
Lelaki tua itu larut dalam tidur, ia berharap hanya dengan tidur, Abah bisa bertemu dengan istri yang lebih dahulu menemui Dia yang Maha Cinta.
Kerinduan Abah hanya terbias dan terobati hanya dalam mimpi, ia berharap bisa bertemu Aisyah, istri yang lebih dahulu meninggalkannya, "Seh, jika di dunia kita nggak ketemu lagi, mungkin di alam mimpi Allah pertemukan kita kembali." Ucapan ini yang sering ia gumamkan menjelang tidur.
Ozi masih menunggu di luar, ia terus memanggil Abah,
"Assalamu'alikum...Baaaah...Abaaah..."
Namun tak ada balasan salam dari dalam rumah.
Ia berusaha memanggil dan memastika kembali, kalau Abah ada di dalam rumah.
"Abaaaaah, baaaaah....Assalamu'alaikuuum." Semakin kencang ia memanggil dan mengucapkan salam.
Lagi-lagi, cukup jauh kamar dengan posisi Ozzi memanggil Abah. Tapi untuk ketiga kalinya ia memanggil Abah, "Ini yang terakhir, semoga Abah denger." Ucap Ozi dalam hati.
"Baaaaaaaah....Baaaaaah, Assalamualaikuuuuuum....Abaaaaah...!" Ia berusa teriak sekuat-kuatnya, suara Ozi berusaha menembus ruang, namun apa daya, lelaki sepuh itu sudah nyenyak dalam peratapannya.
Pandangan Ozi tertuju kepada gerbang rumah, yang tertutup rapat dan terkunci dengan gembok. "Panteees nggak denger, orang rumahnya aja di kunci." Ucap Ozi memastikan pintu gerbang terkunci, sambil menghela nafas panjang, ia pergi meninggalkan pelataran rumah.
Tidur Abah terusik dengan batuk keringnya, ia tebangun selepas beberapa langkah Ozi meninggalka gerbang. Abah meraba tepian tempat tidurnya, lalu meja serta dinding kamar, hanya untuk sampai ke dispenser yang berada di dapur. Dengan langkah yang payuh, dan menahan sesak di dadanya, sesekali batuk itu muncul, mengganggu tenggorokan.
Abah berusaha menahan batuk, agar tidak pecah batuknya, kalau sudah pecah, akan terasa sakit di ruas dada.
"Ya Allah, engkau yang Maha menyembuhkan, jika sakit ku ini sebagai penawar dosa, aku ikhlas, jika sakit ini sebagai teguran atas keangkuhan hamba, mohon maafkan..." Dalam hati Abah berucap dan menyadari atas segala ke khilafannya.
Abah merusaha meraih tongkat yang tersandar di ruang tamu, baru saja beberapa langkah, ia istirahat sejenak sambil memegang apa pun yang ada di sekelilingnya yang bisa ia raih, agar bisa menopang tubuhnya. Barulah ia sampai ke ruang tamu, tempat ia menaruh tongkat.
Ia tarik nafas dalam-dalam, mengatur nafasnya kembali, rasanya ia sudah berat melangkah.
"Ya Illahi, kematian bukan menjadi alasan atas keputusasa-an hamba, namun jika ku harus mati, izinkan aku bertemu dengan Mu dan perempuan yang kamu amanahkan untuk ku. Ya Allah, maafkan atas kelalaian hamba dalam mendidik anak hamba, Fahrurozzi." Matanya berkaca-kaca, dan tatapannya kosong.
"Ya Allah, maafkan segala salah hamba mu ini," Sambil meneteskan air mata ia menengadah ke langit.
______________ oOo_____________
Arul dan Nabila begitu bahagia, selepas menunaikan Walimah, langit-langit jingga memenuhi kamar pengantin, bunga rose merah dan putih memenuhi ruas tempat tidur.
Kelambu putih masih menempel di dinding kamar, serta beberapa bunga menghias indah kamar pengantin. Tak jauh dari tempat tidur, tumpukan kado tersusun tinggi, dan berserakan.
"Bee, apa kamu nggak kecapean kalo besok launching rumah sakit?" Tanya Arul.
"Kan memang sudah jauh-jauh hari disiapkan, masa diundur, justru kamu tuh yang resepsi tanpa persiapan, maen nikahin anak orang aja." Balas Nabila sambil tersenyum.
"Kalooo nggak buru-buru aku nikahin kamu, takut ditikung orang." Canda lelaki yang kini resmi menjadi pendamping hidupnya.
"Besok aku ke rumah Abah pagi-pagi, sebelum acara, setidaknya beliau kan komisaris di rumah sakit, walau Abah sudah serahkan semua ke aku, tapi etika bisnis tetap aku harus jaga."
