Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 80


"Untuk saat ini alhamdulillah belum, Om, kalau besok mungkin saja," jawab Rayyan yang tentunya hanya bisa ia lontarkan dalam hati.


Pria itu menghirup udara sekitar, mengeluarkan perlahan. Menyamarkan rasa grogi yang semakin melanda. Lebih menyeramkan dari pada ujian UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter). Tidak enak, tetapi harus dinikmati. Ngeri-ngeri nikmat.


"Alhamdulillah tidak terjadi seperti yang Om tuduhkan, melainkan saya sudah siap secara lahir dan batin. Saya menyakini Rania adalah pendamping hidup yang tepat untuk saya, kalaupun Om masih ragu dengan pribadi saya, Om bisa tunda, tetapi tolong restui kami," jawab Rayyan sungguh-sungguh.


"Ghem!"


Mama Inggit masuk menjadi penengah di antara dua pria yang nampaknya begitu gigih dengan pendapatnya masing-masing.


"Kami menghargai keputusan kamu, Nak Rayyan, mungkin saat ini kami tampung dulu ya, biarlah semua berjalan dulu. Biarkan Rania menyelesaikan kuliahnya dulu, atau paling nggak selesai koas dulu," jawab Mama Inggit bijak.


"Sebenarnya saya juga kurang setuju untuk hal pacaran, tetapi kalau kalian berhubungan dekat tolong bisa menjaga amanah kami dengan baik. Kami memberikan kepercayaan penuh terhadap anak kami bukan berarti membiarkan. Melainkan memberikan hak untuknya menentukan hal yang seharusnya benar. Kalau memang perlu, mungkin tunangan dulu akan lebih baik. Sambil berjalan, sambil nunggu Rania lulu, semoga Allah memudahkan. Aamiin."


"Baiklah Tante, Om, kalau memang itu keputusannya, Rayyan bisa apa. Terima kasih kesempatan ini, dan waktunya. Mungkin lusa, kedua orang tua saya akan bersilaturahmi ke Bandung, untuk memantapkan hati Om dan Tante."


"Orang tua kamu mau datang?"


"Iya Om, Tante, boleh 'kan? Saya serius ingin melamar putri Om," ujarnya sungguh-sungguh.


Setidaknya pria itu bisa sedikit bernapas lega setelah menyampaikan maksud dan tujuannya saat ini. Walaupun belum menikah sekarang, setidaknya keluarga Rania cukup welcome dan menerima kedekatan mereka. Cuma memang harus sedikit bersabar, menunggu pujaan hati tetap dalam genggaman.


Setelah cukup lama beramah-tamah dengan durasi yang cukup panjang. Rania terlihat mengobrol asyik bersama nenek dan juga Mama Inggit. Sedangkan Rayyan terlihat sibuk bersama Papa Al, namun lebih santai karena yang dibahas bukanlah tentang hubungan mereka. Dari sinyal yang Rania tangkap, Rayyan dan ayahnya terlihat sudah lumayan akrab.


"Ma, bukannya dulu Mama dan Papa menikah di waktu muda ya? Masih kuliah juga 'kan? Mas Ray ini sudah dewasa loh Mah, mungkin itu salah satu pertimbangan yang membuatnya ingin segera mengakhiri masa kesendiriannya."


Mama benar, Rania bahkan baru mengenal pria itu beberapa bulan yang lalu. Walaupun sudah sering bersama, ada kalanya itu terlihat dari kaca luarnya saja. Mengenal lebih dekat mungkin memang perlu, hingga berapa sabar pria itu menunggu.


"Saya pamit dulu, Om, mungkin besok atau lusa saya mau main ke rumah Om dengan orang tua saya," pamit pria itu menyalim takzim kedua orang tua Rania.


"Mah, Pah, Rania anter Mas Ray dulu ya, mungkin nanti langsung pulang," pamit Rania mengekor calon suaminya. Tak lupa mereka juga pamit dengan kakek dan Nenek Rania.


Keduanya berjalan keluar dari rumah sakit, saling bergandeng tangan. Langsung menuju mobil mereka yang terparkir di basement rumah sakit.


"Mas, aku bilang juga apa, kamu terlalu cepat minta restunya, harusnya pedekate dulu aja Mas, ya walaupun hasilnya mereka nggak nentang hubungan kita sih, tetapi kan aku kasihan sama kamu dibrondong banyak pertanyaan gitu."


"Tak apa sayang, itu adalah salah satu bukti aku tidak main-main dengan hubungan ini, tolong jangan kecewain aku, Ra, aku mencintaimu," ucapnya sungguh-sungguh.


Mereka sudah di dalam mobil dan suasana juga lebih rileks.


"Iya, iya Mas, aku tahu," jawab Rania sembari membalas tatapan pria itu.


"Kenapa sih, lihatinnya gitu? Kayaknya kamu perlu minum deh," ujar Rania salting sendiri.


"Nggak Ra, aku perlu kamu," jawab Rayyan spontan.


Pria itu mengikis jarak, dekat, semakin dekat, hingga tak ada lagi batas untuk mereka berdua. Keduanya saling mempertemukan indera perasaan mereka. Meningkatkan hormon oksitosin, mengolah perasaannya di sana. Seakan mendapat kedamaian setelah menyapa Rania-nya.