi di Timur Tengah. Daripada gw harus jauh-jauh kesana, lebih baik gw pilih urus pesantren, di tengah jalan gw disuruh nikah dan dijodohin sama Nabila, dia itu anak dari kawan kecilnya abah. Nah, loh sendiri kok bisa kenal Jonathan?"
"Selepas gw dari elu, gw cari kerjaan kesana-kesini, diajaklah sama kawan gw tuk bantu-bantu EO Jonathan. Dari situ gw akrab sama si Jo, dan nggak nyangka aja dia nikahnya sama Dhea." Jelas Ale.
"Sudah garisan takdir bro."
"Dan akhirnya elo balik ke gw. Masih inget kan apa yang gw omongin ke elo terakhir kita ketemu? Pundak dan telinga gw siap jadi tempat elo bersandar dan mendengar kesedihan elo. Asli gw kaget, waktu ketemu Dhea di rumah Jonathan dan nggak nyangka kalau calon istrinya si Jo itu Dhea. Jalan takdir memang lucu dan nggak benar-benar aneh."
"Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita menata hidup yang baru. Ngomong-ngomong, konsep prewedding gw sama Dhea sama yah?Haha."
"Naaaaah, itu juga yang gw mau tanya juga ke elo. Kok bisa sama??"
"Ada rahasia dibalik rahasia...hahaha..."
Bersambung >>>