Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 92


"Ya kamu sih, ngeselin banget, sama Jo aja lembut, giliran sama aku galak banget udah kaya anti aja. Awas aja nanti jadi istriku, nggak bakalan boleh keluar!"


"Dih ... posesif, jadi pergi nggak sih, katanya mau ngajak ke rumah calon mertua, kok aku deg degan ya?" ungkap Rania mengisi sesi curhatnya.


"Jadi lah, kita perlu mempertemukan kedua orang tua kita, nanti kita atur ya?"


"Bentrok banget nggak sih sama kegiatan kita, kamu sibuk dan aku juga sama, sibuk," jawab Rania galau sendiri.


"Nikah dulu nggak pa-pa, resepsinya bisa nanti setelah selesai koas. Aku tahu kamu sibuk, tapi bisa lah, toh tujuan kita baik, pasti Allah memberi jalan. Aamiin."


Rania yang awalnya masih ragu-ragu mendadak mengiyakan. Walaupun sebenarnya ingin menikah sekali saja dengan konsep sekali jadi, tetapi nampaknya tidak efektif untuk mereka berdua.


"Mas, kamu bisa sabar nggak? Atau gini aja deh, kita bikin semacam kaya blok pertemuan. Satu minggu dua kali, itu pun pas hari libur dan hari tertentu. Aku ingin banget sebenarnya nunggu lulus dulu, rasanya nggak bisa tenang gitu aja."


"Jangan dijadikan beban, aku bisa bantu kok, dosennya Pak Wardana 'kan? Dia Pakde aku kali, bisa dinego, termasuk tidak menempatkan kamu pindah tugas dari rumah sakitku. Terkecuali mungkin stase jiwa, tapi semoga nggak jauh juga kalau harus keluar dari induk rumah sakit, minimal masih ada di wilayah Jakarta."


"Kalau jauh? Gimana Mas?"


"Ujian buat kita, dan itu pasti bikin aku galau, ah ... semoga aku nggak pernah kepisah lagi sama kamu."


"Sarapan Mas, aku nggak jauh-jauh kok, udah makan nggak usah melow."


Rania membuat sarapan sandwich sederhana dengan bahan ala kadarnya. Dua cangkir kopi susu karamel sebagai teman mereka pagi ini. Keduanya nampak menikmati makanannya dengan khusuk. Usai sarapan, Rania menyempatkan bersolek diri di depan meja rias, Rayyan hanya menyimak dari pandangannya. Pria itu menunggu dengan sabar. Hari minggu yang cerah, semoga kegiatan hari ini lancar, besok senin sudah harus kembali bersibuk ria.


"Mas, aku jenguk ponakan Jo bentar ya?" Rayyan terlihat mrengut, tatapannya sungguh membuat Rania tak enak hati.


"Jangan baperan kaya gitu kali Mas, ayo kamu ikut!" ujar Rania sungguh-sungguh.


Kedua pasangan itu bertolak ke apartemen sebelah, menemukan Jo dan juga keluarga kecil dari keponakannya ada di sana.


"Assalamu'alaikum ....!" sapa keduanya begitu memasuki ruangan.


"Hallo sayang, sudah sembuh? Hebat ya, jangan lupa jaga kebersihan dan minum obat jika sakit."


"Terima kasih Tante, aku sudah sembuh." Bocah berkisaran enam tahun itu berhambur memeluknya.


"Wah ... terima kasih ya, udah bantuin jagain Shaila, perkenalkan aku Ibunya Shaila, ini suami saya, kamu pasti Rania 'kan?" ujar perempuan yang berkisar seumuran ibunya itu. Dia adalah kakaknya Jo.


"Iya Kak, Rania." Mereka saling berjabat tangan.


"Owh ya, ini teman dekat saya kak, perkenalkan Rayyan!" ucap Rania memperkenalkan Rayyan yang dari tadi nampak menyimak.


"Rayyan!" Pria itu berjabat tangan. Hanya dengan Jo yang terlihat melempar sengit satu sama lain, pria itu saling melirik penuh angkara murka, namun begitu rapih menyimpannya. Seakan tatapannya itu mengatakan, tunggu saja waktu yang tepat.


"Shaila, Tante pamit dulu ya, karena Shaila udah pinter, Tante punya hadiah, ini buat Shaila!" Rania memberikan bingkisan kecil berbalut kertas kado dan pita cantik.


Perempuan itu banyak menyimpan benda-benda motivasi itu untuk diberikan pada anak-anak yang sakit di rumah sakit, waktu ia tangani. Jiwa keibuanya terbentuk dengan sendirinya, Rania benar-benar mendapat banyak pengalaman hidup yang lebih dari sekedar bisa dibutuhkan orang banyak. Namun, pengalaman-pengalaman lain yang tentunya tidak akan pernah terlupa.


Bisa jadi memang benar, doa orang-orang terdekat di sekitarnya yang menyayanginya di dengar Tuhan, sehingga ia bisa melewati semuanya dengan mudah.


Usai dari rumah Jo, Rania dan Rayyan langsung bertolak ke rumah orang tuanya. Bu Wira nampak antusias menerima kedatangan calon menantunya, bahkan tidak memperbolehkan Rania pulang. Keduanya nampak saling akrab satu sama lain.


"Sayang, kamu tinggal di sini saja ya, nanti biar supir Mama yang antar kamu dan jemput kamu di rumah sakit. Di luar sana nggak aman. Apa lagi di apartemen, bisa-bisa Rayyan nyusulin terus!" pinta Bu Wira sungguh-sungguh.


"Nggak kok Mah, aku malah diusir-usir mulu kalau dekat-dekat. Tapi aku setuju sih kalau kamu tinggal sama Mama, mau aja sayang."


"Terima kasih Tante, nanti Rania pertimbangkan," jawabnya ragu.


Tentu saja Rania sungkan, dirinya bisa-bisa tidak mempunyai jam bebas lagi untuk sekedar minggir bersama teman-teman. Walau begitu, ia sangat bersyukur karena dipertemukan dengan calon ibu mertua yang begitu baik dan penyayang semoga tidak pernah berubah sampai nanti menikah.