
Sudah memasuki hari ke Tiga, Nabila di rawat di Klinik. Hasil diagnosa dokter, Nabila mengalami pembengkakan di lambung, namun berangsur sudah membaik, hari ini direncanakan akan ada *visit dokter *untuk memastikan keadaan Nabila, apakah ada perkembangan yang baik, atau masih perlu dirawat. Ale kembali menemui Ozi dan membawakan sarapan pagi.
"Ciii...bangun, udah siang bro. Gila, dikira hotel apa? Jam segini belum bangun juga...Wooi, bangun!" Ale membangunkan Ozi yang masih nyenyak tidur.
"Setengah jam lagi, semalem gw begadangin Nabila." Jawabnya, bukan begadangin Nabila tetapi asik telepon-an dengan Dhea sampai larut malam.
"Nabila udah lo cek belom? Udah dimandiin?
"Udaah, paling sama perawat." Jawabnya masih *ngelindur. *
"Perawaaaat lagi yang elu andelin...kenapa lo yang punya istri, gw yang ribet."
Percuma, sampai mulut berbusa, Ozi paling kuat tidurnya. Merasa jerah, akhirnya Ale masa bodo dengan sikapnya Ozi. Ia memilih duduk menjauh dan mencari tempat yang nyaman.
"Mas, suaminya Mba Nabila?" Tanya perawat yang tiba-tiba menghampiri Ale.
Belum sempat jawab, perawat itu meminta Ale untuk sesekali kontrol ruangan dan perhatikan pasien.
"Kalo Mas suami-nya, tolong diperhatikan istrinya, kasian ke kamar mandi sendiri, kalo kami nggak bantu, bisa berdampak fatal ke pasien, nanti pihak rumah sakit yang disalahin. Terus, kami minta tolong kalo infus habis, bisa hubungi kami, jangan sampai liat kosong dan tidak ada yang datang ke kami, untungnya perawat yang lain ganti-gantian kontrol, kalo nggak? Emang Mas mau istrinya di rawat terus?! Udah coba tengokin istri Mas sekarang, kasian belum sarapan, apa mesti kami lagi yang nyuapin? Bagaimana siiih Mas, jadi suami nggak bertanggung jawab sama istrinya!!"
"Waaah nih perawat salah alamat, marah-marahnya ke gw, emang gw siapanya Nabila? Maen nunjuk-nunjuk dan nuduh gw suaminya Nabila. Yang punya barang aja cuek, masa mesti gw juga yang jagain Nabila." Gumam Ale yang kesal, pagi-pagi sudah dimarahin perawat.
"Apeeees pagi-pagi serapan ocehan..." Ucap Ale.
Demi persahabatan, ia mendatangi Nabila dan sambil mencari tahu perkembangan kesehatannya. Pelan-pelan ia memperhatikan Nabila, dan melihat keadaanya. Nabila terbangun, dan terkejut kalau di sampingnya bukan Ozi, tetapi Ale.
"Bang Ale....Kak Ozi-nya mana?"
"Ozi lagi beli sarapan dulu Bil, kalo gw sih cuma mau mastiin aja keadaan elo, eeh bangun....sorry ganggu tidurnya."
"Ah nggak apa Bang, lagi juga Bila sudah agak baikan."
"Sarapannya di makan Bil, biar cepet sembuh..."
"Iya nanti aja, masih agak sedikit lemes.
"Yaudah gw nunggu di luar ya? Lanjut tidur nya Bil..."
"Iya Bang..."
Serba salah jadi Ale, niatnya mau mastiin keadaan Nabila, jadi tidak enak lantaran Nabila terbangun dan melihat ada dia di sampingnya. Mau tak mau, ia mesti membangunkan Ozi kembali dan memintanya untuk memperhatikan Nabila.
"Ciiiii....bangun nggak loh!! Bini lu tuh belom sarapan."
"Aduuuuh luuuuu Leee, pagi-pagi rusuh aja, ia nanti gw suapin dia..."
"Eh elu, harusnya tidur di deket dia, biar ada apa-apa bisa lu tanganin, bagaimana siih lu!"
"Tenang aja siiih, panik amat, gw aja suaminya slow."
"Udaaaaaah cepet lu bangun, gw udah beliin sarapan awas aja nggak dimakan!"
"Waaah bener-bener ganggu orang tidur aja, ini gw udah bangun..."
"Yaudah cepet mandi, nanti gw buatin kopi."
"Iyaaaa....."
Ozi akhirnya bangun, karena sudah tak tahan dengan ocehan Ale.
"Gw mandi dulu deh....ribeeet banget lu!"
"Lagi lu punya istri sakit, mala cuek aja...."
