
Rania datang ke rumah sakit sekitar pukul delapan kurang, seperti jam kantor pada umumnya. Tugas di stase radiologi termasuk stase santai, apa lagi di minggu pertama, hanya mengamati dan bantu-bantu sedikit di ruang jaga. Jadi, benar-benar santai. Sebanding dengan otaknya yang hari ini malas mikir karena banyaknya masalah pribadi. Sampai datang ke rumah sakit saja berasa tidak nyaman sama sekali gegara matanya masih sedikit sembab efek nangis-nangis kemarin.
"Ra, lo kenapa? Kusut banget tuh muka, kurang tidur?" tanya Jeje jeli.
"Concealer gue nggak mempan kayaknya, kentara banget mata gue ya?" jawab Rania balik bertanya.
"Lo habis nangis? Cie ... hidup sudah berat jangan banyak drama. Koas aja udah berat bikin stress, masih ada beban mental kehidupan lainnya."
"Gue pusing Je, pengen pergi yang jauh, butuh jubahnya Harry Potter buat ngilang, atau sejuta pintu ajaib doraemon biar ke mana aja yang bikin gue tenang," ujarnya dramatis. Menjatuhkan kepalanya pada meja di depannya.
"Berat banget masalah hidup lo, ya? Apaan? Mau dijodohkan kah?" tebak Jeje sok tahu.
"Bukan, lebih dari itu masalahnya. Ini tentang hidup dan mati gue."
"Ceileh ... hidup dan mati, gegayaan banget bahasa lo, apaan sok curhat!"
"Nanti ya, kita lagi kerja kali. Fokus, Boo!" ujarnya heboh sendiri di ruang foto copy.
"Wao ... ramai ya Boo, stase ini," kata Jeje bertambah semangat. Stase santai dan yang bertugas ketambahan baru tiga orang jadi total delapan.
"Asyik ... punya kawan baru, seronok!"
"Mayan nambahin koleksi cowok di kelompok kita. Yang jomblo cukup lah buat hiburan."
"Beh ... senengen lo itu mah, lebih muda kayaknya."
"Gas ... mari kita ramaikan grub kita."
Suasana semakin akrab saat bertugas, minggu pertama benar-benar santai. Bahkan di lain kesempatan Rania bisa ngadem di kamar koas cewek sambil mesen makanan gegara nggak ada pasien sama sekali.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa bersantai sejenak di tengah aktivitas yang melanda. Pesen makan beb," ujar Asa.
"Yoi ... mau pada makan apa?"
"Gue bakmi Pak Mitoha, enduls mantep banget."
"Samain deh, enak kemarin coba sekali."
"Wokeh!"
Sambil menunggu makanan datang, si Asa yang moody sibuk ngevlog kegiatan bestie hari ini.
"HP lo bunyi, abang grab kayaknya." Rania meneliti ponselnya, mendapati pesanannya sudah sampai di sekitar rumah sakit.
"Ambil lo, Sa, sekalian olahraga," ujar Rania leha-leha.
"Uang-uang kumpulin woi, gue ke depan dulu ambil pesanan."
Rania dan Jeje menyodorkan uang untuk membayar pesanan. Mereka menunggu di ruang kamar koas sembari bersantai.
"Mujur banget ya, kita bisa santai gini. Semoga hari ini tidak ada pasien orangnya pada sehat- sehat semua. Aamiin."
Asa datang sembari membawa pesanan di tangannya.
"Makan-makan, nikmati hari ini dengan penuh suka cita."
Asa, Jeje, dan Rania menikmati makan siang mereka dengan tenang. Enaknya di stase minor itu, semua akan terbebas dari jam jaga malam, jadi sorenya setelah kelar nugas mereka bisa bebas. Ups ... nggak bebas juga sih, karena masih ada tugas dan ujian juga, tetapi tentunya lebih santai karena jam terbangnya juga tidak sehectic di stase mayor.
"Kelar nugas anak-anak mau pada ke GOR mau ikut nggak?" Asa menginterupsi.
"Siapa aja yang ikut? Boleh juga sepertinya asyik."
"Shipp, ikut ya?" pekik Jeje girang.
"Mumpung ada kesempatan buat olah raga kali, sambil menyelam minum air, sekali jalan tepe-tepe sama residen."
