Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 98


"Aku pulang dulu ya, selamat istirahat," pamit Ray beserta keluarga besarnya.


Rania hanya mengangguk disertai ulasan senyuman yang begitu manis. Mereka kembali terpisah untuk pulang ke kediamannya masing-masing. Rayyan dan Rania pun saling melambai dan melempar senyum, sebelum akhirnya memasuki mobilnya.


"Sayang, ayo!" tegur Bu Wira saat Rayyan tak kunjung menjalankan laju mobilnya. Pria itu menyetir sendiri, kedua orang tuanya sengaja bergabung di mobilnya agar anak itu pulang ke rumah.


"Selama tiga hari ini, kamu tinggal sama Mama, nggak boleh sendirian di rumah atau di apartemen. Mama khawatir terjadi sesuatu padamu, apalagi jelang pernikahan. Berangkat ke rumah sakit juga dengan supir, tidak boleh membantah!"


"Iya Ma," jawab Rayyan patuh. Rasanya ingin menolak, tetapi jika seorang ibu sudah bertitah, apalagi demi kebaikan putranya sendiri, tentu saja pria itu langsung mengiyakan walau terkesan lucu. Sudah gede, diantar jemput supir.


"Semua itu tidak hanya berlaku untukmu, tetapi juga untuk calon istrimu, biar nanti Papa siapkan supir khusus untuk Rania, Mama tidak ingin terjadi sesuatu sama calon mantu Mama," ujar Bu Wira penuh rancangan.


"Terima kasih Ma, perhatian sekali, tetapi alangkah baiknya, Mama kasih tahu dulu, takutnya nanti Rania nggak nyaman. Kadang pikiran orang beda-beda Ma."


"Iya Nak, kamu benar. Nanti biar aku hubungi jeng Inggit, insya Allah juga pasti setuju, untuk kebaikan keduanya."


Sampai di rumah, baik Rayyan dan Rania langsung menuju kamarnya. Menukar pakaian mereka dengan baju tidur. Sebelumnya menatap langit-langit kamar, membayangkan bahwa tiga hari ke depan mereka akan melepas masa lajangnya.


"Ya Allah, semoga dilancarkan segala urusan kami. Kami bisa menjadi pasangan sakinah mawadah warrohmah. Hingga jannahnya kelak. Aamiin." Doa keduanya tulus, sebelum akhirnya sama-sama menutup mata untuk menyambangi peraduan mimpi.


Keesok paginya saat Rania tengah sarapan dengan khusuk, nampak mobil jemputan sudah stay di depan halaman rumah eyang. Rupanya Bu Wira merealisasikan keinginannya dengan baik.


"Sayang, itu di depan ada supirnya Bu Wira mau jemput kamu, kamu nanti pulangnya juga bakalan dijemput. Mama sampai lupa mau bilang semalam karena kamu tidur lebih awal," ucap Mama Inggit menginterupsi.


"Iya Mah, ini Mas Ray juga ngabarin gitu. Aku berangkat dulu ya Mah, Pah, Eyang." Rania menyalim semua anggota keluarganya tanpa terkecuali.


"Alhamdulillah calon ibu mertua kamu tuh baik banget Nak, sayang sama kamu, hati-hati di jalan!" seru Mama Inggit perhatian.


"Iya Mah, alhamdulillah, semua keluarga Mas Ray menerima dengan baik."


Rania berangkat dengan tenang, gadis itu sampai di rumah sakit sekitar pukul setengah delapan. Jam tugas Rania memang dari jam delapan di stase radiologi jadi agak longgar. Seperti biasa datang, mengisi absen dan menyempatkan apel pagi sebelum akhirnya mengikuti kegiatan hari ini di ruang radiologi. Lokasi kerjanya lebih tepatnya di ruang khusus baca foto.


Hari-hari berikutnya belum menemukan kasus ekstrim di stase radiologi. Hampir hari-hari yang ditangani adalah rontgen paru, rontgen patah tulang, CT scan kepala, MRI jarang atau malah belum pernah selama bebarapa hari di stase ini.


