
"Huum, jinakin ya sayang, tanggung jawab!" mohon pria itu nakal sekali.
"Eh, ngadi-ngadi kamu Mas, aku harus kembali ke ruangan aku, kamu juga ada operasi kan habis ini. Bye bye sayang, baik-baik di ruang OK, love you," pamit Rania tanpa merasa berdosa sama sekali. Menyambar pipinya dengan nakal lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan.
"Astaghfirullah, Dek, beneran dianggurin? Dasar nakal!" cebik Rayyan repot sendiri.
Beberapa menit berlalu, saat Axel masuk ke ruangannya, menemukan pria itu tengah push up dalam ruangannya.
"Dok, dok-ter ....?" selidik Axel menatap dengan wajah bingung.
"Jangan banyak nanya, sebentar lagi aku bebersih dulu, otw ruang Ok, Cel, kamu tunggu di luar saja!" titahnya galak.
"Siap, Dok!" jawab pria itu patuh. Axel adalah pegawai baru untuk dokter Rayyan, ia bertugas sebagai asisten pribadinya. Kesibukannya membuat Rayyan perlu menggunakan asisten pribadi, dikarenakan perempuan yang dulu ia sebut sebagai asprinya sekarang sudah menjadi nyonya hatinya. Jadi, tidak mungkin lagi menempatkan kesibukan itu padanya. Apalagi pengantin baru, pasti akan menjadi sibuk mojok berdua.
Di sisi lain, Rania baru saja kembali setelah merapikan tampilannya yang lumayan lusuh akibat suaminya yang merusuh. Ia kembali ke ruang kerja, di mana teman-teman juga ada di sana. Seperti biasa, mereka para koas akan menjadi sibuk apabila terdapat banyak foto hari ini. Mereka akan bergilir saling membantu konsulen mencetak foto rontgen pasien, membacakan hasilnya lalu merapikan ke amplop. Baru dibawa ke resepsionis depan untuk diberikan hasilnya pada pasien.
Suasana sore itu mendadak mendung, gerimis pun melanda ibu kota. Keadaan di ruang radiologi juga masih lumayan ramai. Baru saja usai bimbingan. Sebagian teman-teman ada yang berkumpul selesai dari ruang baca ( Sebutan untuk ruang kerja yang dijadikan teman-teman baca hasil rontgen di depan konsulen).
"Eh, hujan-hujan gini enaknya mendoan gaes, patungan yuk!" Interupsi Asa mencairkan suasana.
"Hooh, enak nih, ayo dong beli, siapa kah gerangan di sana yang mau beli, keluar lah."
"Aku nitip lah, cowok aja, itu si Kenzo atau Tama, nganggur beud dari tadi."
Semua pengen makan, tetapi tidak ada yang mau bertindak buat beli. Akhirnya mereka semua berkumpul terus hompimpa layaknya anak-anak bermain. Sampai diputaran ketiga, baru mendapat kandidat pesuruh yang agung.
"Yei, Tama sama Rania, kalian berdua beli gorengan sana!" pekik Jeje merasa aman.
"Dih ... gue gratis elo deh Je, lo aja yang berangkat, please ... sekalian pedekatean sama si Tamtam."
"Waduh ... sorry gue nggak minat, ya kali ... gue punya cem ceman sendiri."
"Hish ... ngeselin banget sih!"
"Kenzo ... kali ini lo gratis gorengan, bakmi dan minumannya, berangkat lah!" titah gadis itu mangkir. Dirinya punya seribu alasan macam cara untuk tidak menjadi kandidat yang bertugas.
"Ayo Ra, gas ... pakai mobil kok, aman dari badai dan hujan!"
"Lo aman, gue nggak, ganti tuh Melodi anak pinter, gratis Melo sana berangkat, maafkan kakakmu yang memerintah ini."
"Ih, kak Rania curang, tapi oke deh, gue mau!" ucapnya pasrah.
"Good girls, ini uangnya Mel, ih ... kenapa jadi Mel, berasa manggil dokter Amel. Melo aja deh, lebih keren." Entahlah, mendengar kata Mel menjadi sensi sendiri.
Mengantri bareng-bareng tuh asyik, suasana keakraban juga semakin tercipta. Sore hari sudah kelar, namun masih harus nunggu si konsulen memberi ultimatum bubar jalan, alias mereka nggak ngapa-ngain. Ngumpul aja di salah satu ruangan.
