
"Kita mau ke mana? Kok beda arah? Aku mau pulang ke apartemen," ucap Rania mulai tidak nyaman.
"Pulang ke rumah kita Dek, kamu pikir aku bakalan ngebiarin kamu balik lagi ke apartemen? Bertetangga dengan mantan kamu? Mimpi aja, nggak akan aku biarin!" jawab Rayyan tegas.
"Kita itu mau nikah, Mas, kamu kenapa nggak bisa percaya sama aku? Tempat itu juga kamu yang milihin, harus banget ya aku ngelakuin semua yang kamu mau, semua yang kamu inginkan. Apa kabar nanti kalau beneran nikah, aku nggak tahu deh, mungkin kehidupan aku nggak asyik lagi."
Rayyan yang kesal mendengar kata-kata Rania langsung meminggirkan, menghentikan laju mobilnya. Menyorot tajam pujaan hatinya yang menurutnya selalu menggampangkan.
"Aku, lakuin ini karena aku sayang sama kamu, tetapi kenapa aku ngerasa di sini kamu kaya nggak minat nikah sama aku, aku udah sabar banget loh dari kemarin, kamu maunya gimana? Hmm?" tanya Rayyan dingin.
Rania bergeming, menatap dalam netranya. Matanya berembun tanpa banyak kata, bukan masalah tidak cinta, namun ia merasa sangat tidak bisa bergerak dalam hubungan ini, tertekan lebih tepatnya. Rania seperti tidak mempunyai ruang gerak untuk dirinya. Terlalu diposesifin dan juga pencemburu akut itu rasanya sangat tidak nyaman. Gadis itu lelah, lelah dengan hatinya lebih tepatnya.
Pipinya basah, membuang muka ke arah lain. Bibirnya tak sanggup berucap, lelah dengan semua yang ada.
"Oke, aku beri kamu waktu buat berpikir, aku nggak akan maksa lagi, aku nggak akan nuntut hubungan ini lagi kalau malah buat kamu nggak nyaman. Tapi tolong, jangan hancurkan perasaan orang-orang yang sudah berjuang banyak dan tulus dengan semua ini. Sorry, Ra, aku cuma ngerasa kamu nggak anggap aku penting, dan aku nggak tahu ini perasaan aku aja atau emang gitu, tapi semoga perasaan aku aja."
Sebenarnya Rayyan tak sampai hati mengatakan itu, ia tak menyangka jika sikapnya yang terlalu penyayang itu malah menyebabkan calon istrinya tidak nyaman. Gadis itu terus diam, menangis seorang diri, membuat pria itu jengkel tetapi juga tak sampai hati. Ingin sekali membawa dalam pelukannya, namun bahkan menatap dirinya pun Rania seakan enggan.
"Kamu nggak mau ngejelasin apa-apa? Atau jangan-jangan benar ya prasangka aku, atau lebih tepatnya kamu masih mengharapkan hubungan itu dengan Jo, sampai aku ngerasa kamu nggak rela banget untuk jauh demi menjaga perasaan aku. Gitu ya?"
Hening untuk beberapa saat, pria itu menatap perempuannya yang tak ingin bersuara sedikit pun. Hatinya mendadak begitu kesal.
"Brengsek!" Rayyan memukul bunderan stir, menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Kesal, entahlah setan apa yang merasuki dirinya, ia begitu gemas dengan makhluk pms satu ini.
Rania sampai terjingkat kaget, pria itu benar-benar menyeramkan. Bahkan gadis itu tak berani menatap matanya, ia semakin galau untuk melangkah lebih jauh ke depan.
"Oke, fine!" jawab Rayyan sembari menstater mobilnya kembali. Menginjak pedal gas dengan rasa campur aduk. Pria itu melajukan mobilnya begitu kencang, membuat Rania ketakutan setengah mati.
"Berhenti!" pekik Rania histeris.
"Berhenti! Aku bilang berhenti!" jerit Rania penuh emosi.
Selang beberapa detik, pria itu langsung mengerem mobilnya, membuat bunyi ban sampai berdecit bergesek dengan aspal. Rania hendak keluar, namun Rayyan mencekal lengannya.
"Lepas!" ucap Rania dingin.
"Kamu mau ke mana? Ini sudah malam dan jalanan sepi, di luar bahaya!"
"Di sini lebih bahaya!"
"Aku kaya gini karena kamu Ra! Karena kamu!" bentak Rayyan meninggikan suaranya.
"Maaf, aku emang nggak pernah bisa ngertiin perasaan kamu, kamu boleh menyerah untuk hubungan ini. Lepas!"
"Nggak, kamu ngomong apa sih? Kamu mau ninggalin aku? Astaga Ra!" Rayyan benar-benar habis kesabaran. Menatap gadisnya tajam dengan kilatan yang berbeda.
"Lepas! Sakit!" lirih Rania mengaduh.
Pria itu bergeming, menyorot dingin lalu mengikis jarak. Mengunci tubuh Rania tanpa. Gadis itu jelas takut, ia seperti melihat dua sisi yang berbeda, gelisah, ingin berteriak namun nyatanya tak seberani itu. Hanya air mata yang berdesakan mewakili perasaan kecewanya.
"Aku minta maaf, udah bikin kamu takut," ucap pria itu menghapus buliran bening yang berdesakan keluar. Menarik Rania dalam pelukan. Membawanya dalam dekapan.
"Maaf, Ra! Tolong jangan benci aku!" lirih pria itu memeluk begitu erat. Meleburkan semua kegundahan hatinya dalam pelukan gadis itu.
Rania terdiam masih tergugu dalam pelukannya. Entahlah, sikapnya yang kadang begitu menyayangi dan memiliki, membuatnya malah bagai terpenjara dalam hubungan ini.
"Udah, jangan nangis lagi Dek, mata kamu bengkak!" tegur pria itu menatap iba. Emosinya telah mereda, menatap teduh matanya yang sembab.