
Rayyan menyorot gadis di depannya begitu tajam dan dingin, seketika ruangan lift itu terasa mencekam, ditambah di sana hanya mereka berdua tentu saja membuat Rania deg degan.
Pria itu mengikis jarak, semakin dekat hingga tepat di depan tubuhnya. Saat Rania mundur teratur, tangan kiri Rayyan menjulur, telapak tangannya melindungi kepala Rania agar tak membentur dinding, sesungguhnya jiwa pria itu teramat menyayangi bila sudah menjatuhkan pilihan pada seseorang.
Gadis itu memberanikan diri mendongak, seketika netra mereka bertemu saling mengunci dalam diam. Pria itu menatapnya begitu dingin.
"Aku minta maaf, aku minta maaf atas tanggungan yang masih dihitung hutang, aku janji bakalan ganti semuanya. Aku sadar aku salah udah melanggar janji, tapi kita tidak boleh tinggal seatap berdua saja tanpa ada sebuah ikatan yang sah," ujarnya memberanikan diri dengan segenap hati.
Rayyan tersenyum miring, tanpa sepatah kata pun ia memperlihatkan layar ponselnya tepat di hadapan gadis itu. Seketika sepasang hazel gadis itu membola, mendapati gambar-gambar tidak senonoh dirinya dan juga pria itu di dalam kamar dengan pose yang mencengangkan. Rania shock seketika, ia terdiam dengan mimik tak percaya.
Saat Rania hendak merampas ponsel itu, Rayyan mengantongi ke dalam saku dengan elegan, dan meninggalkan elevator yang sudah terbuka. Pria itu tersenyum devil, hingga menghunus tepat di jantung Rania, seketika Rania lemas sendiri di dalam ruangan satu setengah meter kali dua meter itu.
Rania merogoh ponselnya, seketika membuka blokiran nomor Rayyan dari sana lalu menghubunginya. Cukup lama Rania terus mencoba menghubunginya, namun tak ada jawaban. Dengan kesal gadis itu keluar dari lift, menuju ruang bersalin dengan muka menumpuk beban berat.
"Ra, dengerin nggak sih, fokus dong jagain pasien!" bentak Dokter Hanum yang berjaga menangani pasien yang sama.
"Iya Dok, siap," jawab Rania kembali ke mode sigap. Hatinya begitu resah, kantuk yang sempat menyerang lenyap sudah hingga pagi hari Rania tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Gadis itu terlihat tidak baik-baik saja, mata panda menghiasi wajahnya.
"Ra, lo nggak pa-pa?" tanya Jeje merasa iba.
"Shhttt ... mending jangan banyak tanya-tanya dulu deh, Rania sepertinya kecapean, semalam ikut nangani operasi lahiran 'kan?" Asa menyela.
"Wokeh deh ....!"
Hampir setiap anak koas selesai jaga malam itu murung paginya karena merasa lelah dan juga ngantuk. Tapi ini beda, Rania terlihat menyeramkan pagi ini, muka cemberut dan cenderung diam, tidak mau berbicara, lebih banyak melamun.
"Lo ada masalah? Konsulennya marahin lo?" tebak Jeje mode sok tahu.
Rania menggeleng, kemudian mengangguk, sedetik kemudian memeluk Jeje lalu terdiam.
"Yang sabar ya Ra, beginilah nasibnya dedek koas, kadang emang suka ada yang ngeselin banget tuh senior, udah gitu galak, ya walaupun untuk kebaikan kita juga sih, tetapi suka kesel aja kalau dimarahin."
Sedikit banyak memang benar, Rania bahkan semalam sampai kena semprot dokter dalam menangani pasien. Kalau itu Rania mengaku salah dan memperbaikinya, tetapi bukan hanya itu saja yang membuat mood Rania ambyar sepanjang hari, lebih jelasnya foto-foto dirinya waktu itu pas pingsan.
"Ini orang maunya apa sih, bikin kesel hidup orang aja," geram Rania bergumam sepanjang koridor menuju ruangan pribadi Dokter Rayyan.
Rania menghela napas sepenuh dada begitu sampai di depan ruangan pria itu. Ada sedikit ragu untuk mengurungkan niatan itu, biar bagaimanapun dirinya sudah terjerat dalam pesona dokter sialan itu. Rania akui, dia memang tampan dan mapan. Tetapi Rania tidak mencintainya dan Rania tidak suka pria dewasa yang mesumnya tidak ketulungan.
"Domes sialan!" batin Rania memaki.
Perlahan gadis itu mengetuk pintu, kagi-lagi nampak Dokter Amel baru saja keluar dari ruangan itu. Bedanya, siang itu ia begitu sumringah. Melewati Rania dengan wajah bahagia.
"Orang aneh banget sih!" gumam Rania menggeleng pelan.
Suara ketukan pintu menginterupsi, gadis itu segera masuk setelah dipersilahkan.
"Dokter maunya apa sih!" semprot Rania tanpa basa basi.
Rayyan tersenyum santai di atas kursi miliknya, sembari memainkan ponsel di tangannya, beralih menatap tajam ke arah Rania.
"Lakukan saja sesuka hatimu, Ra, jangan pedulikan orang-orang yang peduli di sekitarmu. Nikmati saja harimu dengan indah," jawab Rayyan santai, namun penuh penekanan.
"Maksud Dokter apa? Aku bakalan ganti uang itu kalau memang masih perlu. Tolong hapus semua foto itu, Dokter Rayyan yang terhormat, Anda melanggar hak-hak privasi, kamu bisa saya tuntut."
Bukanya gentar pria itu malah bertepuk tangan.
"Silahkan Ra, tuntut aku, coba saja kalau bisa sayang," bisik Rayyan tepat di belakang tenguknya.
"Kamu! Aku benci sama kamu, aku benci!" murka Rania mendorong dada Rayyan yang mendekat. Lalu segera bergegas dari sana.
Rayyan menarik tangan gadis itu lalu menghempaskan tubuhnya hingga tersungkur ke atas bed.
"Akan aku buat kamu bertambah membenci aku seumur hidupmu, Ra, biar kamu puas!" ucap Rayyan putus asa. Rasa marah, kesal, emosi, sayang, cinta, memenuhi seluruh hatinya, bergemuruh membumbung angan seakan meledak di sana.