"Aduh kenapa jadi kaya Umi sama Abah gw sih Le, pagi-pagi maraah mulu kerjanya."
Menghindari perdebatan, Ale memilih mengalah dan diam.
"Bagus lu masih ada yang peduli,..." Ucapnya dalam hati.
Beberapa hari ini Umi tidak datang ke Yayasan, terdengar kabar Umi lagi kurang enak badan, mungkin masih kepikiran putra dan menantunya.
"Mi, ente makan dulu? Jangan ngelamun terus, jadi ane yang kepikiran nih..." Ucap Abah duduk di samping Umi yang tengah tertidur lemas.
"Iya Bah, Umi nggak apa-apa, udah jangan dipikirin...."
"Bagaimana ane nggak mikirin ente, saban hari ngeliat, saban hari muka ente di depan ane Seeh..."
"Jangan dipikirin aja Bah..."
"Ente sakit gara-gara mikirin anak nggak tau di untung itu Seh?" Tanya Abah yang kerap memanggil Umi, Aiseh.
"Huuush, jangan begitu Bah, bagaimana juga dia anak kita, bikinnya aja bareng, bagaimana sih Abah."
Abah terdiam, "Bingung ane jadinya, ente sakit begini mana ane bisa tenang ke Yayasan."
"Yaampun Bah, paling juga masuk angin."
"Yaudah ane kerokin ya?"
"Udah nanti juga ilang, Abah kalo mau ke yayasan, pergi aja...."
"Yaudah, ane berangkat ya Seeh...kalo ada apa-apa telepon ane aja...Assalamu'alikum/"
"Wa'alikum Salam."
Dengan berat hati, Abah meninggalkan Umi yang terkulai lemas di pembaringan. Umi terus memanggil nama Ozi dan Nabila, air mata berlinang ketika ia melihat kamar mereka kosong.
"Ji, pulang, nggak kasian sama Umi apa?!" Ucapnya sambil melihat layar *handphone *yang untuk kesikian kali Ozi dan Nabila tak menerima panggilan darinya.
Di lain tempat, setelah selesai mandi, Ozi menemui Nabila dan memberikan makan dan membasuh tubuh Nabila dengan *spoon, *Ozi memberanikan diri untuk membuka baju Nabila dan menahan hasratnya ketika melihat sisi keelokan tubuh Nabila.
"Aduh sayang kamu sakit Bil, kalo aja sehat, mau nggak mau, sikaaaat...." Gumam Ozi di hati ketika mulai membasuh tubuh Nabila dengan air hangat.
Setelah selesai memberi makan dan membasuh tubuh Nabila dengan air hangat, Ozi keluar dan meninggalkan Nabila sendiri.
"Le, gw nitip sebentar Nabila ya? Mau ada yang gw urus dulu."
"Urus apa lo?"
"Cari duitlah bro, emang rumah sakit milik moyang gw yang bisa gratisan?!"
"Terus kalo ada apa-apa sama Nabila bagaimana?"
"Apa-apanya bagaimana siiiih? Makan? Udah gw kasih makan kok. Mandi? Udah gw elapin, apa lagi? Bilang aja lu males gw titipin Nabila?!"
"Eh bukan begitu, kan elu suaminya Ciiiii! Kalau perawat atau dokter nyariin gw mesti ngapai?"
"Tinggal elu telepon gw, gw dateng kok. Oh iya, pinjem mobil lu ya? Hehe..."
Dia mengambil kunci mobil, " Thaaanks brooo...." Ucap Ozi melangkah pergi dan tak mengindahkan omongan Ale.
"Ada ya? Suami gesrek kaya dia? Ciiii....Onci...."
Rupanya Ozi berbohong, ia meminjam mobil Ale dan pergi meninggalkan Nabila, ia sudah janjian mau bertemu dengan Dhea.
"Iyaa yaaank, ini udah OTW tadi ada sedikit yang diurus dulu." Ucap Ozi Via *handphone. *
"Yaudah aku tunggu di tempat kemaren ya? Langsung masuk aja dan nanti kita teleponan lagi kalo aku sudah di tempat, dan aku kasih tau kamu kamar no berapanya."
"Okeee..."
Dhea dan Ozi bertemu di sebuah hotel, dan entah apa yang mereka lakukan. Satu jam kepergian Ozi meninggalkan Klinik, Ale diminta untuk menemui dokter yang baru saja memeriksa perkembangan Nabila. Ale begitu gugup, karena baru kali ini ia mengurus hal-hal seperti ini, yang lebih tidak ia terima, Ozi sebagai suami justru malah meninggalkan Nabila begitu saja.
"Kalo bukan temen gw dari kecil, udah gw unyeng-unyeng kepalanya."
Bersambung >>>>