Sambil nunggu teman yang beli cemilan, dimanfaatkan sesama koas mengobrol untuk agenda weekend nanti.
"Bagaimana kalau liburan di Tanjung, trip yang menyatu dengan alam kayaknya seru abis," usul Kenzo semangat sekali.
"Wah ... seru tuh, gue setuju!" timpal Asa dan Jeje hampir bersamaan.
"Yuhu ... ini bakalan jadi healing yang berkesan di stase radiologi," kata Asa penuh binar rancangan.
"Jangan bilang lo absen?" tuduh Jeje pada Rania yang malah sedari tadi sibuk sendiri dengan ponselnya.
"Eh, gue ... harus izin dulu sama pawangnya, kalau boleh berangkat kalau nggak boleh ya mohon maap."
"Dih ... nggak asyik banget selalu sibuk sendiri, nggak jelas! Biar gue yang ngomong sama nyokap lo, masih di Jakarta kan?"
"Udah pulang sih, tapi—harus ada izin khusus. Maklum anak patuh."
"Ceileh ... super sekali," cibir Asa geleng-geleng.
Obrolan berlanjut sambil menikmati cemilan yang baru saja Melodi dan Tama beli. Hingga sore hari, Rania memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena suaminya belum juga selesai dengan pekerjaannya. Perempuan itu hanya meninggalkan pesan whatsapp lalu pulang ke rumah dengan taksi.
Setelah sampai di rumah, Rania beristirahat sejenak. Membersihkan diri dan bersolek manja. Merasa harus melakukan sesuatu dengan menjalankan perannya sebagai istri, ia pun berinisiatif membuat makan malam dan menyambut suaminya pulang dengan tampilan yang berbeda.
Lekas bergegas ke dapur, meneliti kulkas yang isinya tidak begitu lengkap. Hanya ada buah-buahan, minuman dingin dan cemilan kecil, tidak ada bahan sayur atau apa pun yang bisa dieksekusi, membuat gadis itu bingung sendiri. Hanya telur dan sosis, serta beberapa baso di frezzer yang tersisa. Maklum sekali Rayyan jarang makan di rumah dan mungkin persediaan ini diisi oleh mama atau Bi Ijah yang setia membersihkan rumahnya.
Perempuan itu tengah sibuk di dapur meneliti isi kulkas ketika Rayyan sampai rumahnya. Mengucap salam, meletakkan tas bawaan dan langsung mendekati istrinya.
"Udah pulang?" sambut gadis itu mengulas senyum. Meraih tangan suaminya lalu menciumnya dengan takzim. Rayyan balas menyematkan jejak sayang di keningnya.
"Iya, maaf tadi ada pasien darurat yang langsung memenuhi meja operasi, jadi harus selesain dulu."
"Nggak pa-pa, yang penting sekarang udah di rumah."
"Kangen!" ucap pria itu memeluk istrinya dari belakang. Mengusak lembut tengkuknya dengan gemas.
"Mas, mau makan apa? Aku bingung mau masak apa untuk makan malam, nggak ada stok bahan, besok harus belanja deh."
"Terserah aja, Dek, belum terlalu lapar. Aku mandi dulu ya?" ujar pria itu bergegas. Rania mengikuti, menyiapkan pakaian gantinya.
Usai membersihkan diri, Rayyan memakai pakaian yang dipilihkan istrinya.
"Ini kopinya Mas, biar kuat begadang!" kata gadis itu mengerling.
Sepertinya istrinya itu memberi kode, ia tersenyum mendekat.
"Aku bersih-bersih dulu ya?" ucap gadis itu tersenyum seraya mlipir ke ruang ganti. Hatinya mendadak deg degan. Rania sudah bebersih, mengganti pakaian dinas yang diberikan mama lalu memakai wewangian, tak lupa memanjakan wajahnya terlebih dahulu dengan krim yang selalu ia gunakan sebelum tidur.
"Kok gue deg degan sih," batin Rania begitu gugup.
"Dek, udah belum!" Rayyan yang sudah menunggu di luar sepertinya sudah tidak sabar menunggu istrinya.
"Iya Mas, bentar," jawabnya seraya mengatur degup jantung yang semakin rancak.
Saat Rania membuka pintu, terlihat Rayyan sudah menunggu di ranjang. Matanya langsung berbinar terang mendapati istrinya yang nampak malu-malu dengan pakaian dinasnya.
Pria itu tersenyum sumringah, bangkit dari duduk santainya, masih dari atas kasur langsung menarik istrinya mendekat.