Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 81


"Udah Mas, baru dibilangin mama, kamu nggak boleh nakal," tegur Rania sembari mengatur napasnya yang nampak tak beraturan.


"Iya sayang, 'kan cuma sebatas ini," jawabnya sembari tersenyum.


"Sabar, aku musti sabar banget nih, ah ... mama sama papa kamu nggak ngerti banget sih!" keluh pria itu sembari menjatuhkan kepalanya pada bahu kekasihnya.


Tangan gadis itu terulur, mengusak lembut rambutnya yang sedikit berantakan. Memberikan semangat untuk pria itu agar bersabar.


"Bisa ah, cuma tinggal beberapa stase lagi 'kan, ya walaupun masih lumayan sih setahun. Kita nggak usah sering-sering ketemuan aja kalau nggak bisa nahan."


"Apaan sih, mana bisa, udah terlanjur sayang, terlanjur nyaman. Aku sabar kok, kita taklukkan setahun ini bersama-sama, semoga tidak ada halangan sampai koasmu selesai. Walaupun sedikit khawatir sih!"


"Khawatir kenapa? Kamu punya pengalaman buruk?"


"Dulu waktu aku masih kuliah, aku punya cewek, dia adik tingkat awal aku, kami kenal saat ospek, kami saling mencintai satu sama lain, berjalan hingga aku lulus. Cinta kita direstui orang tua, sempat tunangan dan ke jenjang serius, tetapi sebuah insiden akhirnya memisahkan cinta kita. Sahabat aku sendiri yang bikin mantan aku hamil, dan itu jujur membuat aku drop dan sakit hati luar biasa. Sampai aku bisa nyembuhin luka aku sendiri, aku mulai berlabuh pada seorang gadis, usianya terpaut 6 tahun waktu itu. Namun jarak memisahkan, LDR."


"Dikhianati juga?" tanya Rania menyimak.


"Kamu tahu nggak mantan aku yang waktu itu kita kondangan?"


"Iya, inget, masih ingat banget malah, kak Bintang 'kan?"


"Iya Bintang, aku dan dia terpaksa LDR, London - Indonesia, hubungan kita tuh gimana ya, sama-sama suka tetapi kaya tidak memiliki. Bintang dan aku punya ikatan, tetapi kita tidak sejalan. Bahkan beberapa kali mengungkapkan untuk berjalan masing-masing bila menemukan jodohnya. Masih begitu berharap waktu itu, mungkin memang tidak jodohnya kedua orang tua kita perlahan tidak merestui. Masih terus berusaha bertahan."


Pria itu menarik napas dalam, rasanya masih sedikit perasaan nyeri yang tertinggal bila flashback dengan percintaannya dulu. Namun biarlah menjadi kenangan sebagai pelajaran.


"Waktu itu aku masih santai, sambil kuliah lagi ambil spesialis. Walaupun butuh waktu lama, tetapi setidaknya aku bisa sedikit menyamarkan kegalauan hatiku yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Sempat beberapa ketemu, setelah mantan pulang study tapi tidak ada kejelasan. Hubungannya baik, namun saling membatasi dan benar-benar menjaga. Semakin ke sini, Restu mama sama keluarga Bintang tak kunjung didapat. Yah akhirnya kamu tahu sendiri endingnya kaya apa. Tapi aku berusaha ikhlas."


"Untung kamu masih waras, dan yang nggak untungnya itu aku, ketemu sama kamu dalam keadaan galau. Apakah aku pelarian saja karena hati kamu lagi kosong?"


"Nggak Ra, astaghfirullah ... jauh sebelum aku ketemu sama kamu, cukup lama aku jomblo, sampai berkali-kali mama mau ngenalin aku sama beberapa jenis perempuan, tapi aku nggak minat. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kita, pertama kali sih kesel, udah salah, ngegas ngomel di jalanan, untung cantik. Hehehe."


"Ish, kamu lah yang ngeselin, gara-gara kamu aku ketinggalan kelompok dan bimbingan. Kesel banget waktu itu, untung ada Jo yang jemput."


"Eh, pahlawan kena tikungan!" ejeknya kesal.


"Sekarang 'kan nggak? Punya Rayyan seorang, walaupun masih belum dapat lebel halalnya sih, semoga bisa disegerakan. Aamiin."


"Aamiinin dong, Dek Rania sayang. Kamu sebenarnya pengen cepet jadi Nyonya Rayyan nggak sih?"


"Biasa aja," jawab Rania datar.


"Ngomong gitu lagi, aku ci**k ya, ngeselin banget."


"Mesum Bang, adek takut," selorohnya mendrama.


"Kalau tahu gini, mungkin aku garap aja ya pas waktu kamu pingsan, aku sampai tahan napas lihat tubuh polosmu.Hahaha."


"Astagfirullah, kamu ternoda berarti ya Mas?"


"Aku anggap saja kamu pasien aku, anatomi tubuh manusia kan udah sering juga aku lihat. Aku tanamkan sugesti itu biar nggak nakalin kamu, walau nakalin sedikit sih!"


"Belum dihapus? Kamu tuh kriminal, penjahat cinta!"


"Udah kok, udah aku hapus semuanya, takut nggak kuat iman, nggak butuh fotonya lagi lah orangnya aja udah mau kok."


"Ih ... geer banget, kamu tuh terlalu percaya diri, ngeyelan dan ngeselin. Nggak ngerti kenapa bisa terdampar bersamamu."


"Berarti kamu tuh sudah terjerat pesona dokter tampan, Ra, Rayyan Akfarezel Wirawan. Akuin dong ...."


"Tahu ah, jalan Mas? Cari makan dulu sebelum ke penginapan, lapar."


"Nanti kamu ikut nginep ya? Biar Papa Al marah, dan Mama Inggit murka. Kita langsung dinikahkan. Haha, Ngarep!"


"Besoknya kamu langsung tereliminasi, gagal jadi calon mantu idaman. Aku bisa digorok sama papa, diceramahin sama mama tujuh hari tujuh malam."


"Aku pasti bakalan menunggu dengan sabar, tolong jaga cinta kita ya? Sampai kamu halal bagiku."