"Mau pada ikut kah?"
"Iya, banyak kok yang udah buat semacam janji gitu."
"Ish asyik ... bakalan ramai."
"Gue masih mikir, nanti nyusul kali ya?" Rania terlihat bimbang. Orang tuanya mau datang ditambah masalahnya sendiri lagi butuh perhatian, sepertinya mainnya yang sudah gadis itu rindukan harus dipending dulu.
"Iya Mas, ada apa?" jawab Rania santai di ujung telepon.
"Ke ruangan aku, Dek, sekarang ya?" pinta pria itu seperti biasa tak bisa entar-entar dulu.
"Kamu masuk? Aku lagi makan, lagian ini jam kerja, nggak bisa nanti aja."
"Kamu lagi nyantai kali Dek, di kamar koas, bisa kali ke ruangan aku."
"Aku habisin makanan aku dulu ya, kadung udah dibuka, laper Mas."
"Bawa sini Dek, temenin aku makan siang. Bisa kan?"
Rania menghela napas panjang, menutup handphonenya lalu segera mengemas makanan yang baru saja beberapa sendok masuk ke mulutnya.
"Gaes gue minggat bentar ya, ada panggilan," pamit Rania jelas membuat kedua sahabatnya merasa aneh.
"Ke mana Ra, makanan lo belum habis," tanya Jeje penuh selidik.
"Nggak pa-pa? Aku udah rada kenyang kok, tinggal bentar."
Rania menuju ruangan Dokter Rayyan, terlihat pria itu tersenyum saat melihat pujaan hatinya masuk setelah mengetuk pintu.
"Kenapa ngantor Mas, kalau sakit tuh istirahat saja," ujar Rania tak setuju.
"Aku tidak bisa tenang bila sehari mataku tak bisa melihat dirimu, sini Dek, temani aku makan siang."
"Kamu udah enakan, ini masih terlihat lebam." Rania meneliti luka di wajah pria itu.
"Sedikit sakit, tapi langsung sembuh kalau kamu yang pegang." Rayyan menarik pinggangnya hingga gadis itu terjerembab di atas pangkuannya.
"Kamu udah nggak marah?" tanya gadis itu sembari menatap wajah kekasihnya yang kini tengah menatapnya lekat.
"Aku kesal, tapi aku nggak bisa marah sama kamu. Aku benci, tapi aku nggak bisa nggak lihat kamu. Tolong ngertiin aku, aku begitu karena aku sayang sama kamu," ucap Rayyan serius.
Rania tersenyum sembari meraba rahangnya yang kokoh.
"Aku juga sayang sama kamu, tapi aku nggak suka sama sikap kamu yang emosian. Bisa dikurangi?"
"Bakalan ilang kok, apa lagi kamu nurut gini, aku nggak mungkin marah-marah tanpa sebab."
"Udah, nggak usah dibahas, nanti ketemu sama papa ya? Mereka ada di rumah eyang. Baiknya hubungan kita gimana?"
"Iya, nanti aku datang, sama mama dan papa juga 'kan? Papa sampai sewa pengacara takut Jo nuntut aku, aku khilaf banget, nyatanya separah itu, untung nggak mati."
"Astaghfirullah ... kamu ngeri kalau cemburu, nggak ngerti lagi deh dengan perkara ini."
"Maaf, terlanjur sayang, dia mulai duluan."
"Hmm, aku tahu kamu kepancing emosi karena perkataan Jo, tapi baiknya minta maaf, supaya tidak berbuntut panjang."
"Nggak mau, dia yang salah kenapa aku harus minta maaf."
"Aku tahu Mas, bisa dengan cara smooth nggak, kita mau nikah loh, kalau berbuntut panjang apa ya nggak malah terancam gagal rencana kita."
"Jadi, aku harus minta maaf dulu gitu."
"Iya, sebaiknya begitu, Jo terlalu parah, kamu apa ya nggak mikir tuh orang bisa mati kalau dipukulin sampai segitunya."
"Khilaf, Dek, harap maklum. Dia mancing-mancing duluan."
"Kamu bisa lebih sabar, kamu tuh bikin aku takut."
.
Tbc
.
Sambil nunggu karya ini up mampir ke cerita teman aku yuk