Walaupun pada saat kuliah kaya nggak begitu perhatian tentang radiologi, tetapi lumayan untuk hari-hari berikutnya tidak se-abstrak itu, pelan-pelan belajar membaca foto, walau masih ada yang salah, atau kurang, temuanya nggak selengkap konsulen.


"Dek, tolong print ya?" pinta Dokter Heru selalu yang bertugas di sana.


"Siap, Dok," jawab Rania lekas ke ruang komputer.


Laporan radiologi tetap dokter yang menulis hasil interpretasinya. Anak-anak cuma observasi, dan setelah diprint lalu dimasukkan di amplop besar, baru diserahkan ke resepsionis depan untuk diberikan hasilnya pada pasien.


Untuk Rania sendiri malah asyik bertelpon ria bersama orang tuanya. Siang nanti setelah dari rumah sakit, gadis itu akan dijemput supir dan langsung dibawa Bu Wira untuk memilih pakaian pengantin untuk besok. Untungnya sedang nemu stase yang begitu selow jadi tidak begitu beban di tengah padatnya acara pernikahan ini.


Untuk menjaga privasi gadis itu yang belum sepenuhnya dipublikasikan. Bu Wira sampai tidak turun dari mobil, perempuan itu menunggu di mobil dan Rania yang menghampirinya.


"Gaes ... duluan ya, pulang, pulang!"


"Yoi ... hati-hati beb, jatuh bangun sendiri."


"Asal jangan jatuh cinta aja repot urusanya kalau yang ini," jawabnya lalu.


Rania keluar dari rumah sakit, langsung menuju di basement di mana mobil jemputannya udah menunggu.


"Hallo sayang, gimana hari ini Nak?"


"Siang Tante, alhamdulillah lancar." Rania menyapa sekaligus menyalim calon mertuanya.


"Kita ke butik ya sayang, kamu pilih baju sesuai yang pas untuk kamu, nanti Rayyan nyusul, masih ada operasi belum kelar."


"Iya Tante," jawab Rania nurut.


Karena semua dilakukan serba cepat, tentu saja untuk acara ijab besok memilih pakaian jadi yang paling pas. Kebaya modern menjadi pilihannya. Sederhana tetapi cukup elegan. Semua harus rampung hari ini masalah pakaian, dan besok gladi resik untuk acaranya yang digelar di rumah eyang atas permintaan mempelai perempuan. Baru nanti resepsinya akan diadakan musyawarah lagi yang pasti mereka akan mengadakan syukuran yang mewah.


Rania tengah fitting di ruang ganti saat Rayyan tiba di butik, pria itu sudah tidak sabar menanti hari bahagia itu. Apalagi beberapa hari ini keduanya jarang bertemu, hampir tidak pernah karena sibuk menyiapkan ini itu.


Rayyan tersenyum saat melihat calon istrinya begitu menawan dengan tubuh berbalut pakaian yang akan ia kenakan besok di hari bersejarah keduanya. Begitu pun Rania yang mendadak tersenyum canggung ditatap calon suaminya sedemikian intens.


"Cantik banget Dek, senyumnya nggak kuat aku," seloroh pria itu mengikis jarak. Memperhatikan dari jarak lumayan dekat.


"Kamu suka yang warna apa Mas?"


"Putih aja sayang, kayaknya untuk acara ijab qobul lebih sakral. Kaya spesial gitu, di hari yang istimewa."


"Oke, aku ngikutin selera kamu, Mas. Jangan lihatin aku gitu, Mas, kok nggak fokus?"


"Fokus aku ada di kamu, nggak bisa lihat lainnya. Duh ... udah nggak sabar pengen cepet halalin kamu. Satu hari bikin deg degan. Mana kita dilarang saling menempel kata mama, untung nggak dipingit, bisa gila aku nggak ketemu seminggu," keluh pria itu jujur.


"Ya emang nggak boleh Mas, bukan mahram, awas jangan aneh-aneh tuh mama ngawasin kita."


"Iya, sabar, sabar!" ucap pria itu dramatis. Bibirnya tak berhenti membuat lengkungan, bahagia jelas menaungi pria tiga puluh satu tahun itu.