"Aku percaya kamu amanah dalam mengatur itu semua, silahkan bee, kalo itu memang baik untuk semua."
"Sekalian aku mau ngejenguk Abah, beberapa hari ini aku denger dari Ustadz Burhan, kondisi kesehatannya agak terganggung."
"Oke, aku izin ya..."
"Iya Bee..."
"Nggak lama aku di rumah Abah, terus jam sepuluh pagi mesti di Rumah Sakit, kamu juga kan? Yaudah, kalo gitu, kita tengok Abah dulu, habis itu kita langsung ke rumah sakit."
"Aku ikut aja, kamu istirahat dulu besok pasti capek," Senyum Arul menyejukan hati Nabila.
"Baiklah, aku bersih-bersih make up dulu yah?"
Nabila beranjak dari tempat tidur, dan pergi ke kamar mandi.
________________oOo_____________
Ozi menghabiskan waktunya di masjid, ia sudah tidak lagi memiliki jabatan apa pun di yayasan milik Abah, sesal kemudian tiada guna, hanya kebijakan Nabila lah yang nantinya yang bisa memutuskan nasib mantan suaminya tersebut, apakah masih bisa diberdayakan di yayasan atau di rumah sakit, tapi tentunya semua itu harus Nabila diskusikan dengan suami yang juga investor rumah sakit dan penenetu kebijakan, Arul juga merangkap direktur utama di dalam sturktur management rumah sakit.
"Stadz, sudah makan? Makan dulu yuk?!" Suara Burhan mengusik lamunan Fahrurozzi alias Ozi.
"Ente aja duluan stadz, ane masih kenyang."
"Nggak usah sungkan, kita makan bareng aja, makan dimana emangnya? Orang ane liat ente seharian di masjid, jangan banyak pikiran, yang lalu biar jadi hikmah dalam hidup, pelajaran yang jangan terulang lagi di kehidupan kita esok hari."
"Syukron stadz, semoga menjadi wasilah bagi saya, ane nyesel, ane taubat dengan apa yang sudah terjadi dalam hidup."
"Jika penjara menjadi madrasah atau sekolah bagi ente, maka lembaran hitam itu tak akan terulang lagi dalam hidup ente. Dan mulailah membuka lembaran baru dalam hidup."
"Insyallah Stadz,"
"Untuk sementara ente bisa megang managament masjid dulu, sampai nanti ada keputusan direksi, ane berharap ente bisa kembali atau terlibat dalam kepengurusan yayasan."
"Ya Stadz, ente sudah mau terima ane aja sudah syukur, yang ane pikirkan sekarang bagaimana Abah bisa nerima ane kembali. Dan mau memaafkan ane stadz."
"Taaadz, sebuas-buasnya Harimau, dia nggak akan makan anaknya, sekeras-keras nya Abah Yayi, pasti ada ruang hati yang mau memaafkan ente, tenang dan jangan terburu-buru, mungkin Abah masih trauma, dan kesehatanya sekarang juga kurang baik, banyak masalah yang ia hadapi, sudah Umi meninggal dunia, ditambah kejadian ente, sampai akhirnya Abah banyak menyendiri, dan jarang mau bertemu dengan orang banyak, jadwal ceramahnya dan kajian pun sudah dibatasi, bahkan sekarang nyaris ia stop semua."
"Aneeee bener-bener menyesal Stadz, ane taubat sebenar-benarnya taubat. Sudah cukup ane mencoreng wajah Abah, semua salah ane sampai Umi meninggal dunia, ane nggak pantes jadi anak Abah dan Umi." Air mata Ozi membasahi pipi.
"Zi, sekalipun dosa kita melebihi tujuh lapis langit, kalau Allah mau maafkan, tak ada satu pun makhluk yang bisa menghalanginya. Begitu juga, jangan mengira ibadah kita melebihi ibadah malaikat, kalo Allah tidak terima mau apa? Nah, sekarang ente tenangkan diri, perbanyak ibadah, dan pelan-pelan kita perbaiki hubungan dengan manusia."
"Jadzakumullah Stadz, cuma ente yang masih mau nerima ane." Ozi memeluk Ustadz Burhan begitu eratnya.
"Semua masih mau menerima ente, hanya butuh waktu dan pembuktian aja. Sekarang kita makan dulu, jangan sampe ente jatuh sakit juga."
Ozi dan Ustadz Burhan pergi meninggalkan Masjid, mencari tempat makan.
_________ Bersambung _______
Terimakasih untuk para pembaca yang masih setia menunggu akhir dari kisah Ozi, Nabila, Abah dan Ustadz Burhan, mohon maaf jika author baru update kembali karena kesibukan ikhtiar penulis.
Jangan lupa follow i.g @emhaalbana untuk tahu banyak dan karya-karya kami.