
Rupanya Rania juga tak menghindar, gayung pun bersambut. Perempuan itu bergeming saat Rayyan bergerak semakin dekat, dekat, hingga tak ada jarak diantara mereka. Malam itu, di ruang tamu, mereka saling berbagi rasa rindu. Menyatukan napas mereka menjadi satu. Rania juga menyambutnya begitu minat.
Kedua telapak tangan Rayyan menangkup sisi wajah Rania saat lidah pria itu mulai tergelincir ke dalam mulut perempuan itu. Rania balas merem@s ujung kausnya. Keduanya begitu menikmati pergumulan papila mereka. Terlena, seakan semua lelah tercurahkan di sana, dahaga itu terisi tetesan air hingga membuatnya merasa begitu damai lagi sejuk. Sedalam itu kah pria itu memahami.
Pria itu memperlambat gerakan mereka, membimbing Rania, mengeksplor hingga jauh. Menjanjikan french kiss yang panjang, mendebarkan dan penuh gairah. Seperti layaknya pulpen dan tinta yang berkesinambungan, terpaut saling mengisi dan membutuhkan. Menjadikan malam mereka penuh kenangan panas yang menggelora.
Keduanya saling memberi jarak dalam napas yang memburu. Tangan pria itu mengelap sisa saliva gadisnya pada ujung bibir dengan ibu jarinya. Rania menunduk salah tingkah, ingin rasanya menyembunyikan wajahnya yang jelas-jelas merona.
"Apa yang kamu rasakan saat ini? Aku tidak akan berhenti sebelum kamu yang menghentikannya."
Rania membuang muka bingung, "Nggak tahu, mungkin sama denganmu," jawabnya lirih.
Rayyan tersenyum, mengacak lembut puncak kepalanya dengan sayang.
"Istirahatlah, aku akan pulang, tadi udah sempat pamit sama eyang. Aku kira tadi tuh mimpi, eh ternyata beneran nyata. Aku bahagia banget malam ini," ujar pria itu menatap penuh sejuta cinta.
Rania jelas galau, fiks hatinya sudah terbagi antara Jo dan Rayyan. Katakan saja perempuan itu berkhianat, tetapi sungguh itu bukan yang ia mau. Ia hanya tidak punya alasan yang tepat untuk memutuskan hubungan mereka yang sebelumnya adem-adem saja.
Gadis itu mengangguk patuh, lambaian tangan kanannya mengiringi kepulangan kekasih gelapnya. Setelahnya kembali ke kamar dengan perasaan tak menentu. Bahkan saat membuka laptop dan mulai mengerjakan tugas referat, Rania sama sekitar tidak fokus, bayangan dan rasa bibir mereka seakan membekas sampai ke hati pemiliknya.
"Ray, aku bisa merasakan cintamu tulus, hanya saja kita berada dalam persimpangan, karena sesungguhnya hatiku telah dimiliki orang lain, walaupun kini separuhnya bertaut padamu. Entahlah, aku sendiri semakin bingung, dan tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini kisah kita. Maafkan aku Jo," gumamnya sembari merebah di atas kasur, lalu terlelap begitu saja dengan bayangan mereka berdua.
"Pagi Eyang," sapa Rania semangat empat lima. Menemui neneknya di ruang makan.
"Pagi cucu Eyang, semangat sekali, Ra? Ngomong-ngomong itu bekal buat siapa?"
"Buat Rania aja Eyang, makasih udah bantu siapin. Rania berangkat ya Eyang," pamit gadis itu melepas salim hormatnya.
"Baik-baik cucu Eyang, semoga selalu dalam lindungan-Nya."
"Assalamu'alaikum!"
Motor Rania melaju dengan kecepatan sedang. Hari ini gadis itu membawa si kuda besi yang menganggur di rumah Eyang, supaya kejadian semalam tidak terulang. Bisa pulang sendiri tanpa alasan. Gadis itu menuju parkiran, menitip roda duanya di parkiran khusus petugas Rumah Sakit. Baru berjalan melewati lobi depan. Menuju ruangan Rayyan sebelum mengikuti apel pagi.
Seperti biasanya, Rania mengetuk pintu ruangan Dokter Rayyan sebelum masuk. Tentu saja pria itu belum datang, dan Rania menaruhnya di meja saja. Saat gadis itu hendak berbalik, pria itu datang menyembul masuk dari arah luar.
"Pagi Dok!" sapa Rania ramah. Ia berusaha bersikap biasa saja dan melupakan kejadian semalam yang membuatnya susah tertidur karena terus terngiang.
"Pagi, Ra, makasih ya?" jawabnya mengulum senyum melihat Rania yang berjalan pamit melewatinya.
"Ra!" panggil Rayyan saat Rania tepat berjalan di sampingnya. "Semangat kerjanya sayang!" bisik pria itu sembari mengacak puncak kepalanya dengan sayang.
"Oke, siap Dok!" jawab Rania lirih sambil mengulum senyum.
Rayyan langsung menempati kursi kebesarannya, menyantap sarapan pagi itu dengan semangat empat lima. Sementara Rania bertugas di IGD. Seperti biasa kesibukan tak berkesudahan saat banyaknya pasien yang datang dengan berbagai keluhan.
"Kemarin ikut operasi sampai jam berapa, Ra?" tanya Tama kepo.
"Setengah delapan kalau tidak salah, lumayan menguras tenaga dan otak. Kalian siap-siap aja dipanggil saat jaga di IGD sekalipun. Pastinya siap-siap juga karena konsulen bakalan tanya-tanya di ruang OK."
"Jadi deg degan, tapi pastinya banyak pengalaman dan ilmu yang didapat, kalau kena tegur ya didengerin aja mungkin memang kitanya yang salah."
"Kemarin 'kan hectic banget karena memang ada banyak pasien yang masuk karena kecelakaan."
"Lumayan wah ya, Beb, dan amazingnya konsulenya pada ikut terjun semua yang on call."
Saat mereka tengah berbincang menunggu pasien datang, tiba-tiba terdengar suara roda blankar masuk bawa pasien baru ke IGD. Seketika Rania dan Dokter Muda lainya bersiap memeriksa pasien.
"Jo!"