Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 67


"Ada satu lagi yang belum kamu sebut, kamu ngerasa ini nggak mungkin, makanya nggak kamu sebut."


Degg


Rania mulai menerka-nerka, menatapnya dengan wajah tak percaya.


"Kalau kamu mendiagnosa suatu kejadian, jangan pernah menghapus kemungkinan diagnosa hanya karena kamu belum pernah lihat, kenyataannya bagaimana?"


Rayyan memeriksa salah satu bagian usus yang lainnya, yang menjadi sumber masalah atau penyebab pasien tersebut kesakitan.


"Ascaris Lumbricoides!" Rania menjerit.


"Forcep!" balas Rayyan spontan.


Rania dengan sigap memberikannya. Perempuan itu menatap dengan raut muka yang berbeda. Antara tegang, tidak percaya, geli, dan semua rasa. Namun, menatap Rayyan yang dengan begitu tenang menangani operasi ini, membuatnya benar-benar menilai dari segi sisi yang berbeda. Dokter Rayyan terlihat begitu keren, tanpa sadar ia menatapnya takjub.


Dengan ketenangan luar biasa, Rayyan mengangkat makhluk berlendir itu dari tempatnya bersarang, lalu menaruhnya dalam mangkuk stainless. Parasit itu meronta-ronta, dan bergerak bebas seperti baru terbebas dari penjara.


Rania sampai begidig ngeri menatap mahkluk sumber penyakit itu. Sementara Rayyan hanya meliriknya dengan gemas. Kembali memeriksa usus bagian lainya, memastikan semua bersih dari parasit itu.


"Kemungkinan masih ada larva dan telur yang tidak bisa kita deteksi, kita tetap perlu kasih obat cacing pasca operasi," titahnya cukup tenang.


"Alhamdulillah, kamu jahit ya Ra, yang rapih!" Perintah Rayyan dengan senyuman mengulas di bibirnya.


Rania langsung mengiyakan, rupanya ketegangan belum usai bagi gadis itu sebab ia harus fokus menutup sayatan-sayatan pasca operasi tadi.


Semua mata saat ini tertuju pada Rania, dan tentu saja membuat perasaan Rania semakin jedag jedug dengan posisinya. Tegang, tetapi juga kesempatan yang luar biasa karena kali ini diberikan kesempatan untuk menjahit pasien.


"Jahitan itu signature kamu!" katanya sembari menatapnya lekat lengkap dengan senyuman lembut. Membuat rasa percaya diri Rania bertambah.


Bisa jadi, senyumnya adalah semangat bagi keduanya. Menambah rasa percaya diri dan pastinya semangat untuk harinya.


"Senyumnya mengalihkan duniaku," batin Rania terbayang-bayang setelah keluar dari ruang bedah.


"Lain kali kalau ditanya itu fokus, Ra, jangan natap kegantengan aku yang jelas paripurna. Kamu masih utang penjelasan!" bisik Rayyan sembari berlalu.


"Hais ... bodo amat lah, pusing gue!" batin Rania cuek. Seakan tak mengindahkan kata-kata Rayyan, perempuan itu berlalu begitu saja.


Setelah selesai operasi yang pertama, Rania diperintah dokter Rayyan untuk menemani operasi lagi hari itu dengan kasus yang berbeda. Di ruangan yang berbeda dan dengan ketegangan yang berbeda. Tidak banyak pertanyaan hanya mengikuti dengan wajah sigap dan mengesampingkan semua serangkaian urusan pribadi yang menyangkut dengan dua manusia itu.


Hari yang cukup melelahkan bagi Rania dan juga Rayyan. Selepas tugas pekerjaannya selesai, gadis itu memutuskan untuk pulang dan menutup petang ini dengan alhamdulillah.


Rayyan Calling


Rania hanya menatap malas layar ponselnya tanpa minat. Walaupun beberapa kali dipertemukan dengan posisi yang sudah tidak bersitegang, namun rasanya Rania masih kesal dan juga terbesit balas dendam. Balik cuek dan dingin di luar jam kerja.


Yeach ... terlepas perasaannya saat ini sekarang seperti apa, yang jelas Rania kesal kalau tiba-tiba marah, tiba-tiba dingin, tiba-tiba sayang. Rania jelas merasa tak dihargai sama sekali, dan protes itu sering kali ia tekan saat-saat harus seprofesional mungkin dalam pekerjaan.


Rania mengabaikan beberapa kali telepon Rayyan yang cukup mengusik telinganya, namun, ia tak peduli. Pulang ke kost dengan sisa energi hari ini.


Perempuan itu baru saja mandi, memakai pakaian rumahan dan berniat santai sejenak merebah pada ranjang ketika ketukan pintu kostnya menggema. Rania membiarkan saja beberapa saat, namun semakin kencang. Membuat perempuan itu kesal, dengan malas menuju pintu dan membukanya perlahan.


"Siapa sih, berisik banget!" gumam Rania jengkel.


"Hai, Ra!" sapa Rayyan menghallo Rania yang menatapnya malas.


"Ngapain ke sini? Pulang sana, aku mau istirahat!"


Rania mencebik kesal, setelah mengusir dengan nada ketus, perempuan itu berniat menutup pintunya kembali, namun Rayyan menahan dengan satu kakinya.


Malas meladeni karena pasti berujung ngeyel dan menyebabkan kesal, perempuan itu menyorot sengit pria yang kini tengah duduk santai di atas ranjangnya dengan muka santai. Pria itu datang dengan muka segar seperti habis mandi dan pakaian rapih namun santai, menatap Rania dengan teliti.


"Seksi!" celetuk Rayyan menatap Rania yang bermuka masam. Berdiri enggan dengan melipat kedua tangannya.


"Mesum!" timpal Rania menimpuk wajah pria itu dengan boneka di sebelahnya, karena kesal melihat matanya yang jelalatan.


"Pulang, dasar domes! Menyebalkan!" Rania terus menimpuki tubuh Rayyan yang terdampar di atas ranjang dengan kesal. Sementara pria itu mendrama kesakitan.