
Allah selalu punya skenario terindah untuk hamba-Nya. Manusia hanya perlu bersabar dan ikhlas dalam menanti. Serapih apapun sukma itu merancang, takdir yang akan menentukan. Menikah itu pilihan, tetapi mencintai dan jodoh itu takdir. Seseorang bisa berencana menikah dengan siapa, tetapi tidak bisa rencanakan cinta itu untuk siapa.
Seingin apa pun pria itu mengikatnya, nyatanya masih harus bersabar untuk hari yang mungkin akan indah untuk mereka. Karena rencana-Nya pasti yang paling mulia.
[Jangan datang hari ini, keluargaku sedang berduka, maafkan aku, Mas, tunda lah sebentar saja, aku mencintaimu]~ my love
Rayyan menatap layar ponsel berderet huruf yang cukup membuat hatinya galau. Sedikit kecewa, namun memang keadaan yang kurang tepat. Pria itu menghubungi beberapa kali ponsel Rania, namun tak kunjung diangkat. Ia jelas panik, sedikit banyak telah dipersiapkan. Ia juga sudah menghubungi orang tuanya untuk hadir ke Bandung walaupun pada akhirnya hanya silaturahmi bersama sebab tidak memungkin untuk menghaturkan kata lamaran hari ini.
"Sayang, please ... angkat telepon aku," gumamnya gusar.
Rania yang saat itu tengah menemani ibunya dalam kubangan duka minggir sejenak mengangkat telepon dari pria yang sangat ingin berkabar dengannya.
"Hallo, Mas, maaf baru bisa angkat, kamu baik-baik aja kan?" jawab Rania di ujung telepon.
"Apa yang terjadi? Seharusnya aku yang bertanya begitu? Kamu bikin aku cemas dan khawatir. Tolong jangan abaikan panggilan dan pesanku," jawab Rayyan dengan nada layu.
"Kakek semalam kritis Mas, jatuh dari kamar mandi. Paginya udah nggak ada, kakek meninggal Mas, keluarga sedang berduka, aku minta maaf dengan rencana kamu. Aku mohon kamu bisa ngerti dan sabar," jelas Rania disertai isak tangis.
"Apa? Kakek kamu meninggal? Innalillahi wainnailaihi rojiun ... semoga husnul khotimah. Aku segera ke sana, nggak pa-pa sayang ini musibah," jawab Rayyan langsung bergegas begitu menutup teleponnya.
Rayyan langsung bertolak ke rumah calon mertuanya. Semalam ia baru saja mengantar Rania dengan rencana hari ini yang begitu indah, namun karena keluarga sedang dilanda musibah kedatangan Pak Wira dan Bu Wira siang hari itu pun menjadi pertemuan melayat dan juga sekaligus pertemuan silaturahmi perdana yang cukup mengharukan.
"Tante, Om," sambut Rania saat kedatangan calon mertuanya. Gadis itu menyalim takzim, terlihat matanya masih sembab.
"Mama kamu mana sayang, Tante mau ketemu," ujarnya mengikuti Rania.
"Ada di dalam Tante, mari Tante." Terlihat di ruang tengah sedang untuk mengaji, dengan mama Inggit ikut bergabung di sana.
"Aamiin, terima kasih Bu, maaf di luar prediksi manusia," sesalnya sendu.
"Sangat mengerti, justru kami yang minta maaf, datang di saat waktu yang tidak tepat," balas Bu Wira maklum.
Usai berbincang sedikit, Bu Wira mengambil wudhu dan ikut mengaji serta bersama-sama ikut mensholati jenazah sebelum dibawa ke peristirahatan terakhir.
Sementara Pak Wira bersama Rayyan terlihat bergabung dengan Pak Biru dan juga keluarga besar. Semua ikut berbondong mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir. Mereka dalam satu majlis yang sama, namun hanya bisa saling menatap dalam kejauhan. Sesekali pria itu melempar senyum memberi semangat untuk kekasihnya yang terlihat begitu kehilangan.
Selepas dari pemakaman, Rayyan terlihat masih ikut sibuk di rumah Rania. Sementara kedua orang tua Rayyan singgah sebentar sebelum akhirnya pamit untuk kembali ke Villa. Mereka memanfaatkan waktunya untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang kebetulan berada di kota Bandung. Tak hanya itu, Pak Wira meninjau lokasi langsung tempat yang akan dijadikan rumah sakit di kota Bandung. Kebetulan pembangunan sudah berjalan separohnya, pria itu sekalian sidak ke lokasi.
Sedang di tempat Rania, keluarga masih begitu sibuk kedatangan sanak keluarga yang datang melayat. Hingga menjelang sore, terlihat Rayyan menemuinya di ruang tengah.
"Dek, aku pulang dulu ya, mungkin aku langsung ke Jakarta. Kamu baik-baik ya di sini, aku menunggumu," ujarnya sungguh-sungguh.
"Iya Mas, maaf tidak bisa mengantarmu, hati-hati di jalan. Sampai ketemu di Jakarta. Love you," ucapnya yang membuat pria itu pulang dengan membawa senyuman.
"I love you too, selamanya," balasnya dengan senyuman mengiringi pamit mereka.
Rayyan kembali ke Jakarta tanpa Rania, terhitung semenjak hari itu keduanya tidak pernah absen memberi kabar. Tiga hari tidak bertemu rasanya begitu lama, begitulah bila hati sudah terpaut cinta. Hari-harinya terasa indah dan hampa bila tidak berjumpa.
Setidaknya walaupun gagal bertunangan, tapi semoga tidak gagal menikah, doa pria itu saat perjalanan pulang. Selamat berjuang untuk waktu setahun yang tersisa, mereka akan menjalani penuh warna. Memahami sifat dan karakter masing-masing dari pasangan yang sesungguhnya.
"Kapan balik, izin cutimu sudah habis, apa mau ditambah?" Rayyan tengah melakukan panggilan vidio saat jam istirahat.
"Kalau tidak ada halangan nanti sore, besok udah masuk kok, sampai ketemu besok," jawab Rania melempar senyum.