
"Astaghfirullah ... Mas, jangan gila ini di area rumah sakit!" tegur Rania menahan tangan Ray yang bergerak semakin aktif.
"Nggak pa-pa gila aja mumpung ada Dokter Rania. Hehehe." Pria itu nyengir tanpa dosa.
"Tahu ah kamu mah resek, nanti kalau mobil ini bergoyang kita bisa viral. Please ... masih banyak waktu di rumah."
"Aku cuma minta servis atas kali Dek, kenapa kamu minta lebih," jawab pria itu mangkir dari kenyataan.
"Eh, astaghfirullahalazim ... udah sana keluar! Aku naik taksi aja."
"Maafkan diriku ini Dek, aku tuh hawanya gemes pengen unyel-unyel, terus sayang-sayang, greget banget deh istriku sayang."
"Ya nanti di rumah, terserah deh mau apain aku. Semerdeka Mas aja! Sekarang bisa kena peringatan!" Perempuan itu manyun seraya membenahi penampilannya yang semrawut.
"Ya udah aku pulang dulu," pamitnya meraih tangan suaminya.
"Langsung ke rumah aja ya Dek, jangan mampir-mampir!" pesan Ray sore itu.
"Malah mau belanja sebentar keperlua rumah banyak yang habis."
"Nanti aja nunggu Mas pulang diantar. Atau kalau nggak kamu pulang ke rumah mama aja, aku nggak tenang kalau di rumah sendirian."
"Biasanya juga sendirian kali Mas, berani. Ya udah pulang dulu ya?" pamit Rania sekali lagi.
Sore itu akhirnya Rania menggunakan jasa ojol. Sebenarnya tadi bisa nebeng Jeje, tapi gadis itu sudah pulang sedari tadi karena Rania sendiri harus ngurusin bayi gedenya dulu yang manjanya nggak ketulungan.
Sore hari pas jam kantor emang rawan macet, sudah bulan rahasia umum dan hari ini pun sama, macet dengan antrian yang cukup panjang. Untung saja Rania pakai jasa ojek jadi bisa sedikit gesit menyalip lewat celah-celah jalan.
"Wah macet Mbak Dokter, kita lewat jalan tikus aja gimana?"
"Emang bisa ya Pak? Boleh deh terserah bapak aja," ujar Rania pasrah. Yang penting bisa sampai di rumah tepat waktu.
Perempuan itu sudah membayangkan sampai rumah ingin menyiapkan hidangan yang enak untuk makan malam. Lalu mandi berdandan yang cantik menyambut suaminya pulang. Mas Ray pasti akan senang melihatnya yang begitu menawan. Menghayati peran sebagai istri yang menyenangkan.
Perempuan itu sengaja mengirimkan pesan pada suaminya dengan menawarkan menu makan malam.
[Mas, nanti malam mau dimasakin apa?]~Rania
Pesan sudah dikirim, perempuan itu kembali memasukkan ponsel ke dalam tas. Kembali mengamati jalan ketika tiba-tiba sebuah sepeda muncul di duapertiga jalan. Membuat abang ojol oleng dan setelahnya terjadilah laka lantas di jalan itu.
"Awas ....!" jerit Rania melihat simbah-simbah bersepeda yang muncul tak terduga.
Demi menghindari sepeda itu motor oleng hingga menabrak bahu pembatas. Kecelakaan tak terelakan lagi, suasana sore itu menjadi gelap.
"Aww ... astaghfirullah ... tolooong!" lirih Rania disisa rasa sakit yang bersarang di tubuhnya. Wajahnya bersimbah darah hingga tak sadarkan diri membuat perempuan itu harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Keduanya sama-sama parah dan ini murni kecelakaan.
Untung si mbah-mbahnya dikabarkan aman. Namun, kenaasan menimpa perempuan itu yang sedang malang. Tiba di rumah sakit, masih dengan baju dinasnya kebetulan sore itu yang berjaga di IGD mengenali Rania. Sesama anak koas kelompok lain, sontak itu membuat orang itu terkejut sekaligus kasihan.
"Ya ampun ... ini Rania, koas di sini, 'kan?" pekik anak itu cukup jelas.
"Iya bener, loh Rania?" pekik Dokter Raka kaget.
Tanpa pikir panjang langsung menangani dengan segera. Pria itu langsung menghubungi sahabatnya sekaligus suaminya pasien. Ray yang sore itu bersiap pulang karena jadwal operasi untuk sore tadi ditunda cukup shock mendengar kabar tak mengenakan itu.
Setengah tak sadar ia berlari ke IGD memastikan kekasih halalnya tengah ditangani kawan-kawan yang bertugas. Jelas pria itu shock, sebelum pulang bahkan mereka melakukan perpisahan yang manis.
Rania mengalami cidera kepala ringan, Vulnus Lacerasi (dapat 5 jahitan spesial di dagu) dan VE (di kaki dan jidat). Sore itu Rayyan yang biasanya nangani pasien asing kini harus menangani istrinya sendiri. Rasanya campur aduk, cemas, kasihan dan merasa bersalah karena sore tadi membiarkan saja pulang sendiri.
Perempuan itu baru sadar setelah mendapatkan perawatan dan dipindah ke kamar inap bedah. Dengan perasaan campur aduk pria itu menunggu harap-harap cemas.
"Mas, kamu di sini?" lirih Rania terjaga setelah raganya terlempar.
"Sayang, kamu udah sadar?" Ray menatap dengan sendu. Duduk di tepian ranjang sembari menggenggam tangannya yang terbebas dari selang infus.
"Aww ... pusing!" keluh perempuan itu mencoba bangkit dari pembaringan.
"Jangan dipaksain, tiduran aja!" cegah Ray membimbing istrinya tetap rebahan.
"Maaf Mas, kamu jangan sedih gitu dong aku nggak pa-pa kok," ucap Rania mencoba menghibur diri agar suaminya tenang.
"Nggak pa-pa gimana? Orang tadi pingsannya juga lumayan lama. Untung kepala kamu nggak parah, nggak tahu takutnya aku tadi lihat kamu di IGD sebagai pasien." Ray menumpahkan kekhawatirannya. Pria itu sampai menangis saking takutnya. Ternyata sebegitu khawatir ditinggal seseorang yang begitu ia sayang.
"Kamu marah? Aku kan udah nggak pa-pa? Aku lagi sakit loh ini, masak dimarah-marahin."
"Aku nggak marah sayang, aku khawatir setengah mati. Aku takut banget tadi. Cepet sembuh dan tidak boleh sakit, aku nggak bisa lihat kamu gini."
"Kalau nggak bisa ya jangan dilihat, merem aja," seloroh perempuan itu mencoba guyonan. Suaminya begitu mencemaskan dirinya membuat perasaannya semakin tak karuan.
"Kamu lagi sakit, perasaan nggak enak gini sempetnya becanda. Cepet sembuh sayang," lirih pria itu mencium tangannya. Rania tersenyum di tengah rasa sakit yang menimpa. Betapa ia bahagia dicintai sebesar ini oleh pasangan halalnya.